Harga Plastik Naik, UMKM Balikpapan Masih Aman? Ini Faktanya
Ekbis

Harga Plastik Naik, UMKM Tertekan dari Biaya Kemasan

  • kenaikan harga plastik mencerminkan struktur industri yang masih bergantung pada energi fosil
Ekbis
Is Wahyudi

Is Wahyudi

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Lonjakan biaya kemasan menjadi salah satu faktor yang menekan margin usaha, khususnya bagi bisnis makanan dan produk kebutuhan harian.

Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Secara fundamental, bahan baku utama plastik konvensional berasal dari minyak bumi dan gas alam.

Ketergantungan tinggi terhadap energi fosil membuat harga plastik sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia serta gangguan rantai pasok global.

Lebih dari 99 persen plastik konvensional diproduksi dari bahan fosil. Ketika harga minyak mentah naik, biaya produksi plastik ikut terdorong.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/harga-emas-antam-anjlok-banyak-pecahan-sold-out

Dampaknya menjalar dari sektor hulu hingga ke pelaku usaha di tingkat hilir, termasuk UMKM.

Proses panjang pembentukan plastik dimulai dari ekstraksi minyak mentah dan gas alam. Bahan tersebut kemudian melalui proses distilasi untuk menghasilkan nafta, yang menjadi bahan dasar pembentukan plastik. 

Selanjutnya, nafta diolah menjadi monomer seperti etilena dan propilena, sebelum melalui proses polimerisasi untuk menghasilkan polimer dalam bentuk biji plastik atau resin.

Biji plastik inilah yang menjadi bahan baku utama industri kemasan. Material tersebut kemudian dilelehkan dan dibentuk menjadi berbagai produk seperti kantong plastik dan botol melalui teknik manufaktur seperti injection molding dan ekstrusi.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/ekraf-balikpapan-petakan-781-pelaku-kreatif

Karena posisinya sebagai bahan dasar, harga biji plastik sangat menentukan harga produk akhir. 

Ketika harga resin meningkat, produsen kemasan akan menyesuaikan harga jual, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap biaya operasional UMKM.

Di pasaran, terdapat dua jenis biji plastik yang umum digunakan. 

Pertama, biji plastik virgin atau original yang berasal langsung dari minyak bumi dengan kualitas tinggi dan stabil. 

Kedua, biji plastik daur ulang yang berasal dari limbah plastik bekas, dengan harga lebih terjangkau namun kualitas yang bervariasi.

Kenaikan harga plastik menciptakan efek domino. Dimulai dari kenaikan harga minyak, berlanjut pada peningkatan biaya produksi resin, hingga akhirnya mendorong kenaikan harga kemasan.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/bank-indonesia-buka-jalan-umkm-wastra-dan-mamin-go-nasional

Kondisi ini membuat biaya operasional UMKM semakin besar, terutama bagi usaha dengan volume produksi tinggi.

Sebagai alternatif, bioplastik mulai dilirik sebagai solusi jangka panjang. Material ini berasal dari bahan nabati seperti jagung, singkong, dan tebu, serta dinilai lebih ramah lingkungan dan terbarukan.

Namun, saat ini harga bioplastik masih relatif lebih tinggi dibandingkan plastik konvensional.

Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik mencerminkan struktur industri yang masih bergantung pada energi fosil. 

Selama ketergantungan ini belum berkurang, fluktuasi harga diperkirakan akan terus terjadi.

Bagi pelaku UMKM, memahami rantai produksi plastik menjadi langkah penting dalam menyusun strategi adaptasi.

Mulai dari efisiensi penggunaan kemasan, pemanfaatan bahan alternatif, hingga inovasi desain kemasan yang lebih ekonomis dan berkelanjutan. ***