
IHSG Belum Pulih, Investor Pemula Diminta Waspadai “Serok Bawah”
- Investor disarankan menggunakan pendekatan bertahap seperti dollar cost averaging (DCA), serta menghindari keputusan investasi berbasis kepanikan
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM - Saat IHSG ambruk ke level 6.400 pada Senin, 18 Mei 2026, Menteri Keuangan menyampaikan optimisme agar investor tidak takut membeli saham di harga rendah.
“Jangan takut serok ke bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari udah balik. Jadi jangan lupa beli saham,” ucapnya di Lanud Halim Perdanakusuma.
Namun sehari kemudian, Selasa, 19 Mei 2026, IHSG kembali dibuka melemah 0,46 persen ke level 6.568.
Pada sesi pertama, indeks bahkan sempat anjlok 3,08 persen ke level 6.396 sebelum sedikit pulih.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/harga-tbs-sawit-kaltim-tembus-rp-3-623-per-kg-dipicu
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan investor pemula, terutama terkait strategi “serok bawah” yang dinilai belum tentu aman dilakukan di tengah tekanan pasar saat ini.
Secara historis, strategi membeli saham saat pasar jatuh memang pernah menghasilkan keuntungan besar.
Saat krisis 2008, IHSG sempat turun ke kisaran 1.100 sebelum kembali naik ke 3.700 dalam dua tahun.
Begitu pula saat pandemi Covid-19 pada Maret 2020, ketika IHSG jatuh ke level 3.900-an lalu melesat menembus 7.000 pada 2021.
Namun kondisi pasar pada Mei 2026 dinilai berbeda. Hingga saat ini IHSG telah terkoreksi 23,68 persen sepanjang tahun berjalan, sementara aksi jual bersih investor asing mencapai Rp50,63 triliun sejak awal tahun.
BACA JUGA:
Tekanan datang dari sejumlah faktor sekaligus, mulai dari keluarnya enam saham besar Indonesia dari indeks MSCI, pelemahan rupiah ke level Rp17.730 per dolar AS, keputusan BI Rate yang belum diumumkan, hingga tensi geopolitik di Timur Tengah.
Saham-saham yang terdampak rebalancing MSCI seperti DSSA dan TPIA juga masih berada dalam tekanan jual.
Kedua saham tersebut sempat menyentuh auto rejection bawah (ARB) setelah dikeluarkan dari indeks MSCI, yang memicu aksi jual ETF global hingga 29 Mei mendatang.
Sebaliknya, sejumlah saham justru dinilai berpotensi mendapat aliran dana masuk akibat kenaikan bobot indeks, seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, dan TOWR.
BACA JUGA:
Investor juga diminta memperhatikan keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait BI Rate.
Dalam survei Reuters terhadap 29 ekonom, sebanyak 16 ekonom memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.
Kepala Ekonom menilai kenaikan suku bunga yang terukur dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, meski dalam jangka pendek berpotensi menekan pasar saham.
Sementara itu, analis menyarankan investor tetap fokus pada saham berfundamental kuat, valuasi murah, dan memiliki indikasi pembalikan tren.
Ia memperkirakan BI masih berpotensi menahan suku bunga di level 4,75 persen, yang dapat menjadi sentimen positif sementara bagi pasar.
Pelaku pasar juga diminta mencermati tiga katalis utama dalam waktu dekat, yakni keputusan BI Rate, perkembangan negosiasi AS-Iran yang memengaruhi harga minyak dan rupiah, serta sesi closing auction MSCI pada 29 Mei 2026.
Gubernur optimistis rupiah akan mulai menguat pada Juli-Agustus 2026 seiring meredanya kebutuhan dolar musiman untuk pembayaran dividen dan biaya haji.
“Dari tahun ke tahun rupiah itu memang umumnya dalam tekanan April, Mei, Juni. Tapi Juli-Agustus akan menguat,” kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin.
Di tengah volatilitas pasar, strategi serok bawah dinilai tetap relevan, namun bukan tanpa risiko.
Investor disarankan menggunakan pendekatan bertahap seperti dollar cost averaging (DCA), serta menghindari keputusan investasi berbasis kepanikan maupun FOMO. ***
