Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan kepada awak media usai Konferensi Pers Realisasi APBN 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Di tengah isu ketidakpastian global, Menkeu menegaskan optimisme pasar keuangan Indonesia yang ditandai dengan kembalinya arus modal asing (capital inflow) sebesar Rp46,8 triliun pada akhir tahun lalu dan IHSG yang sempat menembus level psikologis 9.000.
Ekbis

Defisit APBN 2,92 Persen, Target Pertumbuhan 5,4 Persen

  • Pendapatan Negara Capai Rp2.756 Triliun
Ekbis
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 menunjukkan hasil yang solid di tengah tekanan ekonomi global. 

Purbaya mengungkapkan, defisit APBN 2025 berhasil dijaga pada level aman sebesar 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp695,1 triliun.

Hal tersebut disampaikan Menkeu dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1/2026). 

Menurutnya, APBN berperan sebagai instrumen kebijakan yang responsif dan antisipatif menghadapi dinamika global dan domestik sepanjang 2025.

BACA JUGA:

DPR RI Janji Perjuangkan Pemangkasan DBH Kaltim

“Dalam kondisi yang volatile di tahun 2025, APBN menjadi instrumen kebijakan yang antisipatif dan responsif menghadapi perkembangan dinamika global dan domestik,” ujar Menkeu Purbaya.

Pendapatan Negara Capai Rp2.756 Triliun
Realisasi pendapatan negara hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun, atau 91,7 persen dari outlook laporan semester sebesar Rp2.865,5 triliun.

Pendapatan tersebut ditopang oleh:

  • Penerimaan perpajakan sebesar Rp2.217,9 triliun (89 persen dari target),
    Pajak: Rp1.917,6 triliun (87,6 persen)
    Kepabeanan dan cukai: Rp300,3 triliun (99,6 persen)
  • Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp534,1 triliun atau 104 persen dari target
    Penerimaan hibah Rp4,3 triliun atau 733,3 persen dari target

Belanja Negara Rp3.451 Triliun

Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook laporan semester Rp3.527,5 triliun.

Belanja tersebut terdiri dari:

  • Belanja Pemerintah Pusat Rp2.602,3 triliun
    Belanja K/L: Rp1.500,4 triliun
    Belanja non-K/L: Rp1.102 triliun
    Transfer ke daerah sebesar Rp849 triliun
     

Menkeu menegaskan, belanja negara diarahkan secara adaptif dan akomodatif untuk mendukung program prioritas yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

BACA JUGA:

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Tegaskan Tidak Ada Dana Daerah yang Mengendap di Bank

Stimulus Ekonomi Tanpa Membahayakan APBN

Menkeu menekankan pentingnya stimulus fiskal di tengah tren perlambatan ekonomi global. 

Namun, pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit agar tidak melampaui batas aman 3 persen.

“Kita harus memberikan stimulus ke perekonomian, tapi tetap menjaga agar defisit tidak di atas 3 persen. Inilah kebijakan countercyclical yang nyata,” tegasnya.

Dengan fondasi ekonomi yang membaik, Menkeu optimistis defisit APBN 2026 dapat ditekan lebih rendah, seiring meningkatnya dampak pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat.

BACA JUGA: 

Pemerintah Kaji Ulang Redenominasi Rupiah

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen, bahkan berupaya mendorong ke level yang lebih tinggi. 

Caranya, melalui optimalisasi peran APBN sebagai mesin pertumbuhan dan shock absorber untuk menjaga daya beli serta stabilitas ekonomi nasional. ***