Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud
Samarinda

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Incar Kakao dan Kelapa

  • Jadi Mesin Ekonomi Baru
Samarinda
Robi Sugiarto

Robi Sugiarto

Author

IBUKOTAKINI.COM - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mengarahkan strategi pembangunan sektor pertanian dan perkebunan sebagai fondasi ekonomi masa depan. 

Selain fokus pada pencetakan sawah baru seluas 20.000 hektare, Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud mendorong pengembangan komoditas kakao dan kelapa dalam.

“Apalagi, kakao Kutai Timur, Berau dan Mahakam Ulu itu salah satu yang terbaik di Indonesia,” kata Rudy Mas’ud dalam pernyataan resmi yang dikutip, Senin, 6 April 2026.

Menurutnya, pengembangan kakao dapat dilakukan melalui skema perhutanan sosial yang melibatkan kelompok tani dan masyarakat sekitar kawasan hutan. 

Upaya ini juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat, terutama dalam penyediaan bibit.

“Pusat siap bantu kita untuk pengadaan bibit dan semacamnya,” ungkapnya, merujuk hasil pertemuan dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Makassar.

Gubernur pun langsung menginstruksikan Dinas Perkebunan Kaltim untuk berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota yang memiliki potensi pengembangan kakao, seperti Kutai Timur, Berau, dan Mahakam Ulu.

BACA JUGA:

APBD Kaltim 2025 Melesat, Pendapatan Dekati Target - ibukotakini.com

Rudy optimistis, jika produksi kakao Kaltim meningkat secara signifikan, maka peluang masuknya investasi industri pengolahan akan terbuka lebar. 

Hal ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, baik di sektor hulu maupun hilir, termasuk distribusi.

Langkah ini dinilai sebagai strategi penting dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan di Kalimantan Timur.

Selain kakao, Gubernur juga menilai potensi pengembangan kelapa dalam, khususnya di wilayah pesisir dari Berau hingga Paser. 

Meski membutuhkan waktu panen relatif lama, yakni 6-8 tahun, tanaman ini dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi.

Sebagai alternatif percepatan produksi, ia menyarankan penggunaan kelapa hibrida (genjah) yang dapat dipanen dalam waktu 3–5 tahun.

BACA JUGA:

Pemprov Kaltim Kembangkan Desa Korporasi Ternak untuk Swasembada Sapi - ibukotakini.com

Rudy bahkan mencontohkan keberhasilan daerah lain dalam pengembangan komoditas kelapa.

“Saya dapat info dari Bu Sherly (Gubernur Maluku Utara), ekspor kelapa mereka bisa sampai Rp1,2 triliun. Saya minta segera koordinasi, kita tanam kelapa. Saya sarankan di pesisir, karena kelapa perlu garam,” ujarnya.

Pengembangan kakao dan kelapa ini menjadi bagian dari upaya transformasi ekonomi Kalimantan Timur. 

Selama ini, struktur ekonomi daerah masih didominasi sektor sumber daya alam tak terbarukan seperti minyak, gas, dan batu bara.

Dengan mendorong komoditas perkebunan bernilai tinggi dan berkelanjutan, pemerintah berharap tercipta sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih ramah lingkungan dan inklusif. ***