Asap Karhutla dan Musim Kering, Kasus ISPA Balikpapan Mulai Naik
Balikpapan

Asap Karhutla dan Musim Kering, Kasus ISPA Balikpapan Mulai Naik

  • Berikut imbauan Dinkes Balikpapan terkait dampak asap Karhutla
Balikpapan
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terasa di sejumlah wilayah Balikpapan. 

Kondisi kualitas udara yang menurun membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). 

Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan memastikan hingga kini belum terjadi lonjakan kasus ISPA yang signifikan.

Kepala Dinkes Balikpapan Alwiati mengatakan paparan asap karhutla memang mulai dirasakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. 

Namun, berdasarkan data yang diterima Dinkes, peningkatan kasus ISPA belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/ispu-kaltim-memburuk-rudy-masud-minta-sekolah-di-daerah-berbahaya-gelar-daring

“Kita memang harus menyadari bahwa setiap hari kita merasakan pencemaran akibat kebakaran hutan. Tetapi jumlah kasus tidak ada kenaikan yang terlalu signifikan,” kata Alwiati pada Selasa, 1 September 2026. 

Menurut Alwiati, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan karena kondisi saat ini bertepatan dengan musim pancaroba. ISPA juga termasuk salah satu penyakit yang banyak ditemukan di Balikpapan setiap tahun. 

“Walaupun tidak ada kasus kebakaran, kita tetap harus waspada,” ujarnya.

Meski belum terjadi lonjakan ISPA yang signifikan secara keseluruhan, data Dinkes Balikpapan menunjukkan adanya peningkatan pada sejumlah penyakit yang berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan selama Agustus 2026 dibandingkan Juli. 

Kasus acute nasopharyngitis atau common cold (J00) tercatat sebanyak 6.280 kasus pada Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat dari 5.861 kasus pada Juli, atau naik sekitar 7,2 persen. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/dinkes-kaltim-catat-kasus-ispa-naik-20-persen-balikpapan-terbanyak

Peningkatan juga terjadi pada kasus acute pharyngitis (J02). Pada Juli tercatat sebanyak 1.714 kasus, kemudian meningkat menjadi 1.966 kasus pada Agustus. 

Dengan demikian, kasus acute pharyngitis mengalami kenaikan sekitar 14,7 persen.
Sementara itu, peningkatan paling tinggi tercatat pada kasus acute upper respiratory infection, unspecified (J06.9).

Jumlah kasus penyakit tersebut meningkat dari 1.136 kasus pada Juli menjadi 1.361 kasus pada Agustus 2026, atau naik sekitar 19,8 persen. 

Data tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dipantau Dinkes di tengah kondisi lingkungan yang dipengaruhi asap karhutla dan musim pancaroba.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/panas-ekstrem-dinkes-balikpapan-imbau-pengendara-gunakan-masker

Dinkes Pantau Kasus ISPA hingga Klinik

Untuk mengantisipasi peningkatan penyakit akibat kondisi lingkungan, Dinkes Balikpapan telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari rumah sakit hingga puskesmas. 

Surat edaran tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kesehatan dalam memantau perkembangan penyakit yang berkaitan dengan kondisi lingkungan. 

Pemantauan tidak hanya dilakukan berdasarkan jumlah kasus, tetapi juga berdasarkan kelompok usia. 

Dinkes juga akan memperluas sumber data dengan mengumpulkan laporan dari klinik. Langkah ini dilakukan agar perkembangan kasus ISPA di masyarakat dapat tergambar secara lebih menyeluruh. 

“Kita juga tidak bisa melihat hanya dari puskesmas, tetapi di klinik-klinik juga harus dilihat bagaimana trennya,” jelas Alwiati. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/ujian-warga-balikpapan-air-debu-dan-listrik

Selain penyakit saluran pernapasan, Dinkes juga mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus diare selama musim kering. Namun, hingga saat ini belum ditemukan lonjakan kasus diare yang menonjol. 

Pihaknya mengimbau masyarakat mengurangi paparan asap, khususnya warga yang memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan. 

Masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Penggunaan masker juga dianjurkan untuk mengurangi paparan polutan dari udara. 

“Bagi yang memiliki penyakit asma harus lebih menjaga diri dan menggunakan masker supaya tidak terlalu terpapar asap,” tutur Alwiati. 

Untuk mengetahui kondisi kualitas udara di Balikpapan, Dinkes mengacu pada hasil pengukuran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan. 

Dinkes tidak memiliki alat khusus untuk melakukan pengukuran kualitas udara. 

Alwiati menyatakan, belum adanya lonjakan kasus ISPA yang signifikan bukan berarti masyarakat dapat mengabaikan kondisi lingkungan. 

"Kewaspadaan tetap diperlukan, terutama selama periode karhutla dan musim pancaroba," imbuhnya. ***