
1.657 Kasus TBC Terdeteksi di Balikpapan
- Pemkot Bersama IDI dan PKK Gencarkan Kelurahan Siaga TBC
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan terus memperkuat penanganan penyakit Tuberkulosis (TBC) melalui kolaborasi lintas sektor.
Terbaru, Dinkes menggelar Sosialisasi Pencegahan TBC sekaligus pembentukan Kelurahan Siaga TBC bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Balikpapan dan Tim Penggerak PKK Kota Balikpapan, Sabtu (17/10/2026).
Berdasarkan data resmi Dinkes Balikpapan, cakupan kasus ternotifikasi di Balikpapan saat ini baru mencapai 39,6 persen (1.657 kasus) dari target nasional sebesar 90 persen.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kota Balikpapan, dr. I Dewa Gede Dony Lesmana, menjelaskan dari total kasus terdeteksi tersebut, sebanyak 78 persen pasien telah mendapat akses pengobatan (target 95 persen).
“Adapun Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate) tercatat berada di angka 71,3 persen dari target 90 persen, sementara angka kematian akibat TBC di Balikpapan mencapai 88 kasus,” katanya.
Selain itu, cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) masih berada di angka 6,9 persen dari target 80 persen.
Dewa menyebut bahwa TBC disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang menular melalui udara (airborne).
BACA JUGA:
Waspada Lonjakan Kasus, IDI Beberkan Strategi Pencegahan TBC di Balikpapan - ibukotakini.com
"Meski angka kematian tercatat 88 kasus, TBC dipastikan bisa sembuh total asalkan pasien patuh menjalani pengobatan minimal 6 bulan tanpa terputus," tegas dr. Dony.
Dinkes mengimbau seluruh pasien TBC untuk disiplin menerapkan kunci pengobatan 3T:
- Tepat Waktu: Diminum setiap hari pada jam yang sama secara konsisten.
- Tepat Dosis: Jumlah obat disesuaikan dengan berat badan pasien dan tidak boleh dikurangi sendiri.
- Tepat Terus: Diminum terus-menerus selama minimal 6 bulan hingga dinyatakan sembuh total oleh dokter.
Pentingnya Pengawas Menelan Obat (PMO) dan Kader Kelurahan
Melihat cakupan pengobatan yang masih perlu ditingkatkan, kehadiran Pengawas Menelan Obat (PMO) menjadi krusial. Pengobatan jangka panjang sering membuat pasien merasa jenuh, mual, atau khawatir akan efek samping ringan seperti urine berwarna kemerahan.
Keluarga terdekat dinilai sebagai PMO terbaik dan benteng pertahanan utama di rumah untuk memastikan obat ditelan secara teratur dan dicatat pada Kartu Berobat.
BACA JUGA:
Ketua TP PKK Balikpapan Nurlena, Ajak Kader Aktif Cegah dan Kenali TBC - ibukotakini.com
Bahaya Putus Obat: Kuman Kebal dan Ancaman Penularan Keluarga
Dinkes Balikpapan memberikan peringatan keras mengenai bahaya menghentikan pengobatan sebelum waktunya. Pasien yang putus obat berisiko mengalami resistensi obat (kuman kebal), sehingga gejala seperti batuk darah dan sesak napas berat dapat muncul kembali.
Selain itu, satu pasien TBC yang aktif dan putus obat berpotensi menularkan kuman kepada 10 hingga 15 orang di sekitarnya dalam setahun, dengan anak-anak serta balita di rumah sebagai kelompok paling rentan.
Dia menambahkan, melalui pembentukan Kelurahan Siaga TBC dan pelibatan kader PKK, Pemkot Balikpapan optimistis dapat menjaring sisa kasus yang belum terdeteksi di lapangan.
“Kegiatan ini sejalan dengan gerakan nasional TOSS TB: Temukan Tuberkulosis, Obati Sampai Sembuh,” pungkasnya. ***
