
Gen Z Mulai Tertarik Investasi Tanah
- Di tengah tantangan ekonomi dan mahalnya hunian, investasi lahan menjadi cara baru generasi muda
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM - Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan derasnya arus informasi investasi, generasi muda mulai mengubah strategi membangun aset. Jika sebelumnya instrumen digital seperti saham dan kripto mendominasi pilihan, kini sebagian Generasi Z mulai melirik tanah sebagai investasi jangka panjang.
Tren ini muncul seiring kesadaran akan pentingnya kepemilikan aset di masa depan, terutama ketika akses terhadap rumah kian sulit dijangkau. Laman Username Properties mencatat, tanah masih menjadi instrumen investasi yang relatif aman, stabil, dan berpotensi memberikan imbal hasil tinggi karena nilainya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
Sejumlah perencana keuangan menilai, investasi tanah bisa menjadi langkah awal bagi anak muda yang belum siap membeli rumah. Namun, tanpa perhitungan matang, investasi ini juga berisiko menimbulkan tekanan keuangan dan persoalan hukum.
Karena itu, generasi muda perlu menyusun strategi yang tepat sebelum terjun ke investasi lahan. Berikut sejumlah pendekatan yang dinilai relevan bagi Gen Z dan milenial.
BACA JUGA:
PLN Gandeng Kejaksaan, Listrik Kaltim Dipastikan Aman - ibukotakini.com
Pertama, memilih lokasi berkembang alih-alih kawasan premium. Kawasan pinggiran dengan rencana pengembangan infrastruktur, akses jalan, dan pertumbuhan permukiman dinilai memiliki potensi kenaikan nilai yang signifikan. Selain sebagai aset, lokasi semacam ini juga membuka peluang usaha skala kecil hingga menengah.
Kedua, memulai dari luas dan harga yang terjangkau. Kavling kecil menjadi pintu masuk yang realistis bagi investor pemula. Strategi ini membantu menjaga arus kas tetap sehat tanpa beban cicilan besar sejak awal, sekaligus memberi ruang bagi pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.
Ketiga, memastikan legalitas tanah. Status Sertifikat Hak Milik (SHM), kesesuaian tata ruang, dan ketiadaan sengketa menjadi syarat mutlak sebelum transaksi dilakukan. Legalitas yang jelas bukan hanya melindungi nilai investasi, tetapi juga mencegah konflik hukum di kemudian hari.
BACA JUGA:
Defisit APBN 2,92 Persen, Target Pertumbuhan 5,4 Persen - ibukotakini.com
Keempat, menghitung biaya tambahan sejak awal. Harga beli bukan satu-satunya komponen investasi tanah. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), hingga biaya administrasi lainnya perlu diperhitungkan agar proyeksi keuntungan tetap realistis.
Kelima, memanfaatkan skema kolektif atau bertahap. Bagi Gen Z dengan modal terbatas, patungan keluarga atau kerja sama investasi dapat menjadi solusi. Skema ini memungkinkan kepemilikan aset tanpa tekanan finansial berlebih, meski tetap memerlukan kesepakatan yang jelas untuk menghindari konflik di kemudian hari.
Dengan strategi yang terukur dan pemahaman risiko yang baik, tanah dinilai dapat menjadi fondasi awal menuju stabilitas aset. Di tengah tantangan ekonomi dan mahalnya hunian, investasi lahan menjadi cara baru generasi muda menyiapkan masa depan secara lebih pasti. ***
