13.544 Hotspot Muncul di Kaltim, BMKG Ungkap Puncak El Nino
Balikpapan

13.544 Hotspot Muncul di Kaltim, BMKG Ungkap Puncak El Nino

  • BMKG memproyeksikan puncak El Nino akan terjadi pada September dan Oktober
Balikpapan
Muhammad S.J

Muhammad S.J

Author

IBUKOTAKINI.COM - Cuaca ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Nino tahun ini menunjukkan eskalasi yang kian meluas di wilayah Kalimantan Timur. 

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gelombang El Niño kali ini bahkan memecahkan rekor sebagai yang terkuat dalam kurun waktu tiga dekade terakhir.

Ketua Bidang Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Muhsinin, membeberkan bahwa gelombang panas tersebut mendongkrak jumlah titik panas atau hotspot secara signifikan jika dibandingkan dengan fenomena serupa pada 2015 silam yang kala itu merekam 9.793 titik.

"Tren peningkatan itu terlihat jelas dari catatan sepanjang 1 hingga 24 Agustus, di mana jumlah hotspot di Kaltim melonjak hingga menyentuh angka 13.544 titik," ungkap Huda pada Selasa, 25 Agustus 2026.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/karhutla-terjadi-di-balikpapan-594-titik-panas-terdeteksi-di-kaltim

Lonjakan tersebut merepresentasikan kenaikan sebesar 38,3 persen dari periode El Niño kuat sembilan tahun lalu.

"Dan ini masih ada tujuh hari lagi sebelum kita menutup bulan Agustus. Jadi, kemungkinan angkanya akan lebih besar daripada itu," ujar Huda.

Ia menyebut, potensi bertambahnya titik panas masih terbuka lebar lantaran Kaltim belum sepenuhnya berada di fase puncak.

BMKG memproyeksikan puncak El Nino baru akan terjadi pada September dan Oktober mendatang, serta diperkirakan terus membayangi hingga awal tahun depan sebelum perlahan melandai pada Desember, Januari, dan Februari.

"Jadi ini kedepan semakin melandai, tapi di bulan depan kita masih harus terus waspada," tuturnya.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/luas-karhutla-kaltim-tembus-1-357-hektare-balikpapan-dan-kutai-barat-terbesar

Berdasarkan pemantauan satelit, sebaran titik panas terbanyak saat ini terkonsentrasi di sejumlah kabupaten, yakni Berau, Kutai Timur, serta Kutai Kartanegara. 

Kendati demikian, pihak BMKG mengimbau masyarakat agar tidak langsung panik setiap kali mendeteksi kemunculan hotspot.

Huda menambahkan, citra satelit mendeteksi hotspot berdasarkan perbedaan suhu ekstrem terhadap lingkungan sekitar, yang tidak selalu bersumber dari karhutla, melainkan bisa berasal dari aktivitas batu bara maupun pantulan panas atap bangunan. ***