
Banjir Sumatera, Ahli Minta Mitigasi Lingkungan Diperkuat
- Kesiapan rencana kontinjensi mulai dari logistik, alat berat, hingga jaringan komunikasi menjadi elemen penting
Tren
IBUKOTAKINI.COM - Banjir besar yang melanda Sumatera pekan lalu kembali membuka ingatan lama tentang kerentanan pulau itu terhadap bencana hidrometeorologi. Arus deras membawa kayu, lumpur, dan material tanah dari lereng-lereng curam Bukit Barisan, menandakan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar musibah mendadak, melainkan bagian dari proses panjang perubahan bentang alam dan ekologi.
Melansir dari Trenasia.id. Dalam Diskusi Pojok Bulaksumur, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa struktur geomorfologi Sumatera memang membuat wilayah itu sangat rentan. Deretan lereng curam dari Aceh hingga Lampung menjadi jalur cepat aliran air menuju dataran rendah, termasuk melalui kawasan kipas vulkanik yang kini banyak dihuni masyarakat.
“Dengan pola seperti itu, hujan deras pasti membawa material dalam jumlah besar dan kecepatan tinggi,” katanya.
Hatma menilai kondisi ekologis yang memburuk dalam beberapa dekade terakhir memperbesar ancaman banjir bandang. Pembukaan lahan di hulu, pergeseran pemukiman ke dataran tinggi, serta hilangnya fungsi hutan membuat kemampuan tanah menahan air semakin berkurang.
Dalam kondisi ideal, hutan mampu menahan sebagian besar air hujan melalui tajuk dan sistem perakaran. Namun ketika tutupan hutan menyusut, air bergerak serempak ke sungai dan meningkatkan debit puncak secara drastis.
“Neraca airnya berubah. Debit puncaknya melonjak tinggi,” kata Hatma. Ia menegaskan bahwa berbagai pihak penyumbang “dosa ekologis” harus menghentikan praktik yang memperburuk kondisi hulu sungai.
BACA JUGA:
Pertamina Bantu Dapur Darurat Korban Banjir Tapanuli Selatan - ibukotakini.com
Mantan Kepala BMKG Prof. Dwikorita Karnawati menambahkan bahwa perubahan iklim memperbesar risiko bencana yang secara alami sudah tinggi. Peningkatan suhu global 1,55°C membuat hujan ekstrem lebih sering terjadi, dan proyeksi menunjukkan suhu dapat naik hingga 3,5°C pada akhir abad.
“Kalau mitigasi ekologinya dilewatkan, kita bisa musnah,” ujarnya.
Dwikorita juga menyoroti struktur geologi Sumatera yang labil akibat tumbukan lempeng. Batuan yang retak-retak mudah longsor, lalu menutup aliran sungai dan membentuk bendungan alam yang rawan jebol saat debit meningkat.
Selain itu, anomali siklon tropis yang kini semakin sering muncul di wilayah tropis memperpendek periode ulang bencana. Siklon–yang sebelumnya jarang menembus Indonesia–kini tumbuh di sekitar Nusantara dan melintasi daratan, seperti yang terlihat pada Siklon Seroja, Cempaka, hingga Senyar.
“Siklonnya tidak lagi patuh pada jalurnya,” kata Dwikorita.
Ancaman Meningkat di Puncak Musim Hujan
Memasuki puncak musim hujan hingga Februari 2026, BMKG memperingatkan potensi meningkatnya risiko banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah. Kawasan berlereng curam, daerah alih fungsi lahan, hingga zona tektonik aktif disebut sebagai area berbahaya.
Aliran debris—campuran lumpur, kayu, batu, dan sedimen—dapat melesat dalam hitungan detik saat hujan ekstrem turun di kawasan pegunungan. Warga di bantaran sungai dan tebing disebut perlu berada dalam kondisi siaga.
“Aliran debris ini sangat destruktif dan menuntut respons cepat,” ujar Dwikorita.
BACA JUGA:
Medan Ekstrem Ditembus, PLN Berhasil Pulihkan 100% Kelistrikan Sumut - ibukotakini.com
Data BMKG menunjukkan bibit siklon meningkat pada Desember hingga Maret. Wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi selatan, Maluku, hingga Papua selatan diprediksi menghadapi intensitas hujan yang tinggi.
Seruan Mitigasi: Bertindak Sekarang
Dwikorita menegaskan bahwa pemerintah daerah harus mempercepat langkah mitigasi, mulai dari identifikasi zona merah, pembatasan aktivitas selama periode peringatan dini, hingga penyiapan jalur evakuasi bagi kelompok rentan.
Kesiapan rencana kontinjensi mulai dari logistik, alat berat, hingga jaringan komunikasi menjadi elemen penting untuk meminimalkan korban saat bencana terjadi.
Koordinasi lintas instansi dengan BMKG dan BNPB, termasuk kemungkinan operasi modifikasi cuaca, disebut akan memperkuat upaya mengurangi risiko.
Mitigasi jangka panjang, menurut Dwikorita, harus berbasis pada pemulihan ekosistem dan penataan ruang. “Ini fondasi utama untuk membangun peradaban yang lebih baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Dwikorita mengingatkan agar seluruh pihak bergerak cepat sebelum curah hujan ekstrem mencapai puncak.
“Kita harus bertindak sekarang sebelum ancaman makin besar,” katanya. (*)
