Petugas darat di Bandara Soekarno Hatta menutup bagian mesin pesawat agar terhindar dari abu vulkanik.
Tren

Abu Vulkanik Anak Krakatau Tutup Penerbangan 8 Bandara di Jawa-Sumatra

  • Selat Sunda Masih Aman dari Ancaman Tsunami
Tren
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM– Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) berdampak langsung terhadap keselamatan penerbangan hingga menyebabkan delapan bandara di Pulau Jawa dan Sumatra ditutup sementara pada Senin (7/9/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 15 knot.

Penutupan sementara dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk menjaga keselamatan penerbangan. Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menginstruksikan penghentian sementara operasional delapan bandara hingga pukul 18.00 WIB.

Delapan bandara yang terdampak penutupan sementara tersebut yakni:

  1. Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang;
  2. Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta;
  3. Bandara Radin Inten II, Lampung;
  4. Bandara Husein Sastranegara, Bandung;
  5. Bandara Budiarto, Curug;
  6. Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan;
  7. Bandara Muhammad Taufiq Kiemas, Pesisir Barat, Lampung; dan
  8. Bandara Atungbusu, Sumatra Selatan.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas ke Sejumlah Wilayah

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat.

Pada lapisan permukaan hingga 15.000 kaki, abu vulkanik meluas ke arah barat daya hingga barat laut. Sebarannya mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, dan Bengkulu, termasuk perairan di sekitarnya serta Samudra Hindia.

Sementara itu, pada lapisan hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer, abu vulkanik terpantau lebih jauh ke Samudra Hindia, di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten.

BMKG telah menerbitkan 39 dokumen Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi pertama Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan sebaran abu vulkanik masih menjadi perhatian serius, khususnya terhadap keselamatan penerbangan.

Paper Test Konfirmasi Abu Vulkanik di Sejumlah Bandara

Gangguan penerbangan diperkuat dengan hasil paper test pada pukul 07.00 WIB yang menunjukkan indikasi positif keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandara.

Menurut BMKG, hasil pengujian tersebut menjadi verifikasi lapangan yang melengkapi pemantauan menggunakan citra satelit dan informasi meteorologi penerbangan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani meminta masyarakat tidak panik menyikapi penutupan delapan bandara tersebut.

Ia menegaskan, penghentian sementara operasional bandara merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan untuk memastikan keselamatan perjalanan.

“Masyarakat tidak perlu panik. Langkah penutupan sementara delapan bandara ini merupakan bentuk mitigasi proaktif dan respons cepat otoritas penerbangan demi menjamin keselamatan perjalanan kita bersama,” kata Faisal.

BMKG: Selat Sunda Masih Aman dari Ancaman Tsunami

Di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau, BMKG memastikan jalur penyeberangan Selat Sunda masih dalam kondisi aman.

Pemantauan menggunakan HF Radar Array yang berpasangan di Carita dan Tanjung Lesung menunjukkan probabilitas tsunami di Selat Sunda berada pada kategori rendah, yakni di bawah 50 persen, berdasarkan data 7 September 2026 pukul 08.00 WIB.

BMKG juga menyebut 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak mendeteksi anomali muka air laut yang mengindikasikan tsunami.

Arus permukaan laut dominan bergerak ke barat daya menuju Samudra Hindia dengan kecepatan 0,4–0,9 knot. Tinggi gelombang tercatat 0,3–1,2 meter.

Untuk periode 8–13 September 2026, tinggi gelombang di Selat Sunda diprakirakan berada pada kisaran 0,5–2 meter.

Warga Diminta Pakai Masker dan Kacamata

BMKG tetap meminta masyarakat di wilayah yang terpapar abu vulkanik meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan.

Warga dianjurkan membatasi aktivitas di luar rumah. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diminta menggunakan masker dan kacamata pelindung.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar mengikuti informasi dari kanal resmi, termasuk BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah.

“Warga di area terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah dan selalu mengenakan masker serta kacamata pelindung jika harus beraktivitas di luar,” ujar Faisal.***