
EBITDA Loncat 98 Persen, Kinerja DOID Pulih Meski Pendapatan Turun
- Arus Kas Bebas Berbalik Positif
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM – PT BUMA Internasional Grup Tbk (IDX: DOID) mencatat perbaikan kinerja operasional dan keuangan pada kuartal pertama 2026.
Meskipun pendapatan turun 10 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), perusahaan berhasil meningkatkan EBITDA hampir dua kali lipat berkat perbaikan produktivitas, efisiensi biaya, dan disiplin operasional.
Dalam laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada 31 Maret 2026, BUMA International Group membukukan pendapatan sebesar US$318 juta. Angka tersebut turun dibanding periode yang sama tahun lalu seiring berkurangnya portofolio kontrak aktif.
Namun, EBITDA melonjak 98 persen menjadi US$28 juta dari US$14 juta pada kuartal pertama 2025. Margin EBITDA juga meningkat signifikan menjadi 11 persen, dibandingkan 5 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
BACA JUGA:
BUMA Internasional (DOID) Bakal Buyback Saham USD 6 Juta - ibukotakini.com
Rekomendasi IPOT Ditengah Tekanan MSCI dan Kenaikan Royalti Tambang - ibukotakini.com
Perbaikan kinerja tersebut terjadi meskipun kuartal pertama merupakan periode dengan curah hujan tertinggi yang biasanya menjadi tantangan terbesar bagi operasional pertambangan.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, mengatakan pemulihan yang dibangun sepanjang 2025 terus berlanjut pada awal tahun ini.
“EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah, didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas. Disiplin operasional dan perbaikan EBITDA tetap terjaga melewati puncak musim hujan pada Februari,” ujar Iwan dalam siaran pers, Sabtu 30 Mei 2026.
Volume Produksi Turun Akibat Berakhirnya Sejumlah Kontrak
Pada kuartal pertama 2026, volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) tercatat 89 juta bank cubic meter (MBCM), turun 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
BACA JUGA:
Ekonomi Kaltim Tumbuh Positif Berkat Hilirisasi dan UMKM - ibukotakini.com
Sementara produksi batu bara mencapai 15 juta ton, atau turun 20 persen secara tahunan.
Penurunan volume terutama dipengaruhi berakhirnya kontrak di site Binungan, Indonesia, dan site Burton, Australia, serta proses penurunan aktivitas (ramp-down) pada dua site di Indonesia sepanjang 2025.
Meski demikian, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bisnis kontraktor pertambangan meningkat 3 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut didorong oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi serta penyesuaian tarif yang berkaitan dengan harga batu bara.
Rugi Bersih Menyusut 66 Persen
DOID masih mencatat rugi bersih sebesar US$24 juta pada kuartal pertama 2026. Namun angka tersebut jauh membaik dibanding rugi bersih US$70 juta pada periode yang sama tahun lalu.
BACA JUGA:
IHSG Sentuh Level Terendah 2026, IPOT Bocorkan Saham Pilihan Pekan Ini - ibukotakini.com
TOWR Tebar Dividen Final Rp6,89 per Saham, Cek Jadwalnya! - ibukotakini.com
Perbaikan 66 persen tersebut ditopang oleh peningkatan EBITDA serta sejumlah faktor non-operasional, termasuk keuntungan US$12 juta dari penjualan aset lahan dalam program optimisasi portofolio ACG.
Selain itu, kerugian investasi dari 29Metals berkurang sebesar US$12 juta, serta tidak terdapat lagi pencadangan piutang Australia sebesar US$4 juta yang sebelumnya membebani kinerja pada kuartal pertama 2025.
Arus Kas Bebas Berbalik Positif
Dari sisi likuiditas, perusahaan mencatat free cash flow positif sebesar US$2 juta. Capaian ini berbalik dari posisi negatif US$19 juta pada kuartal pertama tahun lalu.
Perbaikan tersebut didorong oleh penerimaan dana sebesar US$17 juta dari penjualan lahan dalam program optimisasi portofolio ACG, ditambah peningkatan EBITDA dan belanja modal yang lebih rendah.
BACA JUGA:
BEI Umumkan Jadwal RUPS Tahunan 2026 - ibukotakini.com
IHSG Sentuh Level Terendah 2026, IPOT Bocorkan Saham Pilihan Pekan Ini - ibukotakini.com
Sepanjang kuartal pertama 2026, belanja modal tercatat sebesar US$20 juta yang difokuskan untuk menjaga keandalan armada dan mendukung keberlanjutan operasional.
Di Indonesia, jam non-produktif turun 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan juga mencatat kenaikan produktivitas sebesar 1 persen dan penurunan cycle time sebesar 1 persen.
Biaya unit per BCM turun 1 persen secara tahunan. Biaya tenaga kerja per BCM berkurang 4 persen berkat disiplin operasional dan efisiensi penempatan operator.
Sementara itu, biaya bahan bakar per BCM naik 3 persen akibat kenaikan harga bahan bakar, meskipun konsumsi bahan bakar tetap stabil.
BACA JUGA:
Aturan Baru Ekspor SDA, Harita Nickel Masih Wait and See - ibukotakini.com
PSAB Buka Suara soal Aturan Baru Ekspor SDA - ibukotakini.com
Biaya perbaikan dan pemeliharaan meningkat 13 persen sebagai bagian dari strategi percepatan perawatan alat menjelang musim operasional yang lebih kering pada kuartal kedua dan ketiga.
Pemulihan operasional juga berlanjut setelah kuartal pertama. Volume pengupasan lapisan tanah penutup gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 MBCM pada Februari menjadi 30,4 MBCM pada Maret dan mencapai 34,3 MBCM pada April.
Produksi batu bara pada April mencapai 5,9 juta ton, sekitar 16 persen hingga 22 persen di atas rata-rata bulanan kuartal pertama 2026.
Catat Nol Fatalitas dan Emisi Turun
Dari aspek keselamatan kerja dan keberlanjutan, BUMA International Group mencatat nihil fatalitas di seluruh operasional selama kuartal pertama 2026.
Perusahaan juga melaporkan penurunan emisi Cakupan 1 dan 2 di Indonesia sebesar 13,3 persen secara tahunan pada tingkat produksi yang sebanding.
Selain itu, kontribusi pendapatan dari batu bara non-termal mencapai 21 persen dari total pendapatan grup pada periode tersebut, mencerminkan upaya diversifikasi portofolio bisnis yang terus berjalan.***
