
Food Waste Lebaran Meningkat, Ancam Lingkungan
- Di tengah semarak Lebaran, kesadaran untuk mengelola makanan secara bijak menjadi penting agar tradisi tidak berubah menjadi beban bagi lingkungan
Tren
IBUKOTAKINI.COM - Tradisi menyajikan hidangan berlimpah saat Idulfitri menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Lebaran di Indonesia.
Namun di balik kemeriahan meja makan tersebut, muncul persoalan serius berupa lonjakan sisa makanan atau food waste yang berdampak besar terhadap lingkungan.
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, selama masa mudik dan libur Lebaran 2025, potensi timbulan sampah nasional mencapai 73,24 juta kilogram atau sekitar 73,24 ribu ton.
Jumlah ini seiring dengan mobilitas sekitar 146,8 juta pemudik di seluruh Indonesia.
Lonjakan sampah tidak hanya berasal dari aktivitas perjalanan, tetapi juga dari konsumsi rumah tangga yang meningkat tajam, terutama dari sisa makanan yang tidak terkelola.
Fenomena ini terlihat jelas dari peningkatan sampah organik pasca-Lebaran. Peneliti dari Universitas Muhammadiyah Malang mencatat volume sampah organik dapat meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan hari normal.
Kondisi ini dipicu kebiasaan masyarakat menyiapkan makanan dalam jumlah besar untuk menjamu tamu.
BACA JUGA:
Hunian Terjangkau di Podomoro Tenjo Jadi Pilihan Warga Produktif - ibukotakini.com
Padahal, persoalan food waste bukan hanya terjadi saat Lebaran. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional menunjukkan, sepanjang 2024 sisa makanan menyumbang 39,43 persen dari total 32,8 juta ton timbulan sampah nasional. Pada 2023, angkanya juga hampir sama, yakni 39,37 persen dari total 33,5 juta ton.
Dengan porsi mendekati 40 persen, sisa makanan menjadi penyumbang terbesar sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), melampaui plastik, kayu, maupun kertas.
Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan volume sampah, tetapi juga ancaman lingkungan. Sampah organik yang membusuk tanpa pengolahan memadai akan menghasilkan gas metana (CH₄), yang memiliki kemampuan memerangkap panas sekitar 25 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO₂).
Akumulasi gas metana bahkan berpotensi memicu kebakaran di TPA. Selain itu, proses pembusukan juga menghasilkan lindi, cairan limbah yang dapat meresap ke tanah dan mencemari sumber air bersih.
Lonjakan food waste saat Lebaran juga menjadi perhatian dalam kerangka keberlanjutan atau ESG (Environmental, Social, and Governance), khususnya bagi industri makanan dan minuman.
BACA JUGA:
Wisata IKN Kian Menarik, Pemandu Nusantara Jadi Andalan - ibukotakini.com
Peningkatan konsumsi selama musim liburan seringkali diikuti bertambahnya limbah makanan dan kemasan.
Sejumlah perusahaan mulai mengambil langkah untuk mengurangi dampak tersebut. PT Indofood Sukses Makmur Tbk misalnya, mengembangkan program pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular seperti Bank Sampah, Green Warmindo, dan Drop Box yang mampu mendaur ulang lebih dari 1.000 ton sampah plastik sepanjang 2021 hingga 2023.
Kolaborasi juga dilakukan bersama asosiasi industri seperti PRAISE dan IPRO guna memperkuat sistem pengelolaan limbah di sektor pangan.
Upaya serupa dilakukan Pizza Hut Indonesia melalui program pengelolaan minyak jelantah. Bekerja sama dengan TUKR, perusahaan ini mengumpulkan minyak goreng bekas dari lebih dari 200 gerai.
Dalam periode Juni 2024 hingga Mei 2025, sekitar 31 ton minyak jelantah berhasil dikumpulkan dan diolah menjadi biofuel. Program ini diklaim mampu mencegah emisi karbon hingga 102.827 kilogram CO₂ serta menjaga kualitas miliaran liter air bersih.
Meski demikian, para pakar menilai penanganan food waste tidak dapat bergantung pada pemerintah atau industri semata. Perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor kunci.
Langkah sederhana seperti merencanakan jumlah makanan, mengolah kembali sisa hidangan, hingga memilah sampah organik di rumah dinilai dapat membantu mengurangi timbulan sampah secara signifikan.
Di tengah semarak Lebaran, kesadaran untuk mengelola makanan secara bijak menjadi penting agar tradisi tidak berubah menjadi beban bagi lingkungan. ***
