Harga Rumah Baru di Balikpapan Naik, Penjualan Anjlok 55 Persen
Ekbis

Harga Rumah Baru di Balikpapan Naik, Penjualan Anjlok 55 Persen

  • Rumah tipe kecil masih mendominasi pasar dengan pangsa penjualan sebesar 50 persen
Ekbis
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Harga rumah baru di Balikpapan pada triwulan I 2026 tercatat mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. 

Namun di tengah lonjakan harga tersebut, penjualan rumah baru justru merosot tajam hingga lebih dari 55 persen. 

Kondisi itu terungkap dalam hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dirilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) agregat pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 107,67 atau tumbuh 1,44 persen secara tahunan (year on year/yoy). 

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,43 persen (yoy). 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/triwulan-i-2026-realisasi-rumah-mbr-di-balikpapan-400-unit

“Kenaikan harga rumah baru terjadi pada seluruh tipe rumah, baik tipe besar, kecil, maupun menengah,” kata Robi Ariadi pada Jumat (29/5/2026). 

Menurut dia, rumah tipe besar mengalami kenaikan harga paling tinggi yakni mencapai 2,93 persen (yoy). Angka itu melonjak dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,27 persen. 

Sementara itu, rumah tipe kecil naik 1,85 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 0,14 persen. Adapun rumah tipe menengah naik paling rendah sebesar 0,38 persen (yoy). 

Bank Indonesia menilai kenaikan harga rumah baru dipicu penyesuaian harga oleh pengembang untuk mengakomodasi lonjakan harga bahan bangunan dan kenaikan upah tenaga kerja.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/rachmat-group-land-rayakan-25-tahun-tebar-promo-hingga-hadiah-umroh


Penjualan Rumah Baru Turun Drastis
 

Di sisi lain, kenaikan harga rumah berdampak terhadap penurunan daya beli masyarakat.

Volume penjualan rumah baru pada triwulan I 2026 tercatat hanya 72 unit, turun 55,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 162 unit. 

Penurunan ini bahkan lebih dalam dibandingkan triwulan IV 2025 yang turun 42,79 persen secara tahunan. 

Rumah tipe kecil menjadi segmen yang paling terdampak. Penjualannya turun dari 109 unit menjadi hanya 36 unit atau merosot 66,97 persen. 

Kemudian rumah tipe besar turun dari 32 unit menjadi 19 unit atau turun 40,62 persen. Sedangkan rumah tipe menengah turun dari 21 unit menjadi 17 unit atau terkoreksi 19,05 persen. 

“Penurunan penjualan dipengaruhi konsumen yang lebih fokus memenuhi kebutuhan Ramadan dan Idulfitri, serta kecenderungan menunda pembelian akibat kenaikan harga rumah,” ujar Robi. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/1000-rumah-di-kaltim-akan-direnovasi-gratis-ini-syaratnya

Meski demikian, rumah tipe kecil masih mendominasi pasar dengan pangsa penjualan sebesar 50 persen. Disusul rumah tipe besar 26 persen dan rumah tipe menengah 24 persen.
 

Developer Fokus Rumah Terjangkau 

 

Robi menyebut sejumlah pengembang tetap optimistis terhadap prospek pasar properti Balikpapan ke depan. 

"Strategi yang akan ditempuh di antaranya memperbanyak pembangunan rumah tipe kecil dan menengah yang lebih terjangkau," imbuhnya. 

Selain itu, developer juga mulai mengintensifkan promosi serta memperkuat inovasi desain rumah untuk menarik minat konsumen. 

Dari sisi pembiayaan, mayoritas pembeli rumah baru masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). 

Pangsa penggunaan KPR pada triwulan I 2026 mencapai 71 persen, meski turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 87,7 persen. 

Sementara pembelian secara tunai tercatat sebesar 15 persen dan tunai bertahap sebesar 14 persen.


Harga Properti Komersial Turun 

 

Berbeda dengan rumah baru, harga properti komersial di Balikpapan justru mengalami penurunan tipis. Berdasarkan Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom), Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) tercatat sebesar 105,70 atau turun 0,10 persen secara tahunan. 

Meski turun, laju penurunan tersebut lebih baik dibandingkan triwulan IV 2025 yang turun 0,36 persen. 

Perbaikan terutama ditopang sektor perhotelan seiring meningkatnya aktivitas pekerja proyek Kilang Pertamina Balikpapan dan pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Aktivitas MICE, perjalanan dinas, serta mobilitas pekerja dinilai ikut mendongkrak permintaan hotel dan properti komersial lainnya di Balikpapan. 

Bank Indonesia menilai prospek sektor properti Balikpapan masih cukup menjanjikan ke depan, terutama didukung proyek hilirisasi industri dan pembangunan IKN yang terus berjalan. 

Untuk mendukung pembiayaan sektor properti, Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong penyaluran kredit sektor perumahan. ***