Desa Wisata Ketapanrame Trawas Jadi Rujukan Studi Banding
Tren

Desa Wisata Ketapanrame Trawas Jadi Rujukan Studi Banding

  • Andalkan Wisata Alam hingga Wisata Kopi
Tren
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Desa Wisata Ketapanrame di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, terus berbenah menjaga daya tarik wisata di tengah persaingan destinasi yang semakin ketat. 

Desa yang berada di kaki Gunung Welirang dan Penanggungan itu kini mengembangkan wisata alam hingga edukasi kebun kopi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. 

Kepala Desa Ketapanrame, Zainal Arifin, mengatakan desanya pernah meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik 2023 dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Kepala Desa Ketapanrame, Zainal Arifin bersama  Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan Umran Usman

Posisi geografis Ketapanrame menjadi keunggulan utama karena berada di ketinggian 700 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut dengan udara sejuk khas pegunungan. 

“Wisata alam menjadi andalan kami. Ada Air Terjun Dlundung, Taman Ghanjaran, dan Wisata Sawah Sumber Gempong,” kata Zainal Arifin saat wawancara di Trawas, Mojokerto pada kegiatan Capacity Buidling Wartawan Tahun 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan pada Jumat 22 Mei 2026. 

Selain destinasi wisata alam, Ketapanrame juga memiliki kebun tropis, perkebunan jeruk, hingga jaringan hotel yang menopang sektor pariwisata desa. 

Beberapa hotel yang disebut menjadi penunjang wisata antara lain Sandwish Hotel, Royal Hotel, Fanda Hotel, serta sejumlah penginapan lainnya di kawasan Trawas.


Wisata Alam dan Kuliner Lokal Jadi Daya Tarik


Zainal menjelaskan, setiap destinasi di Ketapanrame memiliki konsep berbeda. Taman Ghanjaran dikembangkan sebagai wisata keluarga lengkap dengan wahana permainan dan pusat kuliner. 

Sementara Wisata Sawah Sumber Gempong menawarkan konsep wisata alam dengan suasana pedesaan, permainan tradisional, hingga kuliner khas masyarakat lokal. 

Wisata Sawah Sumber Gempong 

“Pengunjung bisa menikmati suasana alam, kuliner, sampai udara segar pegunungan meskipun hanya menginap di hotel sekitar Ketapanrame,” ujar Arifin. 

Berbagai makanan khas lokal juga menjadi bagian penting pengembangan wisata desa. Mulai dari nasi rawon, nasi kari, nasi jagung, soto, tahu campur hingga aneka rujak dijual pelaku UMKM di sekitar kawasan wisata.


Sempat Turun, Desa Wisata Ketapanrame Lakukan Inovasi 
 

Zainal mengakui kunjungan wisatawan sempat mencapai puncaknya pada 2022 hingga 2023. Namun setelah itu jumlah wisatawan mulai mengalami penurunan akibat munculnya banyak destinasi pesaing. 

Karena itu, pemerintah desa bersama pengelola wisata mulai melakukan berbagai inovasi agar wisatawan tetap tertarik datang ke Ketapanrame. 

“Kami harus membuat kreasi dan inovasi baru supaya wisata ini tetap berkembang,” sebutnya.

Dalam pengembangan tersebut, dukungan dari Bank Indonesia disebut ikut membantu pengelolaan wisata desa. 

Ia mengatakan mulai dari bantuan sarana transaksi keuangan, papan penunjuk arah menuju lokasi wisata, hingga pengembangan fasilitas umum seperti gazebo dan ruang pertemuan. 

"Fasilitas tambahan diperlukan agar wisatawan tidak hanya datang singkat, tetapi bisa tinggal lebih lama bersama keluarga maupun komunitas," tukasnya.


Wisata Kopi Jadi Pengembangan Baru


Selain wisata alam, Ketapanrame juga mulai mengembangkan potensi perkebunan kopi sebagai bagian dari wisata edukasi. 

Zainal mengatakan kopi Ketapanrame saat ini cukup diminati pasar lokal Jawa Timur meski belum diekspor karena keterbatasan produksi. 

“Kalau masa panen ideal, produksi kopi bisa mencapai sekitar 50 ton per tahun,” imbuhnya. 

Ke depan, kawasan kebun kopi tidak hanya dijadikan tempat produksi, tetapi juga dikembangkan menjadi lokasi wisata alam dan edukasi. 

Pengunjung nantinya dapat mengikuti paket wisata kebun kopi, belajar budidaya, hingga camping di kawasan perkebunan tanpa mengubah fungsi hutan. 

“Tidak melulu wisata buatan. Wisata alam dan pemberdayaan masyarakat juga penting,” katanya. 

Ia menambahkan, pengembangan wisata berbasis kebun kopi diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hingga 10 sampai 20 persen.


Jadi Tempat Studi Banding Daerah Lain


Keberhasilan pengembangan Desa Wisata Ketapanrame juga menarik perhatian sejumlah daerah lain di Indonesia, termasuk dari Kalimantan. 

Menurut Zainal, banyak pemerintah desa maupun kelompok masyarakat datang untuk belajar mengenai pemberdayaan ekonomi berbasis desa wisata dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). 

“Teman-teman dari Kalimantan banyak belajar bagaimana melibatkan masyarakat melalui pemberdayaan, bukan hanya membuat wisata,” imbuhnya. ***