Bisnis

BOSS Tak Punya Penjualan pada 2024, Anak Usaha Tambang di Kaltim Pailit

  • Cari Investor untuk Pulihkan Operasional
Bisnis
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM – Kondisi keuangan PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) masih menghadapi tekanan serius. Emiten batu bara ini tidak mencatatkan penjualan sepanjang 2024, sementara salah satu anak usahanya, PT Bangun Olahsarana Sukses, berada dalam kondisi pailit.

Kondisi tersebut terungkap dalam keterbukaan informasi yang disampaikan BOSS kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Oktober 2026. Perseroan sekaligus menyampaikan laporan keuangan konsolidasian auditan tahun buku 2024 dengan opini Wajar dengan Pengecualian atau Qualified Opinion.

“Berdasarkan laporan keuangan konsolidan, BOSS mencatatkan penjualan bersih Rp0 sepanjang 2024. Angka ini merosot dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp142,49 miliar,” kata Direktur BOSS, Widodo Nurly Sumady, Sabtu (31/10/2026).

Perseroan juga tidak mencatatkan beban pokok penjualan pada 2024. Meski demikian, BOSS masih membukukan rugi usaha sekaligus rugi bersih sebesar Rp22,24 miliar.

BACA JUGA:

Kutim Incar Investasi Rp71 Triliun, Hilirisasi Batu Bara dan Sawit Dikebut - ibukotakini.com

Kerugian tersebut sebenarnya menyusut dibandingkan 2023. Saat itu, BOSS mencatatkan rugi usaha Rp167,75 miliar dan rugi bersih Rp169,01 miliar.

“Namun, penyusutan kerugian belum mencerminkan pulihnya aktivitas bisnis perusahaan. Tidak adanya penjualan menunjukkan kegiatan komersial perseroan masih menghadapi kendala,” imbuh Widodo Nurly Sumady.

Anak Usaha Tambang Batu Bara di Kutai Barat Pailit

Salah satu persoalan utama yang membayangi BOSS adalah status kepailitan PT Bangun Olahsarana Sukses, anak usaha yang dimiliki secara tidak langsung oleh perseroan.

Perusahaan tersebut memiliki lokasi tambang di Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, dengan luas konsesi 1.125 hektare. Tambang ini memiliki kapasitas produksi yang dirancang mencapai 100.000 ton per bulan.

BACA JUGA:

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Minta Kendaraan Perusahaan Ganti Pelat KT - ibukotakini.com

Namun, operasional perusahaan terganggu setelah Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan pembatalan perdamaian (homologasi) dalam perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Putusan tersebut mengakibatkan PT Bangun Olahsarana Sukses berada dalam keadaan pailit.

“Manajemen BOSS telah mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung atas putusan tersebut,” tambah Widodo Nurly Sumady.

Di sisi lain, manajemen bersama tim kurator sedang mengupayakan kelanjutan kegiatan usaha atau going concern. Upaya itu termasuk menyelesaikan kerja sama dengan calon investor dan kontraktor.

Auditor menilai terdapat ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan terhadap kemampuan grup mempertahankan kelangsungan usahanya apabila upaya hukum dan rencana pemulihan tersebut tidak berhasil.

BACA JUGA:

PLN Berhasil Hubungkan Kelistrikan Berau ke Sistem Interkoneksi Kalimantan - ibukotakini.com

Liabilitas BOSS Tembus Rp812 Miliar

Tekanan terhadap BOSS juga terlihat dari kondisi neraca keuangan perusahaan.

Per 31 Desember 2024, total aset BOSS tercatat Rp588,04 miliar. Jumlah tersebut turun tipis dibandingkan posisi akhir 2023 sebesar Rp596,64 miliar.

Sebaliknya, total liabilitas meningkat menjadi Rp812,16 miliar dari sebelumnya Rp798,48 miliar.

Kondisi tersebut membuat BOSS mengalami defisiensi modal atau ekuitas negatif sebesar Rp224,11 miliar. Jumlahnya lebih besar dibandingkan defisiensi modal pada 2023 sebesar Rp201,83 miliar.

Artinya, total kewajiban perusahaan telah melampaui nilai aset yang dimiliki.

BACA JUGA:

BEI Luncurkan Indeks IDX Commodity 20, Ini Kriteria Saham yang Masuk Daftar - ibukotakini.com

Auditor juga mengungkap persoalan pembayaran utang yang belum terselesaikan.

BOSS belum membayar angsuran utang kepada Rocksbridge Energy Pte. Ltd. sebesar Rp38,96 miliar. Selain itu, PT Pratama Bersama memiliki kewajiban yang belum dibayar sebesar Rp43,13 miliar akibat keterbatasan likuiditas.

Persoalan tersebut menjadi salah satu faktor yang menimbulkan ketidakpastian material terhadap kelangsungan usaha grup.

Anak Usaha Lain Juga Bermasalah

Persoalan BOSS tidak hanya terjadi pada PT Bangun Olahsarana Sukses.

Anak usaha lainnya, PT Pratama Buana Sentosa, juga mengalami defisiensi ekuitas sebesar Rp1,48 miliar.

BACA JUGA:

Hashim Djojohadikusumo: Ekonomi RI Lebih Besar dari Data PDB - ibukotakini.com

Perusahaan tersebut diketahui tidak lagi memiliki izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi karena masa berlakunya telah berakhir dan tidak diperpanjang.

Selain itu, PT Pratama Buana Sentosa sudah tidak menjalankan kegiatan usaha. Hingga tanggal laporan auditor, manajemen juga belum mengambil langkah konkret untuk memulihkan kondisi perusahaan tersebut.

Situasi ini semakin menambah tantangan bagi BOSS dalam mengembalikan aktivitas bisnis dan memperbaiki kondisi keuangannya.

BOSS Cari Investor untuk Pulihkan Operasional

Menghadapi berbagai persoalan tersebut, manajemen BOSS menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kelangsungan usaha.

  1. Pertama, perseroan melanjutkan upaya hukum melalui Peninjauan Kembali atas putusan kepailitan PT Bangun Olahsarana Sukses.
  2. Kedua, manajemen berkoordinasi dengan tim kurator untuk mendukung rencana kelanjutan usaha anak perusahaan tersebut, termasuk penyelesaian kerja sama dengan investor dan kontraktor.
  3. Ketiga, perseroan terus menjajaki serta melakukan negosiasi dengan calon investor dan mitra strategis untuk memperoleh dukungan pendanaan sekaligus memulihkan operasional anak usaha.
  4. Manajemen juga menerapkan efisiensi biaya secara ketat di seluruh lini organisasi perseroan dan entitas anak.

Keberhasilan langkah-langkah tersebut akan menjadi faktor penting bagi BOSS untuk memperbaiki kondisi keuangan dan mengembalikan aktivitas bisnisnya.***