Pesawat Airbus A330-300 milik maskapai penerbangan BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. / Airbus.com
Ekbis

Garuda Indonesia Buka Suara soal Rencana Jadi Induk Penerbangan Pelat Merah

  • Masih Dalam Proses Kajian
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk buka suara terkait rencana konsolidasi industri penerbangan pelat merah yang sebelumnya disebut melibatkan Garuda Indonesia Group dan Pelita Air. Perseroan menegaskan, rencana tersebut hingga kini masih dalam tahap kajian dan pembahasan.

Garuda Indonesia menyebut pembahasan konsolidasi dilakukan pada tingkat pemegang saham bersama para pihak terkait, sesuai dengan kewenangan masing-masing.

“Rencana konsolidasi yang melibatkan Garuda Indonesia Group dan Pelita Air saat ini masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan pada tingkat pemegang saham dan bersama para pihak terkait,” demikian jawaban Corporate Secretary Group Head Garuda Indonesia, Andreas Tumpal Hutapea, Sabtu (8/8/2026).

Perseroan menegaskan kajian tersebut masih bersifat menyeluruh. Pembahasan mencakup berbagai aspek strategis dengan mempertimbangkan penguatan ekosistem penerbangan nasional sekaligus keberlanjutan agenda transformasi Garuda Indonesia.

Belum Ada Keputusan Garuda Jadi Induk

Garuda Indonesia menekankan hingga saat ini belum terdapat keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme konsolidasi.

Dengan demikian, rencana Garuda Indonesia menjadi induk perusahaan penerbangan pelat merah belum dapat dipastikan sebagai keputusan yang telah ditetapkan.

“Belum terdapat keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme konsolidasi tersebut,” tegas Andreas.

Garuda Indonesia juga memastikan proses kajian tersebut tidak mengubah kegiatan operasional perusahaan saat ini.

Perseroan tetap menjalankan operasional, pelayanan kepada pelanggan, serta agenda transformasi sebagaimana berjalan saat ini. Tidak ada perubahan terhadap rencana penerbangan maupun komitmen pelayanan kepada pelanggan.

BACA JUGA:

Konsolidasi Maskapai BUMN, Pelita Air Bakal di Bawah Garuda Indonesia - ibukotakini.com

Setiap perkembangan yang bersifat material, lanjut perseroan, akan disampaikan melalui mekanisme keterbukaan informasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Garuda Indonesia pun mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk merujuk informasi resmi yang disampaikan perseroan melalui kanal keterbukaan informasi.

EBITDA Positif, tetapi Masih Rugi Bersih

Dalam forum yang sama, Garuda Indonesia juga menjelaskan kondisi kinerja keuangannya setelah salah satu investor mempertanyakan perbedaan antara EBITDA yang positif dan masih adanya rugi bersih.

Perseroan menjelaskan, EBITDA positif menunjukkan kinerja operasional sebelum memperhitungkan beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi telah memberikan kontribusi positif.

Namun, EBITDA belum mencerminkan seluruh komponen yang diperhitungkan dalam laba atau rugi bersih.

Perbedaan tersebut terutama dipengaruhi sejumlah komponen di bawah EBITDA, termasuk beban depresiasi dan amortisasi yang bersifat non-kas, beban keuangan termasuk yang berkaitan dengan kewajiban sewa dan pendanaan, serta komponen non-operasional lainnya.

BACA JUGA:

Profil Whitesky Aviation, Perusahaan Transportasi yang Borong 60 Mobil Terbang - ibukotakini.com

Kondisi tersebut juga perlu dilihat dalam konteks struktur kewajiban perseroan setelah restrukturisasi, yang merupakan konsekuensi dari penyelesaian kewajiban masa lampau serta perlakuan akuntansi yang berlaku.

Garuda Indonesia mengatakan fokus ke depan adalah mendorong perbaikan kinerja operasional agar secara bertahap dapat terkonversi menjadi perbaikan bottom line.

Strateginya mencakup peningkatan pendapatan, optimalisasi jaringan dan kapasitas, peningkatan produktivitas armada, efisiensi biaya, serta penguatan disiplin finansial secara berkelanjutan.

Antisipasi Harga Avtur dan Geopolitik

Selain isu konsolidasi, Garuda Indonesia juga mengantisipasi tekanan eksternal yang dapat memengaruhi industri penerbangan, terutama volatilitas harga bahan bakar dan dinamika geopolitik global.

Perseroan menyebut kedua faktor tersebut merupakan tantangan yang dihadapi seluruh pelaku industri penerbangan, baik nasional maupun global.

Untuk memitigasi dampaknya terhadap struktur biaya operasional dan kinerja keuangan, Garuda Indonesia menjalankan sejumlah langkah.

Di antaranya optimalisasi jaringan dan kapasitas berdasarkan profitabilitas rute, peningkatan utilisasi dan produktivitas armada, program efisiensi konsumsi bahan bakar, optimalisasi profil dan perencanaan penerbangan, pengendalian biaya operasional, serta penguatan pendapatan melalui berbagai inisiatif komersial dan ancillary revenue.

BACA JUGA:

Prabowo Ungkap Duit untuk Perbaiki Sekolah, Sumbernya Bikin Kaget - ibukotakini.com

Dari sisi komersial, kebijakan tarif penerbangan domestik Garuda Indonesia sepenuhnya mengacu pada ketentuan pemerintah, termasuk Tarif Batas Atas (TBA) dan mekanisme fuel surcharge yang ditetapkan regulator.

Garuda Indonesia mengatakan kebijakan tersebut tetap memperhatikan keterjangkauan tarif bagi masyarakat sekaligus keberlanjutan kinerja usaha, dengan mempertimbangkan kondisi pasar, permintaan, dan tingkat kompetisi.

Perseroan juga terus memonitor perkembangan harga bahan bakar dan kondisi geopolitik serta mengevaluasi efektivitas langkah mitigasi yang dijalankan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda transformasi Garuda Indonesia untuk memperkuat fundamental operasional, profitabilitas, likuiditas, dan disiplin finansial.

Dengan demikian, di tengah isu konsolidasi penerbangan pelat merah, Garuda Indonesia masih berfokus pada penguatan bisnis dan transformasi perusahaan, sementara pembahasan mengenai konsolidasi dengan Pelita Air masih berada dalam tahap kajian dan belum menghasilkan keputusan final.***