
Ada Keluarga di Balik Keselamatan Pekerja RDMP Balikpapan
- Proyek RDMP Balikpapan Catat 179.843.906 Jam Kerja Aman
Balikpapan
Saban pagi, sebelum berangkat mencari nafkah, ada rutinitas yang dijalani Agus Setiawan. Pekerja bagian elektrikal di kilang Pertamina Balikpapan ini tak pernah absen membantu pekerjaan rumah tangga, menyiapkan bekal, berdoa, lalu berpamitan. Harapannya sederhana; menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya, lalu kembali ke rumah dengan selamat.
Agus hanyalah satu dari sekitar 24 ribu pekerja di proyek strategis nasional itu. Ia tercatat sebagai tenaga elektrikal di PT BIMA, perusahaan mitra Pertamina yang terlibat dalam proyek pengembangan kilang atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Bapak dua anak ini mengakui, bahaya tidak selalu terlihat ketika berurusan dengan listrik. Karena itulah, ada satu pesan yang selalu terngiang setiap kali meninggalkan rumah.
“Hati-hati, Pak, banyak bahayanya di sana,” begitu pesan istrinya, Nuriah.
Bagi Agus, kalimat tersebut mengingatkan bahwa keselamatan kerja bukan hanya menyangkut dirinya sendiri. Ada istri, anak dan keluarga yang menggantungkan harapan pada kepulangannya.
“Setiap berangkat, saya selalu memohon keselamatan agar bisa pergi dan pulang dengan selamat,” tuturnya.
Doa yang Menguatkan Langkah
Nuriah sudah terbiasa melepas suaminya bekerja dengan perasaan campur aduk. Ia tahu sang suami harus menjalankan tanggung jawab sebagai pencari nafkah, tetapi ia juga memahami bahwa pekerjaan di proyek kilang memiliki risiko tersendiri.
Menara-menara tinggi, instalasi, dan aktivitas di lapangan membuatnya sadar bahwa keselamatan bukan perkara sepele. Ia tak bisa mendampingi Agus setiap saat. Yang bisa dilakukannya adalah memastikan suaminya berangkat dengan bekal yang cukup, mengingatkannya untuk berhati-hati, dan mendoakannya.
“Selalu saya ingatkan supaya hati-hati dalam bekerja. Jangan lupa berdoa,” kata Nuriah.
Perhatiannya juga hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Setiap pagi, ia menyiapkan sarapan, biasanya nasi goreng, sekaligus bekal untuk anak-anak mereka yang bersekolah.
Sesekali, ketika ada kesempatan, Nuriah membuat nasi kuning atau nasi uduk untuk dibagikan kepada rekan-rekan kerja Agus. Bagi keluarga ini, perhatian tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata panjang. Sepiring makanan dan doa sebelum berangkat pun menjadi cara untuk menunjukkan kepedulian.
Di rumah, keselamatan kerja bukan istilah yang hanya dibicarakan perusahaan. Melainkan hadir dalam percakapan sehari-hari, dalam pesan singkat, dan dalam kebiasaan saling mengingatkan.
Saat Ibu Akhirnya Melihat Tempat Kerja Agus
Ada satu pengalaman yang membekas dalam ingatan Agus Setiawan. Momen ketika keluarganya berkesempatan mengunjungi tempat ia bekerja di kawasan kilang.
Sebelumnya, ibu Agus kerap bertanya seperti apa lingkungan kerja anaknya. Agus mencoba menjelaskan bahwa di sana terdapat pipa-pipa, panel, ruangan berpendingin udara, dan berbagai fasilitas pendukung pekerjaan.
Namun, ia memahami bahwa kawasan kilang merupakan objek vital dengan aturan akses yang ketat. Tidak semua orang bisa masuk begitu saja. Bahkan, mengambil foto di area tertentu pun tidak diperbolehkan.
Agus sebenarnya ingin sekali memperlihatkan langsung tempatnya mencari nafkah kepada keluarga. Ia ingin ibunya mengetahui seperti apa lingkungan yang setiap hari ia datangi, sekaligus memahami pekerjaan yang selama ini hanya bisa diceritakannya dari rumah.
Karena itu, ketika mendapat kabar bahwa ibunya akhirnya berada di lapangan, Agus terkejut. Perasaannya bercampur antara bahagia, haru, dan tak percaya.
Saat berkesempatan memotret ibunya di sana, emosinya nyaris tak terbendung.
“Saya rasanya ingin menangis. Dalam hati saya berdoa, ‘Ya Allah, inikah jawaban dari doa saya agar keluarga bisa melihat tempat kerja saya. Terima kasih, Ya Allah,’” kenangnya.
Bagi Agus, kunjungan itu lebih dari sekadar kesempatan memperkenalkan tempat kerja. Ia merasa keluarganya kini memiliki gambaran yang lebih nyata tentang lingkungan tempat ia mempertaruhkan tenaga untuk mencari nafkah.
Sejak saat itu, pesan keselamatan dari rumah terasa semakin dekat. Ia tidak hanya mengingat istri dan anak-anak yang menunggunya pulang, tetapi juga ibu yang ingin melihatnya tetap sehat dan selamat.
“Doa istri sebelum berangkat dan pesan untuk berhati-hati, ditambah kunjungan keluarga itu, membuat saya semakin mengutamakan keselamatan,” ujarnya.
Listrik Tak Terlihat, Risikonya Nyata
Pengalaman Agus di dunia kelistrikan tidak datang dalam semalam. Sebelum bekerja di PT BIMA sekitar delapan bulan terakhir, ia telah melanglang buana ke berbagai proyek, dari Aceh hingga Papua.
Ia mulai mengenal pekerjaan proyek kelistrikan sekitar 2013, ketika terlibat dalam proyek di Donggi Senoro, Sulawesi. Sebelumnya, perjalanan hidup Agus juga diwarnai berbagai pengalaman yang tidak mudah.
Pernah bekerja di Malaysia secara ilegal, hingga menekuni usaha variasi mobil selama sekitar sepuluh tahun. Di bengkel itulah ia belajar memasang AC dan perangkat audio mobil, sekaligus mengenal kelistrikan lebih jauh.
Kesempatan bekerja di proyek kemudian membawanya mendalami pekerjaan elektrikal, termasuk membongkar dan mempelajari genset.
Pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap pekerjaan dan tanggung jawab. Agus menyadari bahwa masa lalu tidak bisa diubah, tetapi pengalaman dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Kini, pekerjaannya di proyek RDMP Balikpapan menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya. Setelah bertahun-tahun merantau, ia juga bersyukur bisa bekerja lebih dekat dengan orang-orang yang dicintainya.
“Bekerja di sini sangat membantu ekonomi keluarga. Alhamdulillah, sekarang saya bisa kembali bekerja dan dekat dengan keluarga,” katanya.
Meski telah berpengalaman, Agus tidak menganggap dirinya kebal terhadap bahaya. Pekerjaan elektrikal tetap menuntut kewaspadaan, mulai dari menyalakan genset, mengganti lampu, hingga memeriksa sistem pembumian atau grounding pada blower.
Ia harus menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti helm, sarung tangan, dan kacamata pelindung. Namun, ia memahami bahwa APD bukan jaminan mutlak untuk terhindar dari kecelakaan.
Karena itu, ia juga mengikuti pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja atau Daily Check Up (DCU). Jika kondisi tubuh tidak fit, pekerja tidak diperbolehkan masuk ke lapangan.
“Saya berterima kasih kepada petugas Safety atau Medic di lapangan. Sebelum masuk, saya selalu di-DCU (cek kesehatan) untuk memastikan kita fit. Kalau tidak fit, kita tidak boleh masuk. Mereka selalu mengingatkan kita soal APD,” imbuhnya.
Ada Keluarga yang Menunggu di Rumah
Di rumah, Agus juga berusaha menjelaskan pekerjaannya kepada anak-anak. Ketika putrinya bertanya apa yang dilakukan sang ayah di tempat kerja, ia menjawab dengan bahasa sederhana.
Ia bercerita tentang tugas merawat instalasi listrik, mengganti lampu, menyalakan genset, memeriksa arus, dan memastikan peralatan bekerja dengan aman.
Anak-anak mungkin belum sepenuhnya memahami risiko pekerjaan tersebut. Namun, Agus ingin mereka tahu bahwa pekerjaan ayahnya bukan sekadar mencari penghasilan. Ada tanggung jawab untuk bekerja dengan benar dan menjaga diri agar tetap bisa bersama keluarga.
Bagi Nuriah, penghasilan yang diterima suaminya menjadi salah satu bentuk syukur. Ia berharap kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi, tanpa harus mengabaikan hal yang paling penting: keselamatan Agus.
Ia memahami bahwa pekerjaan memiliki tantangan dan persoalan tersendiri. Karena itu, komunikasi dan saling mengingatkan menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Harapannya tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin suaminya berangkat bekerja dengan baik dan kembali ke rumah tanpa mengalami sesuatu yang membahayakan.
Di tengah aktivitas proyek berskala besar, harapan semacam itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi keluarga pekerja, keselamatan memiliki arti yang sangat pribadi. Satu insiden bukan hanya soal pekerjaan yang terhenti, melainkan juga tentang seorang suami, ayah, atau anak yang mungkin tidak kembali ke rumah seperti biasanya.
Membangun Budaya Selamat dari Lingkungan Terdekat
Vice President Legal & Relation PT Kilang Pertamina Balikpapan, Asep Sulaeman, menilai pendekatan humanis penting untuk memperkuat kesadaran keselamatan para pekerja di kilang.
Menurut dia, KPB memiliki program family visit yang dirancang untuk memperkuat perilaku aman atau safe behavior di kalangan pekerja. Program ini menjadi semakin relevan ketika megaproyek RDMP Balikpapan bersiap memasuki tahapan krusial menjelang start-up.
“Melalui pendekatan humanis ini, perusahaan berharap setiap pekerja senantiasa mengingat bahwa keselamatan diri bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang-orang tercinta yang menanti di rumah,” kata Asep.
Pendekatan tersebut mengingatkan bahwa budaya keselamatan tidak cukup dibangun melalui aturan, prosedur, dan penggunaan APD. Kesadaran juga perlu tumbuh dari pemahaman bahwa setiap pekerja memiliki kehidupan dan orang-orang yang bergantung kepadanya.
Dalam proyek RDMP Balikpapan, tercatat akumulasi 179.843.906 jam kerja aman. Angka tersebut merupakan total jam kerja seluruh pekerja tanpa insiden yang mengakibatkan kehilangan hari kerja atau Zero Lost Time Injury (Zero LTI), bukan durasi kerja seorang individu.
Pencapaian itu menggambarkan besarnya upaya kolektif dalam menjaga keselamatan di proyek yang melibatkan banyak pekerja. Namun, angka tersebut bukan alasan untuk lengah. Setiap jam kerja berikutnya tetap membutuhkan disiplin, kewaspadaan, dan kepatuhan terhadap prosedur.
Sebab, keselamatan kerja bukan hanya memastikan pekerjaan selesai tanpa insiden, melainkan menjaga agar setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk kembali memeluk keluarganya pada penghujung hari. ***
