
7,28 Juta Orang Tak Bekerja, Pengangguran Indonesia Tertinggi di ASEAN
- Per Februari 2025 menunjukkan jumlah pengangguran nasional mencapai 7,28 juta orang atau 4,76% dari total angkatan kerja
Tren
IBUKOTAKINI.COM – Indonesia kembali mencatat rekor kurang membanggakan di kawasan Asia Tenggara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 menunjukkan jumlah pengangguran nasional mencapai 7,28 juta orang atau 4,76% dari total angkatan kerja. Angka ini naik sekitar 83.450 orang dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dengan capaian tersebut, Indonesia berada di posisi tertinggi tingkat pengangguran di ASEAN, mengungguli Brunei Darussalam (4,7%) dan Filipina (3,7%). Sementara posisi terendah ditempati Kamboja dengan hanya 0,27% pengangguran.
Penyebab Lonjakan Pengangguran
BPS mencatat, ada sejumlah faktor yang mendorong angka pengangguran di Tanah Air. Di antaranya ketidaksesuaian Keterampilan (Skill Mismatch).
Sekitar 1 juta sarjana menganggur karena kompetensi tak sesuai kebutuhan industri. Lulusan SMK mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni 9,31%. Kurangnya integrasi kurikulum dengan kebutuhan sektor teknologi dan ekonomi kreatif dinilai jadi pemicu utama.
BACA JUGA:
48 Tenant Pamer Produk Lokal di Gebyar UMKM - ibukotakini.com
“Profil angkatan kerja kita masih didominasi lulusan SMA/SMK, sementara partisipasi pendidikan tinggi hanya 1,6%. Ironisnya, pengangguran terbesar justru berasal dari lulusan SMA/SMK,” ungkap Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Muhammadiyah Surakarta, Anton Agus Setyawan.
Selanjutnya, dampak Digitalisasi dan Efisiensi Perusahaan
Otomasi dan layanan digital mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor perbankan, manufaktur, dan ritel. Sepanjang awal 2025, 24.036 pekerja tercatat terkena PHK akibat restrukturisasi dan tekanan ekonomi.
Di samping itu, pertumbuhan Angkatan Kerja yang Tidak Seimbang. Setiap tahun angkatan kerja bertambah 3,67 juta orang, namun penciptaan lapangan kerja tak mampu mengimbangi. Akibatnya, 59,4% tenaga kerja kini berada di sektor informal.
Kemudian dampak Pandemi dan Tekanan Global
Kelompok usia 19–24 tahun mencatat pengangguran tertinggi, mencapai 16,16%. IMF bahkan memproyeksikan tingkat pengangguran Indonesia bisa naik menjadi 5,1% pada 2026.
BACA JUGA:
Deposito Bank Digital Makin Diminati, Bunga Tinggi dan Biaya Nol Jadi Daya Tarik - ibukotakini.com
Dan kendala akses serta diskriminasi usia
Minimnya informasi lowongan di daerah terpencil serta diskriminasi terhadap pekerja di atas 40 tahun semakin mempersempit peluang.
Anton menilai, tanpa intervensi komprehensif, angka pengangguran berisiko terus merangkak naik. Ia menegaskan sektor teknologi, green jobs, dan ekonomi kreatif menjadi kunci penyerapan tenaga kerja muda dan terdidik.
“Berikan fasilitas dan insentif pada UMKM atau ekonomi kreatif yang kandungan lokalnya tinggi dan berpotensi didaftarkan hak ciptanya. Kedua, lindungi industri yang daya serap tenaga kerjanya tinggi seperti manufaktur dan tekstil,” pungkasnya. (Trenasia)
