Dulu Laris Jelang Kurban, Kini Pandai Besi Balikpapan Sepi Order
Ekbis

Dulu Laris Jelang Kurban, Kini Pandai Besi Balikpapan Sepi Order

  • Konsumen yang datang kini murni hanya mengincar jasa asah dan perawatan ulang untuk menajamkan kembali pisau
Ekbis
Muhammad S.J

Muhammad S.J

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kepulan asap dari pembakaran arang kayu ulin masih mengepul di sebuah bengkel sederhana kawasan Balikpapan. 

Irama dentuman palu godam yang menghantam besi panas berpadu nyaring dengan deru bising mesin potong. 

Bagi Juliansyah, keriuhan turun temurun hingga eranya yang masuk generasi ke tiga tersebut adalah rutinitas harian yang sudah menghidupi tiga generasi keluarganya sejak era 1950-an silam. 

Mendekati momentum Hari Raya Iduladha, aktivitas penempaan di sana sekilas tampak menunjukkan peningkatan. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/pupuk-kaltim-awasi-langsung-distribusi-pupuk-bersubsidi-di-kios-resmi

Namun, di balik percikan api dan keringat yang bercucuran, ada realitas lesu yang sedang menyelimuti bisnis pandai besi tradisional tertua dan satu satunya di Kota Minyak ini.

Geliat yang terlihat belakangan hanyalah riak kecil yang tidak mampu mengerek pendapatan secara signifikan. 

"Tahun ini kurang, kurang begitu enak kayak tahun-tahun lalu. Penghasilannya enggak dapat banyak," tutur Juliansyah, Selasa 19 Mei 2026. 

Potret lesu ini terlihat kontras jika menyisir memori musim kurban tahun lalu. Dua hingga tiga bulan sebelum hari raya, pesanan pembuatan parang sembelih baru biasanya mengalir deras tanpa jeda. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/jelang-iduladha-2026-sapi-kurban-asal-bima-serbu-sangatta

Juliansyah sedikit mengulas, bengkel ini dengan mudah melepas 20, 30, bahkan hingga 50 bilah parang baru setiap harinya pada tahun laku. 

Sekarang, catatan pembukuan Juliansyah tampak sunyi. Sejak bulan lalu, hanya ada 10 pesanan parang sembelih baru yang masuk ke mejanya untuk setiap harinya.

"Jadi naik, tapi turun. Naiknya itu sejak sebulan lalu jelang kurban tapi gak sebanyak tahun lalu," ujarnya. 

Kondisi tersebut menjadi indikator kuat adanya pergeseran perilaku pasar akibat tekanan ekonomi.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/cegah-penyakit-mulut-dan-kuku-dkp-3-balikpapan-awasi-kesehatan-hewan-kurban

Alih-alih mengalokasikan anggaran untuk menebus parang baru bermaterial premium seperti besi kelahar (bearing) atau per spiral, masyarakat memilih menahan dompet mereka. 

Warga atau panitia kurban dinilai sudah memiliki modal peralatan sendiri dari tahun-tahun sebelumnya. 

Imbasnya, konsumen yang datang kini murni hanya mengincar jasa asah dan perawatan ulang untuk menajamkan kembali pisau atau kampak lama yang berkarat. 

Juliansyah sendiri enggan berkompromi soal kualitas maupun tarif.

Guna menyambung napas usahanya, ia tetap mempertahankan harga bersahabat, mulai dari Rp50.000 untuk pisau hingga Rp150.000 untuk sebilah parang. ***