Emas Meroket! Antam Tembus Rp3,1 Juta
Ekbis

Emas Meroket! Antam Tembus Rp3,1 Juta

  • Kenaikan harga ini dipicu meningkatnya permintaan aset aman atau safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM - Harga emas batangan di dalam negeri kembali bergerak tinggi di tengah memanasnya tensi geopolitik global, terutama konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar.

Pada Selasa (3/3/2026), harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk pecahan 1 gram tercatat sekitar Rp3.122.000 per gram, sedikit turun dari posisi sebelumnya Rp3.135.000 per gram.

Sementara itu, emas 1 gram UBS diperdagangkan di level Rp3.195.000 atau naik Rp28.000 dibandingkan hari sebelumnya. Harga emas Galeri 24 juga menguat menjadi Rp3.173.000 per gram, naik Rp43.000.

Kenaikan harga ini dipicu meningkatnya permintaan aset aman atau safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Emas kerap menjadi pilihan investor ketika pasar saham dan komoditas lain bergejolak.

Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas Antam berpotensi menembus Rp3.400.000 per gram apabila konflik global antara AS dan Iran terus berlanjut.

“Kemungkinan besar harga logam mulia mencapai Rp3.150.000 per gram. Kemudian resisten kedua di Rp3.400.000 per gram,” terang Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

BACA JUGA:

Emas dan Pangan Melejit, Inflasi Februari Kaltim 0,60% - ibukotakini.com

Ia memperkirakan harga emas Antam dalam waktu dekat bergerak di kisaran Rp3.150.000 hingga Rp3.400.000 per gram. Namun, investor diingatkan tetap mencermati dinamika global yang sangat cepat berubah.

Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho menilai lonjakan harga emas dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral AS.

“Pasar memperkirakan penurunan suku bunga AS, yang melemahkan dolar dan sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven,” ujarnya.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik global, sanksi ekonomi, hingga potensi gangguan pasokan energi turut mendorong investor memburu emas. Permintaan juga datang dari bank sentral negara berkembang yang menambah cadangan emas, serta investor institusi melalui instrumen Exchange Traded Fund (ETF).

BACA JUGA:

Ekspor Balikpapan Turun 30 Persen, Neraca Januari Defisit - ibukotakini.com

Menurut Wisnu, selama situasi global belum stabil, tren kenaikan emas masih berpeluang berlanjut. Namun, penguatan dolar AS atau kebijakan kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed dapat menekan harga logam mulia.

Secara historis, emas dikenal relatif stabil, likuid, dan minim risiko gagal bayar dibandingkan obligasi atau aset digital. Dalam jangka panjang, emas kerap menjadi pelindung nilai terhadap inflasi dan krisis ekonomi, meski dalam jangka pendek tetap berfluktuasi mengikuti dinamika pasar global.

Bagi investor, terutama generasi muda, emas dinilai dapat menjadi salah satu instrumen lindung nilai dalam portofolio.

Namun, potensi keuntungan tetap bergantung pada strategi investasi dan perkembangan ekonomi global ke depan. ***