Bisakah Jual Emas Tanpa Surat? Ini Syarat dan Cara Agar Harga Tetap Tinggi
Ekbis

Emas Makin Diminati, Harga Emas Dorong Inflasi Januari 2026

  • Emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memberi andil signifikan terhadap inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026
Ekbis
Is Wahyudi

Is Wahyudi

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kenaikan harga emas perhiasan tak hanya berdampak pada pasar logam mulia, tetapi juga mulai menekan indikator ekonomi nasional. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memberi andil signifikan terhadap inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026 yang mencapai 3,55% secara tahunan (year on year/YoY).

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, selain kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, tekanan inflasi juga datang dari komoditas non-energi. 

“Komoditas lain di luar kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang juga memberikan andil dominan terutama emas perhiasan,” ungkap Ateng dalam rilis BPS, Selasa (3/2/2026).

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas, khususnya generasi muda. Emas kian diminati bukan hanya sebagai instrumen investasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas dinilai sebagai aset yang relatif aman.

Mengacu pada publikasi media Kementerian Keuangan, survei Solopos menunjukkan investasi emas dan tabungan menjadi pilihan teratas masyarakat dengan porsi masing-masing 31%. Untuk produk investasi yang paling diminati pada 2025, perhiasan mencatat porsi 67%, disusul emas atau logam mulia sebesar 66%.

BACA JUGA:

Permintaan Normal, Inflasi Balikpapan Turun Awal 2026 - ibukotakini.com

Tren tersebut tercermin dari meningkatnya pembelian emas perhiasan maupun emas batangan berukuran kecil yang lebih terjangkau bagi investor pemula. Lonjakan permintaan ini turut mendorong harga emas domestik bergerak naik, sejalan dengan fluktuasi harga emas global.

Meski demikian, secara bulanan Indonesia justru mengalami deflasi sebesar 0,15% pada Januari 2026. BPS mencatat, deflasi terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau. 

Komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar antara lain cabai merah sebesar 0,16%, cabai rawit 0,08%, bawang merah 0,07%, daging ayam ras 0,05%, serta telur ayam ras 0,03%.

Kendati terjadi deflasi bulanan, komponen inti yang mencerminkan pergerakan harga jangka menengah hingga panjang masih tertekan oleh komoditas seperti emas perhiasan. 

Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga emas cenderung bersifat lebih persisten dan berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.

BACA JUGA:

Inflasi Kaltim Stabil di Awal 2026, BI Ungkap Faktornya - ibukotakini.com

Di sisi konsumen, sebagian investor justru melihat kondisi ini sebagai peluang. Nur Fajrina, salah satu investor emas, menilai perhiasan emas memiliki fungsi ganda sebagai aset dan penunjang penampilan. 

“Justru jadi peluang investasi karena kita yakin nilainya akan bertambah. Perhiasan juga lebih terjangkau dibanding emas batangan,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan investor lainnya, Mustika, yang menilai kontribusi emas terhadap inflasi tidak mengubah minatnya berinvestasi. 

“Tetap jadi peluang investasi. Selama ada dana, belum terpikir untuk menahan beli,” katanya.

Mustika menambahkan, investasi emas yang dijalaninya berorientasi jangka panjang sehingga fluktuasi harga jangka pendek tidak terlalu memengaruhi keputusan beli. Ia menilai setiap investor memiliki tujuan dan strategi yang berbeda. ***