Harga Emas Antam Hari Ini,  Cek Daftar Lengkap 19 Agustus 2026
Ekbis

Harga Emas Jatuh, Saat Tepat Borong atau Tunggu Lagi?

  • Simak penyebab pelemahan, dampaknya bagi investor, dan apakah ini saat tepat membeli emas.
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM - Harga emas global kembali tertekan dalam sebulan terakhir.

Logam mulia yang selama ini menjadi aset safe haven tercatat melemah hingga 4,7 persen dan kini bergerak mendekati level psikologis US$4.000 per troy ounce. 

Di pasar domestik, harga emas Antam juga ikut terkoreksi dan berada di kisaran Rp2,61 juta per gram. 

Pelemahan harga emas dipicu lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$90 per barel akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. 

Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat, sehingga pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/ihsg-cetak-kenaikan-mingguan-terbesar

Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Akibatnya, daya tarik emas sebagai aset tanpa bunga ikut berkurang sehingga harganya mengalami tekanan. 

Dalam sebulan terakhir, harga emas spot turun sekitar 4,7 persen. Bahkan hanya dalam sepekan terakhir, pelemahannya mencapai sekitar 2,5 persen. 

Harga emas kini bertahan di sekitar US$4.000,55 per troy ounce, mendekati level terendah dalam delapan bulan terakhir. 

Di Indonesia, harga emas Antam juga belum mampu bangkit. Logam mulia produksi Antam diperdagangkan di kisaran Rp2.610.000 hingga Rp2.614.000 per gram setelah sebelumnya sempat terkoreksi hingga Rp41.000 dari posisi tertingginya.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/telkomsel-cermad-bantu-umkm-samarinda-kuasai-digital-marketing-ai-2026

Mengapa Harga Emas Turun?
Tekanan terhadap emas berawal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Konflik yang melibatkan Iran dan serangan Amerika Serikat memicu gangguan pasokan energi global sehingga harga minyak Brent melonjak di atas US$90 per barel. 

Lonjakan harga minyak tersebut meningkatkan risiko inflasi dunia. Situasi ini membuat sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal kebijakan moneter yang tetap ketat atau hawkish. 

Suku bunga tinggi membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil. 

Sebaliknya, emas yang tidak menghasilkan bunga menjadi kurang diminati sehingga banyak investor memilih menjual kepemilikannya. 

Tekanan harga emas juga diperparah oleh melambatnya permintaan fisik dari dua pasar terbesar dunia, yakni China dan India.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/gas-blok-masela-diprioritaskan-untuk-pupuk-pln-dan-pgn

Apa Dampaknya bagi Investor?
Bagi investor yang membeli emas saat harga berada di puncak, nilai investasinya saat ini memang mengalami penurunan. Namun kondisi tersebut dinilai masih menjadi bagian dari fluktuasi normal pasar. 

Di sisi lain, koreksi harga justru membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap atau buy on weakness. 

Strategi ini banyak digunakan ketika harga aset mengalami penurunan, tetapi prospek jangka panjangnya masih dinilai positif.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memicu kenaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia apabila tren tersebut terus berlanjut. Kondisi ini dapat berdampak pada meningkatnya biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari. ***

 

Disclaimer: Informasi pada artikel ini hanya untuk tujuan informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat investasi. Setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah risiko Anda sendiri.