
Belajar dari India, Menapak Jalan Panjang Makan Bergizi Gratis Indonesia
- India sebagai contoh nyata bagaimana program makan bergizi dapat dikelola
Tren
IBUKOTAKINI.COM - Kala Indonesia baru memulai program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, India telah lebih dahulu menempuh perjalanan panjang dalam memastikan jutaan anak sekolahnya tumbuh sehat lewat asupan makanan bergizi.
Negeri dengan populasi terbesar di dunia itu menjadi salah satu rujukan utama bagi pemerintah Indonesia dalam merancang dan melaksanakan program makan bergizi nasional.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut India sebagai contoh nyata bagaimana program makan bergizi dapat dikelola secara sistematis, berkelanjutan, dan memberi dampak lintas generasi.
“Ya, sebelum kita melaksanakan program makan bergizi, kita berkunjung ke India. Melihat role model di sana,” ungkapnya di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis (30/10/2025).
Menurut Dadan, Indonesia bahkan meminta dukungan teknis dari pemerintah India untuk memperkuat pelaksanaan MBG, mulai dari perencanaan menu, rantai pasok bahan pangan, hingga sistem pendataan penerima manfaat.
“India sudah berpengalaman menjalankan program ini selama puluhan tahun. Kami belajar agar program di Indonesia lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
BACA JUGA:
Program Makan dan Cek Kesehatan Gratis Perkuat SDM di IKN - ibukotakini.com
Program makan bergizi di India dikenal dengan nama PM POSHAN (Pradhan Mantri Poshan Shakti Nirman). Inisiatif besar ini menjangkau lebih dari 120 juta anak, menjadikannya salah satu program makan sekolah terbesar di dunia.
Program tersebut merupakan kelanjutan dari Mid-Day Meal Scheme yang dimulai pada 1995 dan diperbarui menjadi PM POSHAN untuk periode 2022–2026. Dengan cakupan luas, program ini melayani anak-anak dari pra-sekolah hingga kelas VIII di sekolah negeri dan sekolah yang mendapat bantuan pemerintah.
PM POSHAN tidak hanya ditujukan untuk mengatasi kelaparan, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Setiap anak sekolah dasar (kelas I–V) menerima 450 kalori dan 12 gram protein per porsi, sedangkan siswa sekolah menengah (kelas VI–VIII) mendapat 700 kalori dan 20 gram protein per hari.
Pemerintah pusat India menanggung bahan pokok seperti beras dan gandum, sementara pemerintah daerah menyediakan bahan tambahan seperti sayuran, kacang-kacangan, dan minyak. Setiap juru masak dan asistennya melayani maksimal 25 siswa, memastikan distribusi dan kebersihan makanan tetap terjaga di seluruh sekolah.
Dalam anggaran tahun 2025, pemerintah India mengalokasikan dana ₹12.467,39 crore atau sekitar Rp24,9 triliun untuk menopang keberlanjutan program PM POSHAN.
Rata-rata biaya memasak per anak per hari ditetapkan sebesar ₹4,97 (sekitar Rp941) untuk wilayah timur laut, dan ₹4,48 (sekitar Rp849) di wilayah lain.
Namun, besarnya anggaran tidak serta-merta membuat pelaksanaannya tanpa kendala. Kenaikan harga bahan makanan dan logistik membuat sejumlah sekolah harus berinovasi agar tetap mampu menyediakan makanan bergizi sesuai standar.
Meski demikian, berbagai penelitian menunjukkan dampak signifikan dari program makan siang gratis ini terhadap kualitas gizi dan partisipasi sekolah. Program ini terbukti meningkatkan tingkat kehadiran siswa, menurunkan angka putus sekolah, serta memperbaiki status gizi anak-anak di India.
BACA JUGA:
Pemkot Balikpapan Perketat Standar Keamanan Pangan di Dapur Umum - ibukotakini.com
Manfaat Lintas Generasi
Sebuah riset kolaborasi dari Universitas Virginia, Universitas Oxford, dan Universitas Washington yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications tahun 2021 menegaskan dampak lintas generasi program ini.
Penelitian berjudul Intergenerational Nutrition Benefits of India’s National School Feeding Program tersebut menggunakan data dari National Family Health Survey (NFHS) periode 1993–2016.
Hasilnya menunjukkan, anak-anak yang lahir dari ibu penerima program makan siang memiliki skor pertumbuhan (Height-for-Age Z-score/HAZ) lebih tinggi dibanding anak-anak yang ibunya tidak pernah mengikuti program tersebut.
Secara nasional, program ini berkontribusi terhadap 13–32 persen peningkatan skor HAZ di India antara 2006 hingga 2016. Artinya, intervensi gizi di masa sekolah dasar mampu memberi manfaat hingga generasi berikutnya.
Cermin untuk Indonesia
Bagi Indonesia, kisah India bukan hanya cerita sukses, melainkan cermin refleksi tentang pentingnya komitmen politik, tata kelola yang baik, dan pendanaan berkelanjutan.
Program Makan Bergizi Gratis yang kini dijalankan pemerintah diharapkan bukan sekadar kebijakan populis, tetapi investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia Indonesia.
“Pemberian makanan bergizi gratis tidak hanya soal kenyang, tapi tentang masa depan,” kata Dadan Hindayana. “Kita ingin anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan.” ***
