BEI ubah kriteria Indeks SMInfra18 dengan integrasi ESG dan multi-faktor fundamental.
Ekbis

Asing Jual Bersih Rp4,5 Triliun, Ini Saham Pilihan IPOT Pekan Ini

  • IHSG Naik 2,82 Persen
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatat penguatan signifikan pada penutupan perdagangan pekan lalu. IHSG ditutup di level 6.177, menguat sekitar 2,82 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Namun, di balik reli tersebut, investor asing justru membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai sekitar Rp4,5 triliun di pasar reguler.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, mengatakan pergerakan pasar saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih berpotensi memicu volatilitas perdagangan pada pekan 13–17 Juli 2026.

Ketegangan AS-Iran Jadi Sentimen Utama

Menurut David, perhatian investor global kini tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat aksi saling serang secara terbuka.

Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia karena kawasan Timur Tengah merupakan jalur strategis distribusi energi global.

"Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Dana mulai berpindah dari aset berisiko seperti saham dan kripto ke aset yang lebih aman," ujar David.

Ia menjelaskan arus modal global saat ini lebih banyak mengalir ke instrumen safe haven seperti emas dan dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut diperkirakan akan menopang kenaikan harga emas sekaligus memperkuat dolar AS dalam waktu dekat.

Defisit APBN Masih dalam Batas Aman

Dari sisi domestik, David menilai fundamental fiskal Indonesia masih relatif terjaga.

Pemerintah mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I 2026 sebesar Rp196,5 triliun atau sekitar 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimal defisit APBN sebesar 3 persen sebagaimana diatur dalam regulasi.

Meski demikian, David mengingatkan pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan antara belanja dan penerimaan negara.

"Kondisi tersebut menuntut pemerintah mengelola pembiayaan negara secara lebih ketat dan selektif pada paruh kedua tahun ini agar risiko penambahan utang tetap terkendali dan stabilitas makroekonomi terjaga," katanya.

Pasar Tunggu Data Inflasi Amerika Serikat

Memasuki pekan ini, fokus investor akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi global.

Data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat periode Juni yang akan dirilis Selasa menjadi perhatian utama karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Selain itu, pasar juga akan mencermati pidato para pejabat The Fed serta data pertumbuhan ekonomi Singapura.

Sementara dari dalam negeri, pergerakan rupiah dan IHSG diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

David menambahkan investor tetap perlu menerapkan manajemen risiko secara disiplin dan memanfaatkan fitur analisis seperti LADI (Live Action Done Indicator) milik IPOT yang dapat memantau akumulasi dan distribusi saham secara real-time untuk mendeteksi pergerakan dana institusi atau smart money.

Rekomendasi Saham IPOT Pekan 13-17 Juli 2026

IPOT merekomendasikan beberapa saham yang dinilai menarik untuk dicermati pekan ini, yakni:

PGEO – Rekomendasi buy on pullback dengan area masuk di 975, target harga 1.070, dan stop loss 945. Secara teknikal, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk dinilai telah keluar dari tren penurunan dan didukung akumulasi smart money.

LSIP – Rekomendasi buy di level 1.295, target harga 1.400, serta stop loss 1.255. Saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk berpeluang melanjutkan kenaikan didukung potensi breakout pola flag dan sinyal bullish dari indikator MACD.

BUVA – Rekomendasi buy on pullback pada area 820–830, target harga 900, dan stop loss 795. Saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan indikasi akumulasi investor institusi.

Selain saham, IPOT juga merekomendasikan obligasi syariah PBS038 sebagai alternatif investasi. Instrumen ini menawarkan kupon sekitar 6,87 persen per tahun dengan estimasi yield mencapai 7,2 persen, sehingga dinilai menarik bagi investor yang mengincar pendapatan tetap. ***