Tim Rukyatul Hilal Kemenag di lokasi Ibu Kota Nusantara. (Foto: Muhammad SJ)
Kabar Ibu Kota

Data Astronomis IKN, Posisi Hilal di Bawah Kriteria MABIMS

  • Pemantauan hilal untuk penentuan awal 1 Syawal 1447 Hijriah
Kabar Ibu Kota
Muhammad S.J

Muhammad S.J

Author

IBUKOTAKINI.COM — Pemantauan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah di titik Ibu Kota Nusantara (IKN) menunjukkan angka yang menantang secara astronomis. 

Berdasarkan kalkulasi data, posisi hilal di kawasan ini diprediksi masih sulit untuk diamati secara visual.

Penelaah Teknis Kebijakan Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Firmansyah, mengungkapkan bahwa parameter kunci astronomis di lokasi Hunian ASN 1 IKN berada di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

"Secara astronomis, ketinggian hilal di IKN saat ini tercatat di angka 2,06 derajat dengan sudut elongasi sebesar 4,5 derajat," ujar Firmansyah saat ditemui di lokasi pemasangan alat, Kamis (19/3/2026).

BACA JUGA:

Pantau 117 Titik, Kemenag: Hilal Belum Terlihat

Kesenjangan Data dan Syarat Visibilitas
Firmansyah menjelaskan, data tersebut menjadi krusial karena terdapat jarak yang cukup lebar antara posisi hilal saat ini dengan syarat minimal visibilitas atau imkanur rukyat.

"Jika kita mengacu pada syarat visibilitas hilal MABIMS, ketinggian hilal seharusnya minimal berada di angka 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat. Angka yang kita peroleh hari ini menunjukkan posisi hilal masih berada di bawah kriteria tersebut,” jelasnya.

Secara teknis, ijtima atau konjungsi bulan telah terjadi pada pagi hari pukul 09.25 WITA. Hal ini berarti pada saat matahari terbenam pukul 18.24 WITA nanti, usia bulan sudah cukup untuk dipantau, namun posisinya yang rendah menjadi kendala utama.

Kendala Atmosfer dan Partikel Cahaya
Selain faktor ketinggian (altitude) yang rendah, kondisi fisik atmosfer di sekitar IKN juga menjadi variabel penentu dalam pengamatan astronomis sore ini.

BACA JUGA:

Salat Id di Masjid Negara IKN, Terbuka untuk Umum

"Salah satu kesulitan teknis dalam melihat hilal adalah adanya gangguan di lapisan atmosfer. Keberadaan awan tebal atau partikel-partikel udara dapat membiaskan cahaya hilal yang sudah sangat tipis karena elongasinya yang kecil," tambah Firmansyah.

Tim BMKG menjadwalkan pengamatan intensif mulai pukul 17.00 WITA untuk menangkap setiap anomali cahaya di ufuk barat. 

Namun, Firmansyah menegaskan bahwa dengan data astronomis yang ada, peluang keberhasilan rukyat (melihat langsung) sangat bergantung pada kejernihan langit yang luar biasa.

"Kita akan terus pantau sampai matahari terbenam. Data ini nantinya akan dilaporkan sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan awal Ramadan secara nasional," tutupnya.***