Petani kakao di Kabupaten Kutai Timur.
Kutai Timur

Harga Kakao Fermentasi Lebih Mahal Rp20.000 per Kg, Petani Mulai Beralih

  • Produk Kakao Diminati Pengusaha Bandung
Kutai Timur
Is Wahyudi

Is Wahyudi

Author

IBUKOTAKINI.COM – Petani kakao di Desa Karangan Ilir, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mulai beralih ke produksi biji kakao fermentasi setelah merasakan peningkatan nilai ekonomi yang signifikan. 

Selisih harga antara kakao fermentasi dan kakao nonfermentasi bahkan mencapai Rp20.000 per kilogram.

Perubahan pola produksi tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani di tengah besarnya potensi perkebunan kakao yang dimiliki desa tersebut. 

Saat ini, Desa Karangan Ilir memiliki lahan produktif kakao seluas 140 hektare dengan produksi mencapai 150 ton kakao kering per tahun.

BACA JUGA:

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Incar Kakao dan Kelapa - ibukotakini.com

Siasat Kutai Timur Hadapi Penurunan Industri Tambang Batu Bara - ibukotakini.com

Kepala Desa Karangan Ilir, Jabir, mengatakan tantangan utama yang dihadapi pemerintah desa saat ini bukan lagi meningkatkan produksi, melainkan meningkatkan kualitas hasil panen agar memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.

“PR besar kita ke depan adalah bagaimana produksi yang mencapai 150 ton per tahun itu semuanya bisa beranjak menjadi biji kakao fermentasi, seperti yang kita lakukan pengirimannya hari ini,” kata Jabir, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, upaya mengubah kebiasaan petani dari memproduksi kakao asalan menjadi kakao fermentasi telah dilakukan secara intensif selama dua tahun terakhir melalui edukasi dan pendampingan.

Hasilnya mulai terlihat. Jika sebelumnya tidak ada petani yang melakukan fermentasi, kini sekitar 30 hingga 40 persen petani kakao di Karangan Ilir telah beralih memproduksi kakao fermentasi.

BACA JUGA:

Tak Main-Main, Kutim Mulai Eksekusi Shifting Ekonomi dari Tambang ke Industri - ibukotakini.com

Pupuk Kaltim Awasi Langsung Distribusi Pupuk Bersubsidi di Kios Resmi - ibukotakini.com

“Dari yang tidak ada sama sekali, sekarang sudah meningkat menjadi 30 persen bahkan 40 persen petani yang sudah beralih,” ujarnya.

Jabir menjelaskan, peningkatan minat petani didorong oleh keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar. Biji kakao fermentasi memiliki kualitas premium yang dibutuhkan industri pengolahan cokelat sehingga dihargai lebih tinggi dibanding kakao biasa.

“Dari sisi peningkatan ekonominya luar biasa. Dari biji kakao asalan ke biji kakao fermentasi selisih harganya bisa sampai Rp20.000 per kilo,” ungkapnya.

Prospek pasar yang semakin terbuka juga menjadi pendorong percepatan transformasi tersebut. Saat ini, petani Karangan Ilir telah menjalin kerja sama pasokan rutin kakao fermentasi sebanyak 2 ton per bulan kepada PT Rasantara Citra Pangan di Bandung.

BACA JUGA:

DSI Diprediksi Amankan US$44 Miliar dari Penertiban Ekspor Komoditas - ibukotakini.com

Produk Sawit hingga Perikanan Kaltim Bidik Pasar Kazakhstan - ibukotakini.com

Pengiriman perdana sebanyak 2 ton kakao fermentasi tersebut menghasilkan nilai transaksi sekitar Rp200 juta, angka yang dinilai cukup besar untuk ukuran satu kali pengiriman dari tingkat desa.

“Yang kita lakukan pengiriman hari ini, 2 ton ini kalau diuangkan mencapai Rp200 juta,” kata Jabir.

Dengan potensi produksi mencapai 150 ton per tahun, pemerintah desa optimistis peralihan seluruh produksi kakao ke sistem fermentasi akan meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat posisi Kutai Timur sebagai salah satu sentra kakao berkualitas di Kalimantan Timur.***