Disdikbud Kaltim Tingkatkan Kompetensi Guru untuk Pendidikan Inklusif
Samarinda

Disdikbud Kaltim Tingkatkan Kompetensi Guru untuk Pendidikan Inklusif

  • Keterbukaan keluarga terhadap kondisi anak berkebutuhan khusus menjadi faktor penting
Samarinda
Is Wahyudi

Is Wahyudi

Author

IBUKOTAKINI.COM - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur terus meningkatkan kompetensi guru di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.

Hal ini untuk memastikan anak berkebutuhan khusus (ABK) mendapatkan layanan pendidikan yang layak dan berkualitas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Kaltim, Armin menegaskan seluruh sekolah negeri wajib menerima siswa berkebutuhan khusus sesuai arahan pemerintah pusat.

“Tidak boleh ada sekolah negeri yang menolak anak berkebutuhan khusus. Karena itu, kami terus bergerak menyiapkan berbagai solusi pembinaan agar layanan pendidikan inklusif berjalan optimal,” ungkap Armin dikutip pada Selasa 12 Mei 2026. 

Saat ini, Disdikbud Kaltim mencatat terdapat 82 sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang terdiri dari 55 SMA dan 27 SMK. 

Selain itu, tersedia 11 Sekolah Luar Biasa (SLB) negeri yang sebagian besar masih berada di wilayah perkotaan.

BACA JUGA:

DJP Kaltimtara Blokir 322 Rekening Penunggak Pajak - ibukotakini.com

Menurut Armin, tantangan terbesar dalam penerapan pendidikan inklusif adalah keterbatasan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus mendampingi siswa ABK.

Guru di sekolah umum, kata dia, kerap menghadapi kesulitan karena harus mengajar siswa reguler sekaligus memberikan perhatian khusus kepada siswa inklusi dalam satu kelas.

“Para guru membutuhkan dukungan dan kemampuan tambahan agar proses pembelajaran bisa berjalan efektif untuk semua siswa,” katanya.

Kondisi tersebut diperparah dengan belum tersedianya program studi S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) di perguruan tinggi di Kalimantan Timur. 

Akibatnya, kebutuhan tenaga pendidik khusus masih belum terpenuhi secara optimal.

BACA JUGA:

Libatkan Guru, Diskominfo Balikpapan Lindungi Anak dari Ancaman Digital - ibukotakini.com

Untuk mengatasi persoalan itu, Disdikbud Kaltim rutin menggelar pelatihan terpadu bagi guru sekolah umum. 

Materi pelatihan mencakup pengenalan bahasa isyarat, pendekatan psikologis anak, hingga metode pembelajaran inklusif.

Selain pelatihan, pemerintah daerah juga memberikan beasiswa serta menjalin kerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya guna mencetak tenaga pengajar PLB yang kompeten.

“Kerja sama ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan guru pendidikan khusus di Kalimantan Timur pada masa mendatang,” jelasnya.

Disdikbud Kaltim juga menerapkan pola pendampingan kolaboratif dengan melibatkan guru ahli dari SLB untuk membantu guru di sekolah inklusif menangani kebutuhan belajar siswa ABK secara lebih optimal.

BACA JUGA:

Tunanetra di Balikpapan Istiqomah Belajar Al-Qur’an, Ada BMH yang Beri Dukungan - ibukotakini.com

Di sisi lain, pemerintah daerah tengah menyiapkan pengembangan infrastruktur pendidikan inklusif melalui perluasan pembangunan SLB hingga tingkat kecamatan. 

Pengembangan tersebut dirancang terintegrasi dengan sekolah menengah negeri agar layanan pendidikan lebih mudah dijangkau masyarakat.

Armin menambahkan keterbukaan keluarga terhadap kondisi anak berkebutuhan khusus menjadi faktor penting agar pemerintah dapat memberikan intervensi pendidikan sejak dini.

“Kami berharap orang tua tidak ragu menyampaikan kondisi anaknya sehingga pemerintah bisa hadir memberikan layanan pendidikan gratis dan pendampingan yang tepat demi masa depan anak yang lebih mandiri,” pungkasnya. ***