Ketua MPR RI Bambang Soesatyo dan cerutunya. (Sumber: Thread @bambang_soesatyo)
Tren

Bamsoet Dirujak Warganet Sebut Perokok 'Radikal' Penyumbang Cukai Terbesar

  • Sebut Sumbangsih Perokok Untuk Pendapatan Negara
Tren
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menuai gelombang kritik tajam dari warganet setelah menyebut perokok sebagai “radikal sejati” sekaligus penyumbang cukai terbesar negara. 

Pernyataan itu memicu kritik luas karena dinilai mengabaikan dampak kesehatan dan beban ekonomi akibat konsumsi rokok.

Kontroversi bermula dari unggahan Threads milik Bambang Soesatyo (@bambang.soesatyo). 

Dalam video yang menampilkan dirinya tengah menikmati cerutu di sebuah ruangan, ia memaparkan kontribusi cukai rokok dalam lima tahun terakhir.

“AHLI HISAP adalah orang yang radikal sejati, meski dimarjinalkan mereka tetap ikhlas menjadi penyumbang cukai paling tinggi di Indonesia,” tulisnya dalam keterangan video.

Ia juga merinci data penerimaan negara dari cukai rokok sebagai berikut: 2021 sebesar Rp188,81 triliun, 2022 Rp218,62 triliun, 2023 Rp221,83 triliun, 2024 Rp216,9 triliun, dan 2025 Rp211,7 triliun.

Namun, alih-alih mendapat dukungan, pernyataan tersebut justru menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk tenaga medis.

Seorang dokter jantung, Bobby, menyoroti tingginya angka pasien penyakit jantung yang berkaitan dengan kebiasaan merokok. 

Ia menyebut 80–90 persen pasien pemasangan ring jantung yang ditanganinya merupakan perokok.

"Iziin pak. Sepakat

Termasuk sumbangsih utk saya pak 80-90% pasien yg pasang ring jantung perokok

Alhamdulillah banyak yg selamat pak, walau ada jg bbrp yg enggak krn serangan jantungnya berat banget

Tp ga masalah, tindakan pasang ring jantung dan operasi bypass dicover bpjs kok pak. Amanlah

Semangat pak, smg sehat selaluu Iziiin"

Komentar lain datang dari dr. Rahadian Faisal yang menyinggung kerugian ekonomi akibat rokok. 

Ia menyebut beban negara bisa mencapai sekitar Rp400 triliun per tahun, mengacu pada data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, BPJS Kesehatan, serta studi Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives.

“Meanwhile kerugian negara akibat rokok +-400 T setahun. Tekor.

Sumber: Kementerian Kesehatan (Kemenkes), BPJS Kesehatan, dan studi dari Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI),” tulisnya.

Warganet lain juga mempertanyakan logika pernyataan tersebut. Rizky Setiawan Bakry menilai data yang disampaikan tidak memperhitungkan biaya kesehatan seperti ventilator hingga operasi bypass jantung akibat penyakit terkait rokok.

Sementara warga lain menyoroti aspek sosial ekonomi. Ia menyebut konsumsi rokok banyak berasal dari kelompok berpenghasilan rendah, yang seharusnya bisa mengalokasikan uangnya untuk kebutuhan pangan bergizi.

“Rokok sering jadi coping mechanism stres ekonomi,” tulisnya, seraya mempertanyakan apakah negara justru diuntungkan dari kondisi tersebut.***