Bisnis Emas Pegadaian Melejit, Laba Tumbuh 42,6 Persen hingga Rp8,34 Triliun
Ekbis

Emas Hampir Rp3 Juta, Investor Muda Diminta Waspada FOMO

  • Mengacu data Logam Mulia pada Senin (26/1/2026), harga emas tercatat naik Rp30.000 menjadi Rp2.917.000 per gram
Ekbis
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Harga emas terus menanjak dan kian mendekati level Rp3 juta per gram. Kenaikan ini menjadi sinyal penting bagi investor, khususnya generasi muda, untuk bersikap lebih rasional dalam mengambil keputusan investasi dan tidak terjebak fear of missing out (FOMO).

Mengacu data Logam Mulia pada Senin (26/1/2026), harga emas tercatat naik Rp30.000 menjadi Rp2.917.000 per gram. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.

Secara global, penguatan harga emas turut dipengaruhi sentimen inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Kondisi tersebut mendorong investor untuk mencari aset aman, termasuk emas. Namun, tren kenaikan harga juga memicu kekhawatiran munculnya keputusan beli yang didorong emosi semata.

Sejumlah analis yang dikutip The Economic Times mengingatkan bahwa harga emas di level tertinggi kerap diikuti volatilitas dan potensi koreksi. Karena itu, investor disarankan tidak membeli emas secara impulsif, apalagi hanya untuk mengikuti tren.

BACA JUGA:

Investasi Emas Tanpa Ribet, Galeri 24 Buka Outlet Baru - ibukotakini.com

Strategi Hindari FOMO

Agar tidak terjebak FOMO saat harga emas melonjak, investor perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, tentukan tujuan dan jangka waktu investasi secara jelas, apakah untuk lindung nilai jangka panjang, dana darurat, atau kebutuhan lain. Tujuan yang terukur membantu menahan keputusan emosional.

Kedua, hindari membeli emas saat tren harga sedang naik tajam tanpa mempertimbangkan faktor fundamental. Perilaku ikut-ikutan pasar berisiko menimbulkan kerugian ketika harga terkoreksi.

Ketiga, pertimbangkan strategi pembelian bertahap atau dollar-cost averaging. Dengan membeli secara berkala, investor dapat meratakan harga beli dan mengurangi risiko volatilitas jangka pendek.

Keempat, cermati bentuk emas yang dipilih. Selain emas fisik, tersedia alternatif seperti emas digital atau gold exchange traded fund (ETF) yang menawarkan likuiditas lebih tinggi dan biaya penyimpanan lebih rendah.

Sejalan dengan itu, sejumlah pakar investasi menekankan pentingnya diversifikasi portofolio. Mengombinasikan emas dengan saham dan instrumen keuangan lain dinilai lebih efektif dalam menekan risiko jangka panjang.

Dengan memahami tujuan investasi dan potensi risikonya, investor muda diharapkan mampu mengambil keputusan finansial yang lebih terukur. Pendekatan rasional menjadi kunci agar strategi investasi tetap tumbuh optimal dan berkelanjutan di tengah fluktuasi pasar. ***