
Harga Plastik Naik, Pemerintah Lirik Bahan Baku dari Sawit
- CPO Potensial Gantikan Nafta Sebagai Bahan Baku
Tren
IBUKOTAKINI.COM - Kenaikan harga plastik akibat gejolak geopolitik global mendorong Kementerian Perindustrian mencari solusi jangka panjang.
Salah satunya melalui pengembangan bahan baku alternatif pengganti nafta berbasis crude palm oil (CPO) guna memperkuat ketahanan industri petrokimia nasional.
Kementerian Perindustrian terus mencermati dampak dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Selat Hormuz, terhadap rantai pasok bahan baku petrokimia dan industri plastik dalam negeri.
Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, Kemenperin telah mempertemukan pelaku industri dari sektor hulu hingga hilir, termasuk industri daur ulang plastik, guna merumuskan langkah mitigasi dan menjaga stabilitas pasokan.
BACA JUGA:
Harga Plastik Naik, UMKM Balikpapan Masih Aman? Ini Faktanya - ibukotakini.com
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, hasil pertemuan menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap ketersediaan stok plastik nasional.
“Kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Namun, pemerintah tetap memantau perkembangan global secara cermat,” ujarnya di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Meski demikian, Kemenperin mengakui adanya tekanan terhadap harga plastik di dalam negeri. Kondisi geopolitik di Selat Hormuz menyebabkan lonjakan biaya logistik, peningkatan freight, hingga gangguan distribusi bahan baku impor.
Dampaknya, waktu pengiriman bahan baku yang sebelumnya rata-rata 15 hari kini bisa melonjak hingga 50 hari. Situasi ini berimbas langsung pada peningkatan biaya produksi industri plastik nasional.
BACA JUGA:
Harga Plastik Naik, Penjual Gorengan Cari Cara Bertahan - ibukotakini.com
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah menegaskan pentingnya memperkuat kemandirian industri petrokimia dalam negeri. Ketergantungan terhadap bahan baku impor dinilai menjadi salah satu titik lemah yang harus segera diatasi.
Menurut Agus Gumiwang Kartasasmita, momentum ini menjadi peluang untuk mempercepat transformasi industri berbasis sumber daya domestik.
“Kita harus membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri agar ketergantungan impor terus berkurang,” tegasnya.
Selain itu, pelaku industri juga mendorong peningkatan perlindungan pasar domestik guna menarik minat investasi baru di sektor petrokimia.
BACA JUGA:
Biaya Produksi Naik, Pengrajin Tahu Pilih Tahan Harga demi Pelanggan - ibukotakini.com
CPO Jadi Alternatif Substitusi Nafta
Salah satu strategi yang mengemuka adalah pemanfaatan crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku alternatif pengganti nafta.
Opsi ini dinilai potensial untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat hilirisasi industri berbasis sumber daya alam Indonesia.
Meski demikian, pemerintah mengakui tantangan dari sisi keekonomian masih perlu dikaji lebih dalam, terutama terkait harga yang relatif lebih tinggi dibanding bahan baku konvensional.
“Seluruh potensi sumber daya nasional, termasuk CPO, harus dilihat sebagai alternatif bahan baku, meskipun perhitungan ekonominya perlu dilakukan secara matang,” jelasnya.
BACA JUGA:
Geopolitik Global Tekan UMKM Kaltim, Ini Strateginya - ibukotakini.com
Di tengah situasi global yang tidak menentu, persaingan memperoleh bahan baku petrokimia diperkirakan akan semakin ketat antarnegara.
Oleh karena itu, pelaku industri mengusulkan agar Indonesia memiliki akses terhadap bahan baku yang kompetitif, baik dari sisi kualitas maupun harga.
Kemenperin memastikan akan terus mendampingi industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional agar tetap kompetitif di tengah tekanan global.
“Pemerintah akan terus hadir bersama pelaku industri menghadapi dinamika global,” pungkas Menperin.***
