
Gubernur Kaltim Prioritaskan KEK Maloy untuk Industri Kelapa Sawit
- Tolak Tawaran Kerja Sama dengan Provinsi Kaltara.
Kabar Ibu Kota
IBUKOTAKINI.COM – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud menegaskan pengembangan industri kelapa sawit lebih prospektif dilakukan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) di Kutai Timur.
Ia menolak tawaran kerja sama dari Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang menginginkan industri tersebut dibangun di wilayah mereka.
“Kaltara menawarkan kerja sama, tapi mereka ingin industrinya ada di sana. Tentu saya tidak mau,” ujar Rudy Mas'ud dalam pernyataan resmi yang dikutip Sabtu, 29 Maret 2025.
Menurut politisi Golkar ini, tawaran itu ditolak lantaran potensi besar perkebunan kelapa sawit di Kaltim. Saat ini, luas lahan operasional kelapa sawit di Kaltim telah mencapai 1,4 juta hektare, dengan jumlah pabrik pengolahan yang jauh lebih banyak dibandingkan Kaltara.
Menurutnya, KEK MBTK di Maloy memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat industri kelapa sawit, tidak hanya bagi Kaltim tetapi juga untuk wilayah sekitarnya.
BACA JUGA:
Nantinya, kawasan ini dapat menyerap produksi sawit dari Kaltara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah karena jaraknya yang relatif dekat.
Rudy Mas'ud menekankan bahwa pengembangan Maloy akan mengoptimalkan pemanfaatan aset-aset milik Pemerintah Provinsi Kaltim di KEK MBTK, yang selama ini belum berfungsi secara maksimal.
Jika tidak dikelola dengan baik, aset tersebut hanya akan menjadi beban daerah karena memerlukan biaya perawatan dan pengamanan.
“Makanya, saya mengarahkan mereka (Kaltara) agar berinvestasi ke Maloy saja,” tegasnya.
Ia juga meyakini bahwa Maloy memiliki prospek cerah jika dikelola dengan optimal. Kawasan ini terletak di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, jalur perdagangan internasional yang strategis.
BACA JUGA:
Jika investasi industri kelapa sawit berkembang di Maloy, berbagai manfaat ekonomi akan diperoleh, seperti peningkatan aktivitas ekonomi, pembukaan lapangan kerja baru, dan bertambahnya pendapatan daerah dari ekspor minyak sawit dan olein.
“Jika kawasan ini hidup, tentu akan menjadi sumber penting bagi peningkatan penerimaan daerah,” pungkasnya dengan optimisme. ***