
Harga Mulai Stabil, Inflasi Balikpapan Melandai Jadi 0,25 Persen
- Inflasi Balikpapan berada di atas nasional yang mencapai 2,88 persen
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Tekanan harga di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) mulai mereda pada Juli 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) Balikpapan mencatat inflasi 0,25 persen secara bulanan (mtm), sedangkan PPU sebesar 0,28 persen.
Meski masih mengalami inflasi, laju kenaikan harga di kedua wilayah tersebut melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga semakin terkendali, didukung kelancaran pasokan dan distribusi serta berbagai program stabilisasi pangan yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 3,06 persen (yoy), sedangkan PPU sebesar 2,34 persen (yoy). Inflasi Balikpapan berada di atas nasional yang mencapai 2,88 persen, sementara PPU masih di bawah angka nasional.
Kendati demikian, inflasi tahunan kedua daerah masih lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang mencapai 3,31 persen. Keduanya juga masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan Robi Ariadi menjelaskan kelompok Transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar di Balikpapan pada Juli 2026, dengan andil 0,31 persen (mtm).
Sejumlah komoditas yang memberikan tekanan terbesar adalah bensin, pelumas/oli mesin, bakso siap santap, pemeliharaan atau servis, serta sawi hijau.
BACA JUGA:
Tingkatkan Minat Baca Anak, Pertamina Donasikan Buku - ibukotakini.com
Kenaikan harga bensin berkaitan dengan penyesuaian harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.650 per liter sejak 10 Juni 2026, dari sebelumnya Rp12.600 per liter.
“Harga pelumas atau oli mesin juga meningkat seiring masih tingginya harga base oil sebagai bahan baku utama pelumas serta kenaikan biaya produksi,” ungkapnya pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Sementara itu, harga bakso siap santap terdorong kenaikan biaya bahan baku dan operasional. Kondisi serupa terjadi pada jasa pemeliharaan atau servis kendaraan akibat kenaikan harga suku cadang dan bahan pendukung.
Sawi hijau turut mengalami kenaikan harga akibat keterbatasan pasokan dan produksi yang dipengaruhi periode hujan, sehingga biaya usaha tani dan harga jual meningkat.
Di sisi lain, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi sumber deflasi terbesar di Balikpapan dengan andil 0,15 persen (mtm).
Lima komoditas yang memberikan tekanan deflasi terdalam yakni cabai rawit, tomat, emas perhiasan, bawang merah, dan angkutan udara.
BACA JUGA:
APINDO Investment Unit Buka Akses Investasi bagi Perusahaan Daerah - ibukotakini.com
Harga cabai rawit, tomat, dan bawang merah turun seiring meningkatnya pasokan dari sejumlah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi yang memasuki periode panen.
Ia menyebut harga angkutan udara juga menurun setelah adanya penurunan harga avtur untuk penerbangan domestik oleh Pertamina mulai 1 Juli 2026 sebesar 14 persen dibandingkan periode sebelumnya.
“Sementara harga emas perhiasan turun seiring melandainya permintaan global dan pergeseran sebagian investor ke instrumen komoditas selain emas,” tukasnya.
Meski inflasi Juli relatif terkendali, pihaknya mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi.
Masuknya musim kemarau pada triwulan III 2026 berpotensi memengaruhi produksi komoditas pertanian. Risiko tersebut dapat semakin besar apabila dampak El Nino lebih kuat dan mengganggu produksi pertanian di Jawa, yang menjadi salah satu sentra utama pasokan pangan strategis bagi Balikpapan, PPU, dan Paser.
Di sisi lain, lanjut Robi akselerasi operasional SPPG pada semester II 2026 juga berpotensi meningkatkan permintaan pangan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kesinambungan pasokan.
“Karena itu, bersama pemerintah daerah melalui TPID Balikpapan, PPU, dan Paser terus menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan,” imbuhnya. ***
