
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI
- AI Tak Bisa Gantikan Karakter Manusia
Tekno
IBUKOTAKINI.COM – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengingatkan para penulis dan kreator agar tidak terlalu bergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam menghasilkan karya.
Menurut Ardiansyah, teknologi AI memang dapat menjadi alat bantu dalam proses kreatif. Namun, penggunaan secara berlebihan berisiko menghilangkan keaslian karakter, suara, jiwa, dan kedalaman rasa yang menjadi ciri khas karya manusia.
Peringatan tersebut disampaikan Ardiansyah saat menutup Pameran Buku dan Festival Literasi “Out of the Boox” Gebyar Literasi Kutai Timur 2026 di Aula Ki Hajar Dewantara, YPPSB Munthe, Minggu (4/10/2026).
“Harus suara khas, suara asli. Kasihan nanti yang suara asli sudah capek-capek rekaman dirubah. Karena suara khas AI itu nggak pernah ada yang salah,” kata Ardiansyah.
BACA JUGA:
Bisnis Media Digital Masuk Era AI, Kementerian Ekraf Gandeng AMSI - ibukotakini.com
Ia menilai perkembangan AI perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan pencipta karya. Teknologi seharusnya digunakan untuk mendukung kreativitas, bukan mengambil alih proses berpikir dan ekspresi manusia.
AI Jangan Gantikan Ide Kreatif Manusia
Ardiansyah mencontohkan penggunaan AI dalam penciptaan lagu maupun karya sastra yang kini semakin berkembang.
Menurut dia, kemudahan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan untuk melahirkan gagasan secara mandiri.
Media digital dan teknologi modern, kata Ardiansyah, dapat menjadi pendorong kreativitas. Namun, ide yang orisinal tetap harus lahir dari kemampuan manusia.
BACA JUGA:
Indosat Monetisasi Bisnis Serat Optik, Keluarga Presiden Prabowo Komisaris - ibukotakini.com
“Literasi berbasis digital” semestinya ditempatkan sebagai alat bantu penunjang. Sementara substansi dalam berpikir, menulis dan berbicara harus tetap berpijak pada kemampuan otentik seseorang.
Pesan tersebut dinilai penting di tengah semakin luasnya penggunaan AI dalam berbagai bidang, termasuk industri kreatif, pendidikan dan penulisan.
Ardiansyah: Literasi Bukan Sekadar Membaca
Dalam kesempatan yang sama, Ardiansyah juga memperluas makna literasi. Menurutnya, literasi tidak sebatas kemampuan membaca buku atau memahami tulisan.
Literasi mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis persoalan dan mencari solusi.
BACA JUGA:
Masa Jabatan CEO Indosat Vikram Sinha Diperpanjang, Fokus Garap Ekosistem AI - ibukotakini.com
Kemampuan tersebut dibutuhkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menjalankan kewajiban dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkup pribadi dan keluarga hingga kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
“Kalau kita hidup tanpa literasi, Saudara sekalian, apalah makna kehidupan itu sendiri?” ujar Ardiansyah.
Karena itu, ia mendorong penguatan budaya literasi agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu mengolah informasi secara kritis.
Soroti Kekayaan Bahasa Indonesia
Ardiansyah juga menyoroti kekuatan bahasa Indonesia dalam perkembangan literasi dan komunikasi global.
BACA JUGA:
InJourney Airports Dampingi 35 UMKM Tumbuh di Ekosistem Pariwisata Ijen - ibukotakini.com
Ia menyebut bahasa Indonesia memiliki kekayaan kosakata yang berasal dari berbagai bahasa daerah, termasuk Melayu, Bugis, Banjar, Papua hingga sejumlah bahasa daerah dari Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, kekayaan tersebut menjadi keunggulan komparatif bahasa Indonesia yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.
Ardiansyah menilai perkembangan teknologi digital, termasuk AI, semestinya justru dimanfaatkan untuk memperkuat budaya literasi dan kekayaan bahasa Indonesia.
Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak membuat kreativitas manusia kehilangan identitas, melainkan menjadi sarana untuk memperluas jangkauan karya tanpa menghilangkan karakter penciptanya.***
