
Eliminasi TBC, IDI Balikpapan Gencarkan Sosialisasi Pencegahan
- IDI Cabang Balikpapan Libatkan Kader Tim Penggerak PKK kenali gejala TBC
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Balikpapan bersama Tim Penggerak PKK Kota Balikpapan menggencarkan upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC).
Kader PKK akan dilibatkan untuk membantu mendeteksi gejala awal, mengedukasi masyarakat, serta mendampingi pasien selama menjalani pengobatan.
Ketua IDI Cabang Balikpapan, Andi Sri Juliarty mengatakan, keterlibatan kader PKK penting karena penanggulangan TBC tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Dukungan masyarakat diperlukan untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus mengurangi stigma terhadap pasien.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi TBC dan pembentukan kelurahan siaga TBC yang digelar IDI bersama PKK di Rumah Balikpapan, Sabtu (17/10/2026).
“Dalam menanggulangi TBC tidak bisa bekerja sendiri. Ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tetapi perlu bantuan kita semua,” kata Andi Sri Juliarty dalam sambutannya.
Menurut dia, TBC masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat karena merupakan penyakit menular yang dapat diperburuk oleh kondisi lingkungan yang kurang sehat.
BACA JUGA:
Pelatihan BHD di Balikpapan, Warga Vihara Belajar Selamatkan Nyawa - ibukotakini.com
Selain itu, stigma sosial membuat sebagian pasien merasa minder atau bahkan dijauhi oleh lingkungan sekitarnya.
"Karena itu, edukasi kepada masyarakat harus berjalan beriringan dengan upaya menemukan kasus lebih dini dan memastikan pasien mendapatkan dukungan selama menjalani pengobatan," katanya.
Andi Sri Juliarty menjelaskan, kader PKK memiliki posisi strategis karena terbiasa melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah warga melalui kelompok Dasawisma.

Dalam kegiatan tersebut, kader akan dibekali pemahaman untuk mengenali gejala yang perlu diwaspadai, terutama batuk berkepanjangan selama dua minggu atau lebih.
Jika menemukan warga dengan gejala tersebut, kader diharapkan segera berkoordinasi dengan tenaga kesehatan, puskesmas, atau tim terkait agar warga dapat menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Pendekatan berbasis lingkungan ini diharapkan membantu mempercepat penemuan terduga kasus TBC tanpa menimbulkan ketakutan maupun diskriminasi di tengah masyarakat.
BACA JUGA:
Pengurus Vihara Balikpapan Dilatih Bantuan Hidup Dasar, Ini Tujuannya - ibukotakini.com
“Kalau ada yang batuk-batuk lebih dari dua minggu di rumah itu, kader bisa berkoordinasi dengan tim dokter untuk bersama-sama menindaklanjutinya,” ujarnya.
Ia menegaskan, kader tidak bertugas mendiagnosis penyakit.
"Peran mereka adalah membantu mengenali gejala, memberikan edukasi, dan menghubungkan warga dengan layanan kesehatan," ungkapnya.
Selain membantu deteksi dini, kader PKK juga diharapkan mendampingi pasien agar menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.
Andi Sri Juliarty mengingatkan bahwa pengobatan TBC membutuhkan waktu panjang, umumnya minimal enam bulan untuk kasus TBC sensitif obat, meskipun durasi dapat berbeda sesuai kondisi pasien dan regimen yang ditetapkan dokter.
Kepatuhan minum obat menjadi hal penting untuk mendukung keberhasilan pengobatan. Pasien tidak boleh menghentikan pengobatan sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, keluarga dan lingkungan sekitar perlu memberikan dukungan agar pasien tidak merasa malu atau takut mengungkapkan kondisinya.
Menurut Andi Sri Juliarty, penghapusan stigma merupakan salah satu kunci dalam penanggulangan TBC. Masyarakat perlu memahami bahwa pasien harus mendapatkan pengobatan dan pendampingan, bukan pengucilan.
"Kerja sama antara IDI, PKK, dinas kesehatan, dan puskesmas diharapkan dapat membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan sekaligus memperkuat upaya pengendalian TBC di Kota Balikpapan," ujarnya.
Sosialisasi pencegahan TBC oleh dokter spesialis paru dan Dinas Kesehatan Kota Balikpapan. Dalam sosialisasi IDI Cabang Balikpapan menyalurkan ribuan masker kepada TP PKK Balikpapan yang dapat digunakan petugas PKK saat bergerak ke masyarakat. ***
