Mantan Duta Besar RI untuk Mesri, Nurfaizi Suwandi (tiga dari kiri), dalam sebuah simposium di UGM, Desember 2015.
Tren

Bukan Orang Sembarangan, Mertua Kapolri Suyudi Pernah Berdebat dengan Prabowo

  • Soal Penggunaan Baret Merah
Tren
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM – Presiden Prabowo Subianto telah resmi melantik Jenderal Suyudi Ario Seto menjadi Kapolri  menggantikan Listyo Sigit Prabowo. Warganet pun mengulik latar belakang sosok Suyudi, mulai dari masa mudanya sebagai  model sampul majalah remaja, sosok sang istri sampai riwayat penugasannya. 

Banyak yang kaget karena mengetahui lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 itu banyak menghabiskan karier di seputaran ibu kota Jakarta. Mulai dari Kapolres Bogor, Kapolresta Bogor Kota, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Wakapolda Metro Jaya sampai kepala Badan Narkotika Nasional. 

Suyudi Ario Seto menikah dengan Dewi Yuali. Ia merupakan putri tunggal Komjen Pol (Purn) Nurfaizi Suwandi. Ia bukan sosok sembarangan di lingkungan kepolisian. 

Nurfaizi pernah menjabat sebagai Kabareskrim Polri yang kemudian dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Mesir. Gontornews, pada 13 Februari 2028 menurunkan sebuah laporan yang menyebut  Nurfaizi Suwandi berdebat dengan Prabowo Subianto mengenai penggunaan baret merah di lingkungan Bareskrim.

Saat itu, Prabowo yang menjabat Komandan Kopassus mempersoalkan penggunaan baret merah oleh jajaran Bareskrim Polri. Menurut Prabowo, baret merah identik dengan Kopassus sehingga seharusnya hanya ada satu baret merah di Indonesia.

Nurfaizi, yang ketika itu menjabat Kabareskrim, tidak langsung mengubah kebijakan tersebut.

“Kata Prabowo jangan menggunakan baret merah karena hanya ada satu di Indonesia (Kopassus),” tutur Nurfaizi.

Alih-alih berdebat panjang, Nurfaizi meminta Prabowo melihat langsung baret yang digunakan Bareskrim dan membandingkannya dengan baret Kopassus.

Hasilnya, kedua baret tersebut ternyata memiliki warna yang berbeda.

Baret Kopassus berwarna merah darah, sedangkan baret Bareskrim berwarna merah tua.

Baret Merah Bareskrim Punya Filosofi Berbeda

Nurfaizi menjelaskan, perbedaan warna tersebut bukan tanpa alasan.

Menurut dia, warna merah darah pada baret Kopassus memiliki filosofi tersendiri yang berkaitan dengan karakter dan tugas pasukan tersebut.

Sementara baret merah tua Bareskrim dikaitkan dengan tugas reserse dalam mengungkap berbagai kasus kejahatan, termasuk perkara pembunuhan yang meninggalkan korban dalam kondisi telah meninggal dunia.

“Supaya bisa cepat menyidiki kasus ini kita memakai baret merah tua,” kata Nurfaizi.

Penjelasan tersebut akhirnya diterima Prabowo. Penggunaan baret merah tua oleh Bareskrim pun tetap dipertahankan.

Kisah tersebut menjadi salah satu catatan menarik dalam perjalanan panjang Nurfaizi di Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pernah Jadi Kabareskrim hingga Kepala BNN

Putra kelima dari tujuh bersaudara itu meniti karier sebagai anggota Polri hingga menduduki sejumlah posisi strategis.

Nurfaizi pernah dipercaya menjadi Kapolda Jawa Tengah, Kapolda Metro Jaya, Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Kabareskrim Polri, hingga memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN).

Ia pensiun dari kepolisian pada 2003.

Sepanjang kariernya, Nurfaizi menangani berbagai kasus besar. Di antaranya kasus bom di rumah Duta Besar di Jalan Diponegoro, bom Bursa Efek Jakarta (BEJ), kasus pembunuhan berantai, hingga pembongkaran pabrik ekstasi di Tangerang.

Ia dikenal memiliki gaya kerja yang tegas, termasuk dalam urusan pengadaan sarana operasional kepolisian.

Nurfaizi pernah menceritakan pengalamannya ketika membutuhkan kendaraan operasional. Saat anggaran yang tersedia hanya untuk enam mobil, ia mengaku meminta dana tersebut dan menggunakannya untuk membeli 12 kendaraan operasional dengan nilai sekitar Rp8,6 miliar.

Pengalaman serupa terjadi ketika bagian humas Polri hanya memberikan jatah satu kamera untuk kantornya.

“Saya minta uangnya dan saya beli sendiri dapat 3 buah,” ujarnya.

Pernah Jadi Dubes RI untuk Mesir

Setelah pensiun dari kepolisian, perjalanan karier Nurfaizi tidak berhenti.

Pada 21 Desember 2011, ia dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Mesir bersama 25 duta besar lainnya.

Nurfaizi menjalankan tugas sebagai Dubes RI untuk Mesir pada periode 2012–2015.

Salah satu perhatian utamanya ketika bertugas di Mesir adalah pendidikan mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar.

Ia mendorong pembangunan asrama mahasiswa Indonesia di kompleks Universitas Al-Azhar. Saat itu, dana yang tersedia sekitar Rp19 miliar, sementara kebutuhan pembangunan yang disarankan pihak Al-Azhar mencapai sekitar Rp56 miliar untuk empat gedung dan satu dapur.

Pembangunan sempat dimulai dan peletakan batu pertamanya dilakukan Presiden SBY. Namun, proyek tersebut kemudian terhenti setelah sekitar dua tahun karena persoalan pendanaan.

Jadi Wisudawan Tertua di Usia 68 Tahun

Kisah Nurfaizi juga menarik dari sisi pendidikan.

Di tengah kesibukannya sebagai Duta Besar RI untuk Mesir, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktor Ilmu Ekonomi di Universitas Sebelas Maret (UNS).

Nurfaizi mempertahankan disertasi berjudul “Model Perilaku Migrasi Tenaga Kerja Wanita Penata Laksana Rumah Tangga (TKW PLRT) Indonesia di Mesir”.

Ia meraih IPK 3,60 dan tercatat sebagai wisudawan tertua pada usia 68 tahun 2 bulan.

Nurfaizi mengaku harus membagi waktu antara tugas negara dan pendidikan. Ketika pulang ke Jakarta, ia bahkan langsung melanjutkan perjalanan ke Solo untuk mengikuti kegiatan akademik.

“Saya kumpulkan semua guru besar di ruangan, lalu saya mencatat pelajaran sehingga cepat bisa dan selesai tuntas,” tuturnya.

Bagi Nurfaizi, usia bukan alasan untuk berhenti belajar.

“Terus belajar jangan patah semangat. Menuntut ilmu sampai kapan pun tidak boleh berhenti,” katanya.***