IHSG naik 1,93% ke level 6.525 pada pekan 18–21 Agustus 2026. Volume transaksi BEI melonjak 47,90% menjadi 50,30 miliar saham.
Ekbis

IHSG Berpeluang Tembus 6.258, Data The Fed dan Ekonomi Indonesia Jadi Penentu

  • Surplus Perdagangan Jadi Katalis Domestik
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang bangkit pada perdagangan pekan ini setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve atau The Fed pada Oktober.

Di dalam negeri, peluang penguatan IHSG juga ditopang sejumlah indikator ekonomi yang mulai menunjukkan perbaikan, mulai dari PMI Manufaktur Indonesia, surplus neraca perdagangan hingga inflasi yang relatif terkendali.

Praktisi pasar modal sekaligus Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, memperkirakan IHSG masih memiliki ruang untuk menguat, meski pergerakannya berpotensi terbatas.

Dalam risetnya, Senin (5/10/2026), Hans memperkirakan area support IHSG berada di 5.973–5.839, sedangkan resistance di 6.187–6.258.

BACA JUGA:

IHSG Rebound 0,46% Sehari Usai Reshuffle Prabowo

“Fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan pemulihan yang cukup baik. Hal ini menjadi salah satu faktor yang dapat menopang pergerakan pasar saham domestik di tengah ketidakpastian global,” ujar Hans.

Data AS Redakan Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed

Salah satu katalis eksternal yang dapat menopang pasar saham berasal dari Amerika Serikat.

Sejumlah data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan inflasi dan pasar tenaga kerja AS mulai melemah. Kondisi tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berkurang.

Hans menyoroti data nonfarm payrolls yang berada jauh di bawah perkiraan serta Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE) yang juga lebih rendah dari ekspektasi pasar.

BACA JUGA:

IHSG Sesi I Senin 28 September 2026 Turun 0,97% ke 6.181,43

Data nonfarm payrolls hanya menunjukkan penambahan 29.000 pekerjaan, sementara Core PCE pada Agustus naik 0,2 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan perkiraan 0,3 persen.

Pertumbuhan nonfarm payrolls bulan sebelumnya juga direvisi turun menjadi 133.000 pekerjaan.

“Data nonfarm payrolls yang lebih rendah dari perkiraan dan Core PCE yang juga berada di bawah ekspektasi menjadi perhatian utama pasar. Kedua data tersebut meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, meski peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih tetap terbuka,” kata Hans.

Ekonomi AS Masih Tumbuh

Di sisi lain, ekonomi AS belum menunjukkan perlambatan yang terlalu dalam.

Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II 2026 tercatat 2,2 persen, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 1,5 persen, meski lebih rendah dari estimasi sebelumnya 2,5 persen.

BACA JUGA:

Punya 31,8 Juta Investor, BEI Perketat Kepemilikan Saham

Aktivitas manufaktur juga masih berada di zona ekspansi. Indeks ISM Manufaktur AS tercatat 54,5, menunjukkan sektor tersebut masih mengalami pertumbuhan.

Kondisi tersebut membuat arah kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian utama investor global.

Yield US Treasury Jadi Risiko IHSG

Meski peluang penguatan IHSG terbuka, investor masih menghadapi sejumlah risiko eksternal.

Salah satunya berasal dari kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury yang dapat memberikan tekanan terhadap pasar saham global.

“Pergerakan pasar saham Asia cenderung bervariatif akibat fluktuasi tajam pasar obligasi global yang dipimpin kenaikan yield obligasi AS,” ujar Hans.

BACA JUGA:

Jababeka Kuasai 500 Hektare Lahan Industri di Kendal

Kenaikan yield obligasi AS dapat memengaruhi preferensi investor terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Tekanan juga datang dari Eropa. Hans memperkirakan inflasi di kawasan tersebut berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan sehingga membuka kemungkinan Bank Sentral Eropa (ECB) kembali menaikkan suku bunga.

Skenario tersebut menjadi risiko bagi pasar saham karena kombinasi inflasi dan suku bunga tinggi dapat menekan aktivitas ekonomi sekaligus valuasi aset berisiko.

PMI dan Surplus Perdagangan Jadi Katalis Domestik

Dari dalam negeri, sentimen justru relatif lebih positif.

PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 meningkat signifikan, sementara neraca perdagangan Indonesia pada Agustus kembali mencatat surplus.

Inflasi domestik pada September juga hanya mengalami kenaikan tipis.

Menurut Hans, kombinasi indikator tersebut memberikan sinyal pemulihan ekonomi sekaligus menopang stabilitas pasar keuangan domestik.

Sentimen positif lainnya datang dari pengesahan APBN 2027 dengan target defisit sebesar 2,4 persen terhadap PDB.

Kondisi fundamental tersebut menjadi salah satu alasan ruang penguatan IHSG masih terbuka pada pekan ini.

IHSG Hadapi Resistance 6.187–6.258

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, Hans memperkirakan IHSG masih memiliki peluang bergerak menguat.

Namun, investor tetap perlu mencermati level teknikal yang menjadi batas pergerakan indeks.

Support pertama berada di level 5.973, dengan support berikutnya 5.839. Sementara itu, area 6.187–6.258 menjadi resistance yang perlu ditembus apabila IHSG ingin melanjutkan penguatan.

Dengan demikian, arah IHSG pekan ini akan sangat dipengaruhi kemampuan pasar mencerna perkembangan kebijakan moneter AS sekaligus mempertahankan sentimen positif dari perbaikan fundamental ekonomi Indonesia.***