
Harga Kalah dari Jawa, Ini Kiat Pemkab Kutim Dukung Peternak Ayam Lokal
- Dorong Pakan Lokal dan Diversifikasi Pertanian
Kutai Timur
IBUKOTAKINI.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat peternak ayam lokal di tengah tekanan harga ayam beku dari Pulau Jawa.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengatakan harga ayam beku dari Jawa saat ini sekitar Rp19.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan biaya produksi ayam lokal di Kalimantan Timur yang mencapai rata-rata Rp20.000 per kilogram.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengembangan peternakan ayam mandiri membutuhkan dukungan dan strategi khusus dari pemerintah daerah.
Salah satu persoalan utama adalah tingginya biaya pakan. Harga ayam dari Jawa lebih kompetitif karena didukung ketersediaan bahan baku pakan yang melimpah, seperti jagung, bekatul, serta sumber protein dari limbah industri pengolahan udang.
BACA JUGA:
Pabrik Pakan Ternak Rp8,3 Miliar Resmi Beroperasi di Kukar - ibukotakini.com
“Murahnya harga ayam dari Jawa karena bahan baku pakannya melimpah dan murah,” kata Mahyunadi saat menghadiri tasyakuran panen perdana ayam pedaging Koperasi Perhiptani Agro Bengalon di Desa Tepian Baru, Kecamatan Bengalon, Rabu (2/9/2026).
Dorong Pakan Lokal dan Diversifikasi Pertanian
Pemkab Kutim melihat penguatan peternakan tidak bisa dilepaskan dari sektor pertanian. Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan komoditas yang dapat menjadi bagian dari rantai pasok pangan lokal, termasuk jagung.
Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan karena masyarakat lebih memilih menanam kelapa sawit yang dianggap memberikan keuntungan lebih besar.
“Masyarakat selalu mengukur dengan sawit. Lebih untung mana sawit dengan jagung? Tidak mungkin kita memaksa masyarakat menanam sesuatu yang membuat mereka tidak lebih untung,” ujarnya.
BACA JUGA:
DPKH Kaltim Bakal Mencetak 237 Peternak Milenial - ibukotakini.com
Pemkab Kutim juga telah melakukan uji coba penanaman jagung, termasuk di lahan bekas tambang, dengan hasil yang dinilai cukup berhasil.
Di sektor padi, produktivitas juga menunjukkan perkembangan positif. Produksi rata-rata telah mencapai lebih dari 7 ton per panen, menyamai produktivitas sejumlah wilayah sentra pertanian di Pulau Jawa dan Sulawesi.
Siapkan Teknologi Irigasi Tenaga Surya
Dukungan terhadap petani dan peternak juga dilakukan melalui penguatan infrastruktur pertanian.
Untuk wilayah yang minim irigasi gravitasi, Pemkab Kutim menyiapkan sumur bor dengan pompa bertenaga surya atau solar cell.
Teknologi tersebut memungkinkan pompa bekerja secara otomatis ketika matahari bersinar, bertepatan dengan periode kebutuhan air tanaman yang tinggi.
BACA JUGA:
Langkah ini diharapkan membantu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketersediaan bahan baku pangan di daerah.
Koperasi Merah Putih Jadi Rantai Pasok
Strategi berikutnya adalah memperkuat sisi pemasaran melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Mahyunadi mengatakan koperasi tersebut diproyeksikan menjadi pusat penampungan hasil produksi masyarakat, mulai dari ayam beku, padi, hingga produk hortikultura.
Dengan begitu, hasil produksi petani dan peternak lokal tidak hanya diproduksi, tetapi juga memiliki jalur distribusi dan pasar yang lebih terorganisasi.
Modal Peternak Jadi Tantangan
Mahyunadi mengakui pengembangan peternakan ayam mandiri membutuhkan modal besar. Pembangunan kandang ayam skala mandiri diperkirakan memerlukan investasi sekitar Rp400 juta hingga Rp500 juta.
Dengan asumsi keuntungan bersih hanya sekitar Rp2.000 per ekor, peternak membutuhkan hingga 25 siklus panen atau sekitar tiga tahun untuk mencapai titik impas.
BACA JUGA:
Produksi Daging dan Telur Kaltim Naik, Sektor Peternakan Tumbuh 6,94 Persen - ibukotakini.com
Karena itu, penguatan ekosistem peternakan menjadi penting agar peternak lokal tidak hanya mengandalkan harga jual, tetapi juga memperoleh efisiensi dari sisi produksi, bahan baku pakan, hingga pemasaran.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi Pemkab Kutim membangun kemandirian pangan.
Sebab, ketergantungan terhadap pasokan dari Jawa dan Sulawesi dinilai memiliki risiko ketika terjadi gangguan distribusi akibat krisis global, konflik, maupun kondisi lainnya.
Namun, berbagai program tersebut kini harus berjalan di tengah keterbatasan fiskal karena APBD Kutim mengalami penurunan dari proyeksi sebelumnya.
Pemkab Kutim berharap kondisi anggaran kembali membaik sehingga program penguatan sektor pertanian, peternakan, koperasi, dan ketahanan pangan dapat dilaksanakan secara optimal.***
