
Berawal dari Modal Rp5 Juta, Wawa Etnika Kini Raup Omzet Rp15 Juta per Bulan
- Dukungan PLN Tumbuhkan UMKM
Kutai Kartanegara
IBUKOTAKINI.COM – Usaha kerajinan Wawa Etnika milik Siti Hawa di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berkembang dari usaha rumahan bermodal sekitar Rp5 juta menjadi UMKM dengan omzet rata-rata Rp15 juta per bulan.
Pertumbuhan tersebut tidak lepas dari pengembangan kapasitas dan perluasan akses pasar yang diperoleh Siti melalui Rumah BUMN Kutai Kartanegara dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Kaltimra.
Siti merintis Wawa Etnika sejak 2017 dengan mengandalkan keterampilan membuat kerajinan berbahan manik-manik, kain tenun, dan sulam. Pada awalnya, hampir seluruh proses produksi hingga pemasaran dikerjakan sendiri.
“Awalnya saya hanya ingin memanfaatkan keterampilan yang saya miliki. Modalnya tidak besar, yang penting usaha ini bisa berjalan,” kata Siti.
BACA JUGA:
PLN SustainAction 2026 Dibuka, Inovasi Kaltim-Kaltara Peluang Mendunia - ibukotakini.com
Setahun kemudian, pada 2018, Siti bergabung dengan Rumah BUMN Kutai Kartanegara. Di tempat tersebut, ia mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan produk, pemasaran, serta pengelolaan usaha.
Rumah BUMN juga memperluas jejaring Siti dengan sesama pelaku UMKM. Kesempatan mengikuti pameran dan expo turut membuka akses Wawa Etnika kepada calon konsumen dan jaringan pasar yang lebih luas.
“Di Rumah BUMN Kutai Kartanegara saya tidak hanya belajar tentang usaha, tetapi juga bertemu banyak pelaku UMKM lain. Kami saling berbagi pengalaman, saling menguatkan, dan membuka peluang kerja sama,” ujarnya.
Omzet Wawa Etnika Tembus Rp40 Juta Saat Expo
Dampak pengembangan usaha tersebut mulai terlihat dari peningkatan penjualan. Wawa Etnika kini mencatat omzet rata-rata sekitar Rp15 juta per bulan.
Angka tersebut bahkan dapat meningkat hingga sekitar Rp40 juta ketika mengikuti event, expo, maupun pameran UMKM.
Selain pameran, Wawa Etnika juga memperoleh akses pemasaran melalui marketplace pada PLN Mobile sebagai salah satu kanal pemasaran bagi produk UMKM binaan.
Bagi Siti, pendampingan melalui Rumah BUMN tidak hanya berdampak pada penjualan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan dirinya dalam mengembangkan bisnis.
BACA JUGA:
PLN UID Kaltimra Santuni 108 Veteran dan Keluarga Veteran di HUT RI - ibukotakini.com
“Rumah BUMN membuat saya lebih percaya diri. Saya jadi tahu bagaimana mengembangkan usaha, memperluas jaringan, dan membawa produk kami ke pasar yang lebih luas,” katanya.
Pertumbuhan Wawa Etnika juga mulai memberikan dampak kepada masyarakat sekitar. Ketika permintaan meningkat, Siti melibatkan warga sekitar dalam proses produksi.
Dengan demikian, usaha yang pada awalnya dikerjakan seorang diri tersebut kini memiliki ruang untuk menciptakan peluang ekonomi bagi orang lain.
PLN Dorong UMKM Tumbuh dan Mandiri
General Manager PLN UID Kaltimra Muchamad Chaliq Fadli mengatakan, perjalanan Wawa Etnika menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak berhenti pada pemberian bantuan awal.
BACA JUGA:
PLTS 100 GWp Diluncurkan, PLN Siap Percepat Swasembada Energi - ibukotakini.com
Menurut dia, penguatan kapasitas, jejaring, dan akses pasar menjadi bagian penting agar pelaku UMKM dapat berkembang secara mandiri.
“Bagi PLN, pemberdayaan UMKM merupakan proses untuk mendorong pelaku usaha agar semakin memiliki kapasitas dan kemandirian. Karena itu, kami berupaya menghadirkan ekosistem yang membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk belajar, membangun jejaring, memperkenalkan produk, dan mengembangkan akses pasar,” ujar Chaliq.
Ia menyebut Rumah BUMN menjadi salah satu ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai kesempatan untuk mengembangkan usaha.
PLN berharap dukungan tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memperkuat fondasi bisnis secara berkelanjutan.
BACA JUGA:
PLN Buka Jalan UMKM Nunukan Tembus Pasar Global Lewat Pelatihan Ekspor - ibukotakini.com
“Ketika pengetahuan bertambah, jejaring semakin luas, dan akses pasar terbuka, kami berharap pelaku usaha memiliki fondasi yang semakin kuat untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan,” katanya.
Chaliq juga menilai Wawa Etnika memiliki keunggulan karena mengangkat potensi budaya lokal dalam produk kerajinannya.
“Wawa Etnika menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi ketika dipadukan dengan kreativitas, kualitas, dan kemauan untuk terus belajar,” ujarnya.
Manik, Tenun, dan Sulam Jadi Kekuatan Produk Lokal
Siti tetap mempertahankan identitas lokal sebagai bagian dari strategi pengembangan Wawa Etnika di tengah persaingan dan perubahan tren pasar.
BACA JUGA:
Dari Nunukan ke Malaysia, Coklat Regan Laris Diserbu Pasar Internasional - ibukotakini.com
Manik-manik, tenun, dan sulam tidak hanya digunakan sebagai bahan kerajinan, tetapi juga menjadi medium untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui produk yang memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi.
Perjalanan Wawa Etnika menunjukkan bagaimana usaha kecil dapat berkembang melalui keberanian memulai, kemauan belajar, perluasan jejaring, serta akses pasar.
Dari modal sekitar Rp5 juta pada 2017, Wawa Etnika kini mampu menghasilkan omzet rata-rata Rp15 juta per bulan. Saat mengikuti event atau pameran tertentu, omzetnya bahkan dapat mencapai Rp40 juta.
BACA JUGA:
UMKM Nunukan Masuk Pasar Global di SIFEX 2026 Malaysia - ibukotakini.com
Pertumbuhan tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi Siti untuk melibatkan masyarakat sekitar dalam produksi ketika permintaan meningkat.
Bagi Siti, perkembangan Wawa Etnika bukan hanya tentang meningkatkan penjualan, tetapi juga bagaimana usaha yang dibangunnya dari keterampilan dan budaya lokal dapat tumbuh sekaligus menciptakan peluang bagi lingkungan sekitar.***
