IHSG rawan koreksi uji level 7.000, harga minyak melonjak dan pasar tunggu keputusan The Fed.
Ekbis

Asia Dibuka Variatif Cenderung Melemah, IHSG Rawan Koreksi Uji Level 7.000

  • Perlu Manajemen Risiko di Tengah Volatilitas
Ekbis
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM – Bursa saham Asia pada perdagangan Selasa (28/4/2026) dibuka bervariasi cenderung melemah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Pelaku pasar global bersikap hati-hati mencermati perkembangan negosiasi terkait Selat Hormuz yang berpotensi memengaruhi harga minyak dan inflasi global.

Mengutip laporan CNBC, Presiden AS Donald Trump bersama tim keamanan nasional membahas proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade dan penghentian konflik. 

Namun belum ada kepastian apakah proposal tersebut akan diterima, sehingga pasar memilih wait and see.

Bursa Asia Bergerak Mixed

Di kawasan Asia Pasifik, sejumlah indeks utama bergerak variatif:

  • Indeks ASX 200 Australia turun 0,65% ke 8.709,80.
  • Kospi Korea Selatan menguat 0,1%, sedangkan Kosdaq melemah 0,92%.
  • Nikkei 225 Jepang turun 0,55%, sementara Topix menguat 0,23%.

Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di bawah penutupan sebelumnya.

Sentimen geopolitik dan lonjakan harga minyak menjadi faktor utama penekan pasar.

IHSG Masih Sideways, Waspadai Koreksi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan terkoreksi setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup turun 0,32% ke level 7.106.

Analis Indo Premier Sekuritas menilai IHSG berpotensi bergerak sideways dengan risiko menguji support psikologis di kisaran 7.000. 

“Secara teknikal, indikator MACD telah membentuk pola death cross, sementara Stochastic RSI bergerak menuju area oversold. Area support berada di bawah 7.050 dan resistance di atas 7.150,” tulis IPOT, Selasa 28 April 2026.

Di pasar global, harga ETF Indonesia yakni iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) di New York turut melemah 0,85% ke USD15,23, mengindikasikan tekanan eksternal masih membayangi pergerakan IHSG.

Wall Street Mixed, Investor Tunggu The Fed

Bursa saham Amerika Serikat ditutup variatif dengan kecenderungan menguat tipis. Investor menanti rilis data ekonomi, laporan keuangan emiten besar, serta keputusan kebijakan moneter Federal Reserve.

  • Dow Jones turun 0,13% ke 49.167,79.
  • S&P 500 naik 0,12% ke 7.173,91.
  • Nasdaq menguat 0,20% ke 24.887,10.

Dari sisi sektoral, layanan komunikasi mencatat penguatan terbesar. Sekitar 81% dari 139 emiten S&P 500 yang telah merilis kinerja berhasil melampaui ekspektasi analis, dengan pertumbuhan laba diproyeksikan 16,1% secara tahunan.

Eropa Melemah, Minyak Tekan Sentimen

Bursa saham Eropa ditutup melemah. Indeks STOXX 600 turun 0,3% menjadi 608,84, tertekan sektor teknologi dan kebutuhan pokok konsumen.

  • DAX Jerman turun 0,19%.
  • FTSE 100 Inggris melemah 0,56%.
  • CAC 40 Prancis turun 0,19%.

Kenaikan harga minyak dan melemahnya data ekonomi, termasuk turunnya kepercayaan konsumen Jerman, menambah tekanan pada pasar.

Dolar AS Melemah, Minyak Melonjak

Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,18% ke 98,45 menjelang rapat The Fed. Imbal hasil US Treasury tenor dua tahun naik ke 3,802%.

Sementara itu, harga minyak melonjak tajam akibat gangguan pasokan dan ketegangan di Selat Hormuz:

  • Brent naik 2,8% ke USD108,23 per barel.
  • WTI melonjak 2,1% ke USD96,37 per barel.

Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan dapat membatasi ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga.

Harga emas justru melemah di tengah ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, seiring tekanan inflasi yang masih tinggi.

Prospek IHSG Hari Ini

Dengan kombinasi sentimen global, kenaikan harga minyak, dan tekanan teknikal, IHSG berpotensi bergerak hati-hati. 

Level 7.000 menjadi area krusial yang akan menentukan arah selanjutnya. 

Investor disarankan mencermati saham berbasis komoditas energi dan menjaga manajemen risiko di tengah volatilitas pasar global.***