
Harga CPO Dunia Naik, Kok TBS Sawit Kaltim Malah Turun?
- Disbun Kaltim Minta Kemitraan Petani dan Perusahaan Ditingkatkan
Kabar Ibu Kota
IBUKOTAKINI.COM – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami penurunan pada periode 1–15 Oktober 2026, saat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global menguat.
Berdasarkan penetapan Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, harga TBS ditetapkan berdasarkan umur tanaman. Untuk sawit berumur 10–20 tahun, harga mencapai Rp3.542,60 per kilogram. Sementara itu, harga TBS dari tanaman berumur tiga tahun berada di level Rp3.110,61 per kilogram.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Arief Murdiyatno, menjelaskan penurunan harga TBS dipicu oleh turunnya harga CPO dan inti sawit (kernel) pada hampir seluruh perusahaan yang menjadi sumber data penetapan harga.
“Penurunan ini tentu berdampak langsung pada harga TBS yang diterima petani sawit di Kaltim,” ujar Arief dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).
Pada periode tersebut, harga rata-rata tertimbang CPO ditetapkan sebesar Rp15.218,80 per kilogram. Adapun harga rata-rata tertimbang kernel berada di angka Rp12.935,46 per kilogram.
Harga CPO Malaysia Menguat, Ekspor Sawit Melonjak
Di tengah penurunan harga TBS di Kaltim, pasar internasional justru menunjukkan pergerakan positif.
Harga kontrak berjangka CPO Malaysia untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menguat 50 ringgit atau 1,06 persen menjadi 4.775 ringgit per ton metrik pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
Sepanjang pekan tersebut, kontrak acuan CPO Malaysia telah menguat 3,99 persen. Kenaikan ini ditopang aksi beli saat harga melemah serta meningkatnya permintaan ekspor minyak sawit Malaysia.
Surveyor kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia selama 1–15 Oktober melonjak 43,2–58,3 persen dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.
Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menyebut aksi beli saat harga melemah dan peningkatan ekspor menjadi faktor yang mendorong penguatan harga CPO berjangka.
Permintaan dari India turut memberikan dukungan. Impor minyak sawit India pada September meningkat ke level tertinggi dalam tujuh bulan, seiring upaya perusahaan penyulingan mengganti minyak bunga matahari dengan minyak sawit.
Meski demikian, penguatan harga CPO masih menghadapi sejumlah tekanan, antara lain pelemahan harga minyak nabati pesaing dan penurunan harga referensi CPO Malaysia untuk November.
Mengapa Harga TBS Kaltim Bisa Turun?
Perbedaan arah pergerakan harga CPO global dan TBS di tingkat petani menunjukkan bahwa harga kedua komoditas tersebut tidak selalu bergerak sejalan dalam periode yang sama.
Penetapan harga TBS di Kaltim mengacu pada perhitungan harga rata-rata tertimbang CPO dan kernel dari perusahaan yang menjadi sumber data, serta ketentuan penetapan harga yang berlaku.
Karena itu, meskipun harga CPO berjangka Malaysia menguat pada perdagangan 16 Oktober, kenaikan tersebut tidak serta-merta langsung tercermin dalam harga TBS yang ditetapkan untuk periode 1–15 Oktober.
Perbedaan periode pengamatan dan dasar perhitungan menjadi hal penting untuk diperhatikan ketika membandingkan harga TBS di tingkat petani dengan pergerakan CPO di pasar internasional.

Disbun Kaltim Minta Kemitraan Petani dan Perusahaan Ditingkatkan
Arief menegaskan, daftar harga tersebut menjadi acuan bagi petani kelapa sawit yang telah bermitra dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit (PKS) di Kalimantan Timur, khususnya petani plasma.
Menurutnya, kemitraan antara kelompok tani dan perusahaan pengelola PKS perlu terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga TBS di tingkat petani.
“Dengan kemitraan yang baik, harga TBS di tingkat petani dapat lebih terjaga dan tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak,” katanya.
Penguatan kemitraan diharapkan dapat memberikan kepastian pemasaran hasil panen sekaligus meningkatkan posisi tawar petani dalam rantai perdagangan kelapa sawit.***
