Wamen Kemkomdigi, Nezar Patria  soroti maraknya mini drama AI bermuatan pornografi di sosial media yang arahkan pengguna ke platform berbayar tanpa sensor.
Tekno

Bahaya Mini Drama AI Bikin Kemkomdigi Siaga, LSF Ikut Turun Tangan!

  • LSF Sensor 40 Ribu Film Per Tahun
Tekno
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM - Perkembangan teknologi kecernaan buatan (AI) makin canggih, tapi sayangnya ada saja pihak yang memanfaatkan untuk hal negatif. 

Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tengah menyoroti maraknya tren mini drama AI yang menyelipkan konten pornografi, kekerasan seksual, hingga perjudian!

Gimana modus operandinya dan apa langkah pemerintah untuk memberantasnya? Yuk, simak ulasannya di bawah ini!

1. Modus "Pintu Masuk" Lewat Sosial Media

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan bahwa mini drama AI ini muncul secara masif di media sosial. 

BACA JUGA:

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI - ibukotakini.com

Film-film pendek ini memang digarap cukup kreatif menggunakan teknologi AI generatif. Namun, ancaman sebenarnya justru ada di balik tautan yang mereka bagikan.

“Dia hanya menggunakan media sosial sebagai gateway. Ketika pengguna mengeklik, mereka akan masuk ke platform berbeda yang berbayar. Kita melihat konten di sana nyaris tanpa sensor,” ungkap Wamen Nezar, Sabtu (24/10/2026).

2. Kemkomdigi dan LSF Kolaborasi Perketat Pengawasan

  • Untuk memangkas ruang gerak platform "nakal" ini, Kemkomdigi mengambil langkah tegas:
  • Dashboard Bersama: Berkolaborasi dengan platform media sosial untuk memantau dan menindak konten yang melanggar hukum.

BACA JUGA:

Percepat Smart City, Pemkot Balikpapan Buka Kolaborasi AI Bareng ITB - ibukotakini.com

  • Gandeng LSF: Mengajak Lembaga Sensor Film (LSF) yang punya pengalaman mendalam dalam menilai isi film dan sensor konten negatif.
  • Pengawasan Platform OTT: Berkoordinasi lebih ketat dengan perusahaan teknologi untuk memantau aplikasi tujuan pengguna setelah mengeklik tautan.

3. Tantangan LSF: Sensor 40 Ribu Film per Tahun di Era AI

Di sisi lain, AI generatif memang bikin produksi film jadi makin demokratis karena siapa saja bisa bikin video atau menduplikasi suara. Namun, teknologi ini juga memicu munculnya konten manipulatif (deepfake) yang tampak seperti nyata.

Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi LSF. Saat ini, sekitar 110 personel LSF harus menyensor hingga 40 ribu film per tahun!

BACA JUGA:

Pemerintah Siapkan Indonesia Timur Jadi 'Rumah Baru' Data Center & AI - ibukotakini.com

Meskipun AI bisa dimanfaatkan untuk membantu menyensor adegan secara otomatis, Nezar menegaskan bahwa peran manusia tetap paling utama. Sebab, AI hanya bisa mengenali gambar atau suara, tapi belum tentu paham konteks dan pesan cerita yang disampaikan.

“AI bisa membantu mengenali adegan, tetapi belum tentu memahami konteks dan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Ketika kita hanya melihat hasil identifikasi mesin, ada kemungkinan pesan cerita yang sebenarnya tidak tertangkap. Karena itu, proses penilaian tetap membutuhkan manusia,” tegas Nezar Patria. ***