Ketua PHRI Balikpapan Sugianto mengatakan Event Jadi Penopang, PHRI Target Okupansi Hotel Balikpapan 60%
Balikpapan

Event Jadi Penopang, PHRI Target Okupansi Hotel Balikpapan 60%

  • Realisasi okupansi tahun 2025 di kisaran 50%
Balikpapan
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan menargetkan tingkat okupansi hotel di Balikpapan mencapai 60% sepanjang 2026. 

Target tersebut dipatok lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2025 yang berada di kisaran 50%. 

Ketua PHRI Balikpapan Sugianto mengatakan, peluang mencapai target tersebut terbuka setelah okupansi hotel mulai menunjukkan perbaikan sejak Juli hingga Agustus 2026. 

“Mulai dari bulan Juli, Agustus ini okupansi mulai naik,” ungkap Sugianto saat dijumpai Kamis, 27 Agustus 2026. 

Menurut Sugianto, momentum peningkatan okupansi hotel biasanya berlangsung mulai Juni hingga Desember. Sebaliknya, periode Januari hingga Maret cenderung menjadi masa dengan tingkat hunian lebih rendah. 

"Karena itu, kami berharap aktivitas ekonomi dan penyelenggaraan berbagai event pada semester II 2026 dapat menjaga tren positif industri perhotelan Balikpapan," terangnya. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/protelindo-klarifikasi-kepemilikan-10-86-persen-saham-btel-bukan-akuisisi

Salah satu event yang memberikan dampak langsung terhadap okupansi hotel adalah Bayan Open 2026. 

Sugianto menyebut sekitar 900 tamu dari luar daerah datang ke Balikpapan untuk mengikuti atau menyaksikan kegiatan tersebut. 

Selain itu, terdapat sekitar 300 peserta atau tamu yang berasal dari Balikpapan. 

“Kurang lebih ada 900 tamu yang dari luar daerah. Itulah yang meramaikan hotel-hotel yang ada di Kota Balikpapan,” katanya.

Kedatangan peserta, ofisial, pendamping, dan tamu dari luar daerah tersebut meningkatkan permintaan kamar, terutama pada hotel bintang dua, hotel bintang tiga, dan guest house. 

Sugianto menilai event berskala nasional seperti Bayan Open sangat dibutuhkan untuk menjaga tingkat hunian hotel di Balikpapan. 

“Event-event seperti Bayan inilah yang mengangkat okupansi di Kota Balikpapan bisa naik. Sangat, sangat berpengaruh,” ujarnya. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/kriminalisasi-bisnis-ancam-kepastian-hukum

Sugianto mengatakan industri perhotelan Balikpapan sebelumnya banyak mendapatkan kontribusi dari pekerja tambang serta perusahaan pemasok yang mendukung sektor pertambangan. 

Namun, ketika aktivitas dari sektor tersebut mulai berkurang, permintaan terhadap kamar hotel ikut terdampak. 

Menurut dia, kondisi tersebut tidak terlalu memengaruhi operasional hotel secara langsung. Persoalan utama justru berada pada penurunan omzet. 

“Operasionalnya sih tidak terpengaruh, tapi yang berpengaruh adalah pendapatan atau omzet sendiri kurang. Kalau ini tidak cukup, otomatis kita harus nombok,” ungkapnya. 

Tekanan pendapatan tersebut bahkan membuat sejumlah hotel melakukan penyesuaian terhadap jam dan hari kerja karyawan. 

Sugianto menyebut terdapat sekitar tiga hingga empat hotel di Balikpapan yang menerapkan pengurangan jam atau hari kerja. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/pompa-air-mulai-dikerahkan-tangani-karhutla-kaltim

Salah satu skemanya, karyawan yang sebelumnya bekerja selama 30 hari dalam sebulan hanya bekerja sekitar 15 hari. Setelah itu, jadwal kerja digantikan karyawan lainnya secara bergantian. 

Kebijakan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dengan kondisi operasional hotel. 

Meski demikian, Sugianto menegaskan tidak ada PHK di hotel-hotel Balikpapan akibat kondisi tersebut.

“Di Balikpapan tidak ada yang di-PHK. Hanya pengurangan jam kerja. Ada kurang lebih tiga-empat hotel. Tidak semuanya hotel melakukan hal yang serupa,” jelasnya. 

Konsekuensinya lanjut dia, pengurangan hari kerja membuat pendapatan sebagian karyawan ikut menurun.

Sugianto mengungkapkan, capaian okupansi hotel terbaik di Balikpapan terjadi pada 2024. Saat itu, aktivitas pembangunan dan kegiatan yang berkaitan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) memberikan dampak besar terhadap bisnis perhotelan. 

“Yang paling bagus adalah tahun 2024. Pasca IKN, zaman Pak Jokowi, itu bisa 80%, hampir setiap hari penuh hotel di Balikpapan,” katanya. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/kebutuhan-beras-santri-di-samarinda-capai-7-ton-per-bulan

Sementara itu, kondisi 2025 disebut masih kurang baik. Memasuki 2026, okupansi mulai mengalami perbaikan meski belum kembali ke level 2024. 

Menurut Sugianto, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penyelenggaraan event untuk menciptakan sumber permintaan baru bagi industri perhotelan. 

PHRI Balikpapan memproyeksikan Oktober 2026 menjadi salah satu periode penting bagi bisnis perhotelan. 

Sugianto menyebut terdapat agenda olahraga pada 6-10 Oktober yang diperkirakan mendatangkan sekitar 4.000 orang ke Balikpapan. Pada 10 Oktober, kegiatan tersebut juga akan dirangkaikan dengan Bayan Run.

Kedua agenda tersebut diperkirakan meningkatkan permintaan kamar hotel secara signifikan. 

“Di situlah nanti high peak-nya, semua hotel itu penuh,” ujar Sugianto. 

Ia menilai dampak event tidak berhenti pada sektor perhotelan. Tingginya kunjungan peserta dan wisatawan juga berpotensi meningkatkan transaksi di restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, UMKM, serta berbagai sektor jasa. 

"Harapannya semakin banyak event berskala nasional digelar di Balikpapan dapat membantu industri perhotelan mencapai target okupansi 60% pada 2026," pungkasnya. ***