
Anggaran Dipangkas 50 Persen, Disdag Balikpapan Fokus Jaga Harga
- Selain penyesuaian program, langkah efisiensi juga dilakukan melalui pemangkasan anggaran perjalanan dinas dari Rp300 juta menjadi Rp150 juta
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM – Dinas Perdagangan Kota Balikpapan menghadapi tantangan besar pada tahun anggaran 2026 setelah mengalami pemangkasan lebih dari 50 persen.
Dari sebelumnya sekitar Rp65 miliar pada 2025, anggaran yang kini dikelola hanya tersisa sekitar Rp34 miliar. Kondisi ini memaksa organisasi perangkat daerah tersebut melakukan penyesuaian signifikan terhadap program kerja.
Kepala Disdag Balikpapan, Haemusri Umar, mengatakan fokus utama diarahkan pada program yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok.
“Dengan keterbatasan anggaran ini, kami memprioritaskan program yang benar-benar dirasakan masyarakat, seperti pasar murah dan pemeliharaan pasar,” katanya, Minggu (5/4/2026).
Dari total anggaran yang tersedia, sebagian besar terserap untuk belanja rutin, terutama gaji pegawai yang mencapai sekitar Rp30 miliar.
Sementara itu, anggaran pemeliharaan pasar hanya sekitar Rp3,5 miliar yang harus mencakup 12 pasar di bawah pengelolaan Disdag.
BACA JUGA:
Penyusunan RKPD 2027, Kaltim Fokus Tangani Air dan Banjir - ibukotakini.com
Dengan kondisi tersebut, Haemusri menegaskan bahwa pada tahun ini tidak ada pembangunan fisik yang dilakukan. Seluruh kegiatan infrastruktur difokuskan pada pemeliharaan agar fasilitas pasar tetap dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pedagang dan masyarakat.
“Untuk pembangunan fisik tahun ini tidak ada, hanya pemeliharaan,” katanya.
Selain penyesuaian program, langkah efisiensi juga dilakukan melalui pemangkasan anggaran perjalanan dinas dari Rp300 juta menjadi Rp150 juta. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya adaptasi terhadap keterbatasan fiskal.
Di tengah keterbatasan tersebut, Disdag Balikpapan tetap menjalankan peran strategis dalam pengendalian inflasi daerah. Salah satu langkah yang terus dioptimalkan adalah pelaksanaan pasar murah dan program pangan murah.
Menurut Haemusri, kegiatan pasar murah idealnya tidak hanya digelar pada momen tertentu seperti Ramadan, Idulfitri, maupun Natal dan Tahun Baru, tetapi dapat dilakukan secara rutin setiap bulan.
“Kalau ingin benar-benar membantu masyarakat, pasar murah seharusnya bisa dilakukan setiap bulan. Ini juga perlu melibatkan distributor agar tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga memiliki fungsi sosial,” ujarnya. (Adv Diskominfo Balikpapan)
