Banjir kembali melanda Sangatta, Kutai Timur. BPBD mencatat tinggi air naik-turun setiap tiga jam akibat hujan deras dan bekas galian tambang yang menjadi titik rawan genangan. (Foto: Prokutim)
Kutai Timur

Banjir Naik-Turun Tiap 3 Jam, Galian Tambang Disorot

  • BPBD Kutim Keluarkan Peringatan Kewaspadaan
Kutai Timur
Robi Sugiarto

Robi Sugiarto

Author

IBUKOTAKINI.COM - Banjir kembali mengepung sejumlah wilayah di Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur. 

Air tak hanya merendam permukiman warga di sekitar aliran sungai, tetapi juga menggenang cepat di kawasan bekas galian tambang yang kini berubah menjadi cekungan raksasa penampung air hujan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kutai Timur mencatat kondisi banjir bersifat fluktuatif. 

Dalam siklus sekitar tiga jam, tinggi air bisa naik beberapa sentimeter, lalu surut, dan kembali naik.

“Kami sudah menugaskan tim di titik-titik banjir, baik di kawasan sungai maupun di area bekas galian tambang. Pemantauan dilakukan secara berkala karena ketinggian air naik dan turun dalam siklus sekitar tiga jam,” ujar Kepala BPBD Kutim, Sulastin, dalam pernyataan resmi, Kamis (5/2/2026).

BACA JUGA:

Banjir Datang Lebih Cepat, RT 11 Rawa Indah Terendam - ibukotakini.com

Pemantauan intensif dilakukan menyusul tingginya intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir. 

Selain mengganggu rumah warga, banjir juga melanda area pertambangan, termasuk jalan tambang dan bekas galian di kawasan mining Pama. Akibatnya, akses dan mobilitas masyarakat ikut terdampak.

“Di daerah pertambangan, terutama di dalam tanggul bekas penampungan dan bekas galian, air sangat cepat menggenang. Ini memang titik rawan setiap musim hujan,” jelas Sulastin.

BPBD Kutim telah mengerahkan tim gabungan bersama relawan kecamatan, aparat desa, dan unsur pemerintah setempat untuk memastikan kondisi warga serta memetakan wilayah terdampak. 

BACA JUGA:

Siklon 94W di Pasifik, Kaltim Berpotensi Hujan - ibukotakini.com

Meski sebagian besar genangan dilaporkan surut dalam waktu sekitar tiga jam, kewaspadaan tetap ditingkatkan.

“Beberapa wilayah sempat terendam, namun rata-rata air surut sekitar tiga jam. Tapi kami tetap siaga karena potensi banjir susulan masih ada,” katanya.

Menurut BPBD, curah hujan tinggi menjadi pemicu utama banjir tahunan ini, yang diperparah oleh struktur tanah dan tanggul bekas galian tambang yang berfungsi layaknya kolam raksasa.

“Kondisi bekas galian membuat air mudah menggenang, apalagi dengan cuaca ekstrem saat ini,” ungkap Sulastin.

BACA JUGA:

Anggaran Banjir Balikpapan 2026 Dipangkas 65 Persen - ibukotakini.com

BPBD Kutim berencana melakukan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pihak perusahaan tambang, untuk membahas solusi jangka pendek dan jangka panjang agar banjir serupa tidak berulang.

Sebagai langkah awal, peringatan dini telah dikeluarkan kepada warga yang tinggal di bantaran sungai, dataran rendah, dan sekitar bekas galian tambang. ***