
Bisnis Kedai Kopi Makin Kompetitif, Kenangan Pimpin Persaingan Kopi 2026
- Kopi Kenangan memimpin brand awareness, sementara Fore, Tomoro, Point Coffee dan Janji Jiwa terus ekspansi
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM - Bisnis kedai kopi di Indonesia memasuki fase persaingan yang semakin ketat pada 2026. Pertumbuhan jumlah gerai, inovasi menu, strategi harga, hingga pemanfaatan teknologi digital membuat industri kopi nasional terus berebut perhatian konsumen.
Di tengah kompetisi tersebut, Kopi Kenangan masih menjadi salah satu pemain terkuat. Berdasarkan survei Populix 2026, merek kopi lokal tersebut mencatat tingkat brand awareness tertinggi, yakni 97%.
Tidak hanya unggul dalam pengenalan merek, Kopi Kenangan juga memiliki jaringan gerai modern terbesar di antara pemain kopi lokal yang dibandingkan.
Sementara itu, peta persaingan industri kopi Indonesia tidak hanya diisi Kopi Kenangan. Point Coffee unggul dari sisi jangkauan distribusi melalui jaringan Indomaret, Tomoro Coffee agresif melakukan ekspansi, sedangkan Fore Coffee semakin memperkuat posisi di segmen premium lokal.
Pasar kedai kopi Indonesia pun masih menawarkan peluang besar. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar US$2,1 miliar atau Rp34 triliun, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 10%.
BACA JUGA:
Zyrex (ZYRX) Gandeng Odoo, Bidik Pendapatan Berulang dari Bisnis ERP - ibukotakini.com
Kopi Kenangan Jadi Merek Paling Dikenal
Survei Populix 2026 menempatkan Kopi Kenangan sebagai merek kedai kopi dengan tingkat pengenalan tertinggi di Indonesia.
Brand awareness Kopi Kenangan mencapai 97%, jauh di atas sejumlah kompetitor utama.
Berikut daftar tingkat brand awareness sejumlah merek kedai kopi:
- Kopi Kenangan: 97%
- Janji Jiwa: 87%
- Point Coffee: 69%
- Chatime: 65%
- Tomoro Coffee: 65%
- Fore Coffee: 61%
- Kopi Tuku: 53%
Tingkat pengenalan merek menjadi salah satu indikator penting dalam industri ritel makanan dan minuman. Semakin kuat sebuah merek dikenal konsumen, semakin besar peluangnya menarik pelanggan baru sekaligus mempertahankan loyalitas pelanggan lama.
BACA JUGA:
IHSG Selasa 11 Agustus 2026 Anjlok 1,53 Persen, Kapitalisasi Pasar Susut - ibukotakini.com
Kopi Kenangan Kejar Ekspansi Gerai
Dari sisi jaringan, Kopi Kenangan masih menjadi salah satu pemain paling agresif.
Hingga Juni 2026, perusahaan mengoperasikan sekitar 1.351 gerai, naik dari 1.173 gerai pada akhir 2025. Secara global, jumlah jaringan Kopi Kenangan bahkan telah menembus lebih dari 1.400 gerai.
Ekspansi dilakukan melalui pembukaan gerai di pusat perbelanjaan, kawasan perkantoran, hingga sejumlah pasar internasional.
Sepanjang 2026, perusahaan menargetkan penambahan sekitar 300-400 gerai baru. Ekspansi internasional juga terus diarahkan ke sejumlah negara, termasuk Malaysia, Singapura, Filipina, Australia, India, dan Taiwan.
Janji Jiwa Perluas Pasar dengan Model Gerobak
Janji Jiwa juga masih menjadi salah satu merek dengan jaringan terbesar di Indonesia. Jumlah gerainya telah mencapai lebih dari 900 lokasi, dengan sejumlah estimasi menempatkan jaringan perusahaan di kisaran 1.000 gerai.
Strategi pertumbuhan Janji Jiwa tidak hanya mengandalkan gerai reguler. Perusahaan juga mengembangkan konsep Jiwa Culture serta memperluas jaringan Kopi Sejuta Jiwa dalam format gerobak.
Model tersebut memungkinkan perusahaan memperluas jangkauan pasar dengan kebutuhan investasi gerai yang berbeda dibandingkan outlet permanen.
Point Coffee Unggul Berkat Jaringan Indomaret
Berbeda dengan pemain lainnya, Point Coffee memiliki keunggulan distribusi yang sulit dipisahkan dari jaringan Indomaret.
Point Coffee kini memiliki lebih dari 1.200 titik penjualan di berbagai wilayah Indonesia. Konsep grab-and-go dan harga yang relatif terjangkau membuat merek ini dapat menjangkau konsumen di kota besar hingga kota kecil.
Dengan harga produk mulai sekitar Rp15.000, Point Coffee memanfaatkan trafik konsumen minimarket untuk memperluas penetrasi pasar.
Strategi ini menjadikan Point Coffee sebagai salah satu pemain dengan jaringan distribusi kopi paling luas di Indonesia.
Fore Coffee Tumbuh di Segmen Premium
Sementara itu, Fore Coffee memilih jalur ekspansi dengan memperkuat posisi sebagai jaringan kopi premium lokal.
Hingga Juni 2026, Fore Coffee mengoperasikan 363 gerai di Indonesia dan empat gerai di Singapura. Perusahaan menargetkan jumlah gerai menembus lebih dari 400 lokasi pada akhir tahun.
Kinerja bisnisnya juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Pada semester I 2026, Fore Coffee mencatat:
- Pendapatan sekitar Rp1 triliun;
- Pertumbuhan pendapatan 52% secara tahunan;
- Laba bersih sekitar Rp56,5 miliar.
Menariknya, lebih dari 40% gerai baru Fore Coffee dibuka di kota tier 2 dan tier 3. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas pasar di luar pusat bisnis utama Indonesia.
Tomoro Coffee Gaspol Ekspansi
Tomoro Coffee menjadi salah satu pemain yang mencuri perhatian melalui ekspansi agresif.
Saat ini Tomoro mengoperasikan sekitar 600 gerai di Indonesia. Perusahaan juga memiliki ambisi jangka panjang untuk mengembangkan jaringan hingga 3.000 gerai di Asia Tenggara.
Strategi Tomoro bertumpu pada pembukaan gerai secara cepat, harga yang kompetitif, serta dukungan pendanaan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.
Jika target tersebut terealisasi, Tomoro berpotensi menjadi salah satu jaringan kopi dengan skala terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Kopi Tuku Pilih Pertumbuhan Selektif
Di tengah perlombaan ekspansi, Kopi Tuku mengambil strategi berbeda.
Perusahaan memiliki sekitar 80 gerai di 11 kota, termasuk satu gerai di Amsterdam, Belanda. Dibandingkan kompetitor yang agresif membuka outlet, Tuku lebih menitikberatkan pertumbuhan pada konsistensi rasa, budaya perusahaan, dan loyalitas pelanggan.
Strategi tersebut membuat Kopi Tuku tetap memiliki basis konsumen kuat meski jumlah gerainya tidak sebesar pemain lain.
Starbucks Masih Kuasai Segmen Premium Global
Persaingan pasar kopi Indonesia juga diramaikan pemain global, salah satunya Starbucks.
Jaringan kopi asal Amerika Serikat tersebut telah mengoperasikan sekitar 592 gerai di 106 kota di Indonesia.
Namun, besarnya jaringan belum otomatis berbanding lurus dengan kinerja keuangan. Operator Starbucks Indonesia, PT Map Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), mencatat kerugian sekitar Rp121,5 miliar pada semester I 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan persaingan industri kopi tidak hanya ditentukan oleh jumlah gerai, tetapi juga kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan penjualan dan profitabilitas.
Pasar Kopi Indonesia Tembus Rp34 Triliun
Besarnya persaingan tersebut tidak terlepas dari potensi pasar kopi nasional yang masih sangat besar.
Hingga November 2025, terdapat sekitar 461.991 usaha kopi di Indonesia, mulai dari kedai kopi modern hingga warung kopi tradisional.
Sementara itu, nilai industri kedai kopi diperkirakan mencapai sekitar US$2,1 miliar atau Rp34 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 10% per tahun.
Angka tersebut menunjukkan kopi telah berkembang menjadi lebih dari sekadar produk konsumsi. Industri ini juga menjadi arena bisnis dengan persaingan ketat dalam merebut lokasi strategis, membangun merek, menciptakan produk baru, hingga mengembangkan ekosistem digital.
Ke depan, persaingan kedai kopi Indonesia diperkirakan semakin mengarah pada ekspansi ke kota tier 2 dan tier 3, inovasi menu, digitalisasi layanan, efisiensi operasional, serta penguatan pengalaman pelanggan.
Dengan pasar yang masih tumbuh, perang kedai kopi pada 2026 bukan lagi soal siapa yang memiliki gerai paling banyak. Kekuatan merek, distribusi, harga, inovasi, dan kemampuan mencetak laba akan menjadi penentu siapa yang bertahan di barisan terdepan. ***
