
Bisnis Emas Pegadaian Melejit, Laba Tumbuh 42,6 Persen hingga Rp8,34 Triliun
- Penguatan bisnis emas juga ditopang strategi digitalisasi melalui aplikasi TRING! yang memungkinkan akses real-time untuk berbagai produk
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM - Kinerja PT Pegadaian sepanjang 2025 mencuri perhatian. Di tengah dinamika pasar keuangan, perusahaan membukukan laba bersih Rp8,34 triliun, melonjak 42,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp5,85 triliun.
Namun yang menjadi perhatian bukan hanya laba, melainkan mesin pertumbuhan baru: ekosistem emas atau yang dikenal sebagai “bank emas”.
Transformasi bisnis Pegadaian kini bergerak dari model gadai konvensional menuju layanan bullion yang lebih modern dan terintegrasi.
Jika sebelumnya gadai mendominasi, kini produk emas seperti tabungan, deposito, hingga pembiayaan berbasis emas menjadi penggerak utama pertumbuhan.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/mnc-digital-msin-resmi-ajukan-secondary-listing-di-bursa-hong-kong
Pada 2025, total transaksi kelolaan bank emas Pegadaian mencapai 33,7 ton. Rinciannya meliputi tabungan emas 17,1 ton, deposito emas 2,18 ton, serta cicil emas 10,3 ton.
Dengan asumsi harga rata-rata Rp1,6 juta per gram, nilai aset dari segmen ini diperkirakan menyentuh Rp54 triliun.
Secara keseluruhan, total kelolaan emas Pegadaian bahkan melampaui 130 ton, termasuk agunan gadai, dengan jumlah nasabah lebih dari 20 juta orang setara populasi gabungan Jakarta dan Bekasi.
Meski bisnis gadai masih mendominasi sekitar 90 persen dengan dukungan lebih dari 4.000 outlet, segmen non-gadai berbasis emas yang porsinya sekitar 10 persen justru mencatat pertumbuhan paling agresif dan menjadi fokus ekspansi ke depan.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/75-umkm-balikpapan-utara-ikuti-festival-layanan-28-april-2026
Penguatan bisnis emas juga ditopang strategi digitalisasi melalui aplikasi TRING! yang memungkinkan akses real-time untuk berbagai produk.
Pegadaian menyasar seluruh segmen, mulai dari baby boomer hingga generasi Z, guna memperluas penetrasi pasar.
Produk bullion yang kini aktif mencakup deposito emas, tabungan emas, titipan emas, hingga pinjaman modal kerja berbasis emas.
Direktur Utama Pegadaian, Damar Latri Setiawan, mengungkapkan langkah strategis berikutnya adalah membentuk asosiasi bullion nasional.
“Asosiasi Indonesia Bullion Market Association ditargetkan dapat disahkan dan diluncurkan pada Juni 2026,” terangnya.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/harga-emas-antam-hari-ini-turun-rp-30-000-buyback-anjlok-lebih-dalam
Langkah ini menunjukkan ambisi Pegadaian tidak hanya sebagai penjual emas ritel, tetapi juga pemain kunci dalam ekosistem industri emas nasional hingga global.
Dengan skala bisnis yang besar, wacana spin-off unit emas mulai menguat. Basis lebih dari 20 juta nasabah, tren harga emas global yang cenderung naik, serta dukungan regulasi seperti Fatwa DSN-MUI No.166 Tahun 2026 menjadi faktor pendorong.
Dari sisi fundamental, kinerja induk juga solid dengan ROA 6,7 persen, ROE 21,73 persen, serta rasio kredit bermasalah (NPL) turun dari 0,63 persen pada 2024 menjadi 0,38 persen di 2025.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/investor-asing-koleksi-saham-pengembang-balikpapan-super-block
Jika dipisahkan, bisnis emas berpotensi memiliki valuasi lebih transparan dan akses pendanaan yang lebih luas, termasuk peluang IPO. Namun, langkah ini tetap membutuhkan kesiapan operasional, tata kelola, serta momentum pasar yang tepat.
Perkembangan ini menandai pergeseran arah bisnis Pegadaian. Dari lembaga gadai tradisional, perusahaan kini bergerak menjadi pemain utama dalam ekosistem investasi emas nasional yang terintegrasi dan berbasis digital.
Jika tren ini berlanjut, Pegadaian berpotensi mengambil peran strategis dalam industri emas Indonesia, tidak hanya di tingkat domestik tetapi juga di panggung global. ***
