BMKG: Aktivitas Gempa Kalimantan Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2021
Balikpapan

BMKG: Aktivitas Gempa Kalimantan Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2021

  • Otoritas geofisika menyebut rentetan aktivitas kegempaan dari tahun ke tahun ini murni bersumber dari pergeseran patahan lokal di dalam daratan Kalimantan sendiri
Balikpapan
Muhammad S.J

Muhammad S.J

Author

IBUKOTAKINI.COM - Grafik aktivitas kegempaan di dalam daratan Pulau Kalimantan menunjukkan tren peningkatan yang sangat mencolok dalam beberapa tahun terakhir. 

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, membeberkan lompatan angka guncangan lokal tersebut berdasarkan hasil monitoring seismik terupdate. Frekuensi aktivitas patahan bumi intradatan terpantau bergerak sangat dinamis.

Catatan instrumen seismograf mendeteksi sebanyak 25 peristiwa gempa lokal pada periode klasik rentang tahun 1915 hingga 1998. 

Kuantitas pergerakan batuan bumi sempat melandai menjadi sebanyak 22 gempa pada periode tahun 2000 sampai 2014.

Sinyal pemantau kemudian merekam sebanyak 43 kali gempa lokal di sepanjang tahun 2015. Aktivitas patahan di dalam pulau kembali menurun menjadi sebanyak 21 gempa pada 2016, sebanyak 13 gempa pada 2017, dan sebanyak 16 gempa pada 2018.

Monitor BMKG menangkap angka terendah sebanyak 5 gempa lokal pada 2019 dan sebanyak 9 gempa lokal pada 2020. Fase sepi tersebut diduga kuat menjadi masa penumpukan energi terbesar dalam perut bumi Kalimantan.

BACA JUGA:

Gempa M7,7 Filipina Sempat Bikin Pesisir Kalimantan Status Waspada Tsunami - ibukotakini.com

Lompatan frekuensi guncangan internal mulai merangkak naik menjadi sebanyak 26 gempa pada 2021 dan sebanyak 41 gempa pada tahun 2022. Aktivitas tektonik lokal daerah ini kemudian semakin agresif dengan catatan sebanyak 94 gempa pada tahun 2023.

Puncak pelepasan energi batuan setempat tertinggi mencatatkan lonjakan ekstrem sebanyak 238 gempa pada 2024. 

Angka tersebut terus bertahan tinggi sebanyak 240 gempa pada 2025, sementara periode tahun 2026 berjalan sejauh ini sudah merekam sebanyak 55 gempa lokal.

"Iya betul, jadi di Kalimantan itu sejak 2021 sampai sekarang itu aktivitas gempanya terjadi peningkatan yang signifikan ya, sekitar mungkin tiga kali lipat, yang biasanya puluhan, sekarang sudah ratusan," ucap Rasmid saat ditemui di kantornya, Selasa (16/6/2026).

Otoritas geofisika menyebut rentetan aktivitas kegempaan dari tahun ke tahun ini murni bersumber dari pergeseran patahan lokal di dalam daratan Kalimantan sendiri. 

Seluruh data pada grafik visual BMKG bukan merupakan getaran kiriman atau rambatan dari luar pulau.

BACA JUGA:

Musim Pancaroba, PLN Kaltimra Bagikan Tips Aman Kelistrikan - ibukotakini.com

"Jadi begitu ada stres, desakan dari barat, dari timur, dari selatan, itu disimpan oleh batuan tersebut. Sampai akhirnya enggak kuat lagi batuan ini, dilepaskan dalam bentuk gempa," tutur Rasmid.

Berdasarkan basis data grafik kegempaan yang kian menanjak tersebut, BMKG kemudian memetakan potensi risiko jangka panjangnya. 

Kajian geologi terbaru menunjukkan daratan Kalimantan sebenarnya mengintai potensi ancaman gempa tektonik maksimum berkekuatan magnitudo 6,9 hingga 7,0.

Potensi guncangan merusak berskala besar tersebut berpeluang terjadi apabila struktur sesar lokal sepanjang 100 hingga 110 kilometer bergerak secara bersamaan. Kenyataan ilmiah ini sekaligus mematahkan anggapan klasik publik mengenai mitos Kalimantan aman gempa.

"Panjang sesar rata-rata sekitar 100 sampai 110 kilometer. Kalau bergerak bareng sepanjang yang sobek itu, maka potensi maksimumnya bisa 6,9 sampai 7,0 magnitudo," kata Rasmid.

Tim teknis BMKG sejauh ini berhasil mengidentifikasi sejumlah kluster sumber gempa baru melalui pengamatan intensif di beberapa titik rawan. 

Peta sebaran patahan aktif tersebut sebagian besar mendominasi area pesisir timur hingga wilayah utara Kalimantan.

"Selama tiga tahun itu kami bisa memetakan, oh ternyata sumber-sumbernya di sini. Sumber-sumber baru yang dulu tidak teridentifikasi," sebut Rasmid.

BACA JUGA:

Balikpapan Terapkan Siaga El Nino, Lurah Data Sumur Bor - ibukotakini.com

Jalur patahan lokal di wilayah Kalimantan Timur meliputi Sesar Sangkulirang dan Sesar Mangkaliat di kawasan Semenanjung Mangkaliat. 

Wilayah utara Kalimantan menyimpan potensi pergerakan dari Sesar Tarakan, Sesar Maratua, Sesar Tanjung Selor, hingga Sesar Krayan.

Melalui rincian data dan potensi tersebut, BMKG berharap pemerintah daerah bisa mulai meningkatkan program mitigasi secara bertahap agar setara dengan Pulau Jawa atau Sumatera. 

Langkah edukasi lisan yang sudah berjalan baik kini disarankan mulai merambah ke arah mitigasi fisik.

"Mindset yang dulu Kalimantan aman gempa, selain gempa sebenarnya tidak kan. Makanya dengan kondisi seperti ini, kita tahu potensinya di sini sumber gempanya," kata Rasmid.

Perencanaan tata ruang wilayah ke depan diharapkan bisa menyertakan penyediaan fasilitas keselamatan publik secara struktural di area terbuka. 

Di mana kawasan pesisir timur memerlukan pengadaan unit sirene tsunami, penentuan jalur evakuasi yang jelas, serta penyediaan Tempat Evakuasi Akhir (TEA).

Sektor swasta dan masyarakat juga diimbau mulai memerhatikan standarisasi kekuatan bangunan. Penerapan konstruksi bangunan yang ramah terhadap getaran gempa dinilai menjadi proteksi utama bagi keselamatan masyarakat untuk jangka panjang.

"Ada tempat kumpulnya juga atau namanya tempat evakuasi akhir, itu harus ada juga tempat evakuasi akhir, rambu-rambu untuk ke arah sana, kemudian jalurnya juga harus disiapkan. Itu sebenarnya harus ada, tapi tidak kalah pentingnya adalah mitigasi terkait bangunannya, juga harus ramah gempa," pungkas Rasmid. ***