
Anggota DPR Usul Subsidi Maskapai Cegah Kenaikan Harga Tiket Pesawat
- Sebut Harga Avtur Dunia Naik 80 Persen
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, mengusulkan agar pemerintah memberikan subsidi atau insentif fiskal kepada maskapai penerbangan menyusul lonjakan harga avtur dunia yang dilaporkan mencapai hingga 80 persen.
Menurut Rivqy, kenaikan harga avtur sebagai komponen utama biaya operasional maskapai berpotensi langsung memicu kenaikan harga tiket pesawat.
Jika tidak diantisipasi secara serius, kondisi tersebut dikhawatirkan akan menekan daya beli masyarakat serta mengganggu pemulihan sektor pariwisata dan konektivitas antarwilayah.
“Kita tidak bisa membiarkan mekanisme pasar berjalan tanpa pengawasan dalam situasi ekstrem seperti ini. Pemerintah perlu hadir untuk memastikan kenaikan biaya tidak sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat,” ujar politisi Fraksi PKB itu dalam keterangan resmi, Jumat (3/4/2026).
BACA JUGA:
BBM Siaga Ramadan, Pertamina Antisipasi Lonjakan Mudik - ibukotakini.com
Ia mengakui bahwa lonjakan harga avtur di tengah eskalasi global merupakan tantangan yang sulit dihindari.
Namun demikian, menurutnya, dampak terhadap tarif penerbangan tetap dapat dikendalikan melalui kebijakan yang tepat.
“Dalam konteks global saat ini, kenaikan harga avtur memang tidak mudah dihindari. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa mencegah dampaknya terhadap harga tiket," katanya.
"Pemerintah harus hadir karena mobilitas masyarakat Indonesia, dengan kondisi geografis kepulauan, sangat bergantung pada transportasi udara,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Cetak Laba Rp49,5 T, Pertamina Sumbang Rp401 T ke Negara - ibukotakini.com
Rivqy juga menyoroti krisis avtur yang melanda sejumlah negara, salah satunya Vietnam, yang bahkan harus memangkas jadwal penerbangan secara ekstrem akibat keterbatasan pasokan dan lonjakan harga.
Ia menilai Indonesia tidak boleh mengalami kondisi serupa.
“Kita harus belajar dari negara lain. Krisis avtur sampai memaksa pengurangan penerbangan secara drastis adalah peringatan serius. Indonesia tidak boleh mengalami hal yang sama,” katanya.
Ia menekankan bahwa sektor transportasi udara memiliki peran vital dalam mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi ekonomi nasional, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia.
BACA JUGA:
Pertamina Patra Niaga Lakukan Pengisian Avtur Perdana di Bandara IKN - ibukotakini.com
Karena itu, situasi ini dinilai menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur biaya penerbangan nasional, termasuk ketergantungan terhadap avtur impor dan efisiensi operasional maskapai.
“Kita perlu melihat ini secara komprehensif, bukan hanya jangka pendek, tetapi juga bagaimana membangun ketahanan energi sektor penerbangan ke depan,” tambahnya.
Sebagai langkah konkret, Rivqy mengusulkan pemberian subsidi terbatas atau insentif fiskal bagi maskapai guna menahan lonjakan tarif tiket dalam jangka pendek.
Selain itu, ia mendorong peningkatan kapasitas produksi avtur dalam negeri serta efisiensi distribusi untuk menekan biaya logistik.
BACA JUGA:
Simulasi Darurat Tangki BBM, Pertamina Siaga Distribusi - ibukotakini.com
Rivqy juga menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara maskapai BUMN dan swasta agar industri penerbangan nasional tetap stabil di tengah tekanan global.
“Kolaborasi antara maskapai BUMN dan swasta harus diperkuat agar industri penerbangan nasional lebih tangguh menghadapi krisis,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat bergerak cepat dan responsif agar dampak kenaikan harga avtur global tidak membebani masyarakat secara berlebihan.
“Yang kita jaga bukan hanya industri penerbangan, tetapi juga aksesibilitas masyarakat terhadap transportasi yang terjangkau,” pungkasnya.**
