
IHSG Masih Downtrend, IPOT Rekomendasikan BBRI, TLKM, dan AADI untuk Pekan Ini
- IHSG turun 4,55 persen sepanjang pekan lalu dan masih berada dalam tren downtrend
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tren menurun atau downtrend.
Sepanjang periode perdagangan 22-26 Juni 2026, IHSG tercatat anjlok 4,55 persen ke level 5.896,134 dari posisi pekan sebelumnya di level 6.177.
Penurunan tersebut turut diikuti penyusutan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 4,51 persen menjadi Rp10.302 triliun.
Koreksi pasar dipicu aksi jual besar-besaran investor asing dengan catatan net foreign sell mencapai Rp3,19 triliun di pasar reguler.
Tekanan jual tersebut juga memangkas rata-rata frekuensi transaksi harian sebesar 22,95 persen menjadi 1,73 juta kali serta menurunkan volume transaksi harian sebesar 26,01 persen menjadi 25,18 miliar lembar saham.
Di tengah dominasi investor domestik yang menguasai 61,40 persen aktivitas pasar, sektor bahan baku atau IDX BASIC menjadi sektor dengan penurunan terdalam sebesar 12,81 persen.
Sebaliknya, sektor kesehatan atau IDX HEALTH yang naik 3,77 persen dan sektor konsumer non primer atau IDX NONCYC yang menguat 0,53 persen menjadi dua sektor yang mampu bertahan di zona hijau seiring rotasi modal ke saham-saham defensif.
Sentimen Global dan Domestik Masih Membayangi Pasar
Memasuki perdagangan 29 Juni hingga 3 Juli 2026, pergerakan indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan masih bergerak volatil dengan kecenderungan mixed setelah sepanjang pekan sebelumnya mengalami pergerakan variatif akibat rotasi sektor yang besar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan sentimen negatif berasal dari kekhawatiran perlambatan belanja infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran melambatnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menyusul laporan penundaan IPO OpenAI akibat volatilitas pasar yang langsung menyeret jatuh saham-saham cip utama seperti Micron, AMD, dan Intel, serta memicu aksi jual masif di bursa Asia dan Eropa termasuk koreksi harga komoditas logam," ujar Brigita, Senin, 29 Juni 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut menyebabkan indeks Nasdaq anjlok hingga 4,6 persen dalam sepekan setelah mencatat penurunan selama lima hari berturut-turut, sementara S&P 500 ikut melemah hampir 2 persen.
Sebaliknya, indeks Dow Jones justru mampu menguat 0,6 persen karena investor mengalihkan dana ke sektor defensif seperti kesehatan yang dipimpin oleh kenaikan saham Eli Lilly, konsumer primer, keuangan, dan utilitas.
"Meskipun ada sentimen positif dari membaiknya data sentimen konsumen dan inflasi AS, pasar tetap dibayangi kewaspadaan setelah Presiden Fed Minneapolis, Neel Kashkari, mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga akibat kembali munculnya ketegangan di Timur Tengah, serta penurunan harga minyak meski ada isu pelanggaran gencatan senjata oleh Iran," katanya.
Dari dalam negeri, pelaku pasar diperkirakan masih mengambil sikap wait and see menjelang berakhirnya semester pertama 2026.
“Di satu sisi, perhatian investor akan tertuju pada rangkaian data makroekonomi utama semester pertama, mulai dari inflasi, neraca perdagangan, tingkat kepercayaan konsumen, hingga keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia pada pertengahan Juli mendatang.”
"Di sisi lain, pemerintah mulai meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun melalui delapan program insentif guna menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua 2026," terang Brigita.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat upaya konsolidasi fiskal melalui efisiensi anggaran, termasuk rencana pengurangan alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), penghematan subsidi energi, serta berbagai langkah reformasi kebijakan yang dinilai dapat memperbaiki persepsi terhadap kondisi fiskal Indonesia.
"Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit, sehingga arah arus modal asing diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan pasar domestik," lanjutnya.
IHSG Diproyeksikan Uji Support 5.700-5.800
Brigita memprediksi IHSG pada pekan ini masih berada dalam tren turun jangka menengah meskipun sempat mengalami rebound dari level terendah 5.318 hingga 6.377.
Kondisi tersebut tercermin dari belum terbentuknya break of structure di atas area swing high sebelumnya, serta posisi penutupan indeks yang masih berada di bawah MA5, MA10, dan MA20.
Di sisi lain, pelemahan histogram positif MACD dan Stochastic RSI yang mulai bergerak di area pivot mengindikasikan momentum penguatan mulai terbatas sehingga IHSG berpotensi menguji area support di kisaran 5.700 hingga 5.800 pada pekan ini.
Selama area support tersebut mampu dipertahankan, pergerakan IHSG diperkirakan masih berkonsolidasi dalam rentang 5.500 hingga 6.400.
Adapun konfirmasi pembalikan tren menjadi bullish baru akan terbentuk apabila IHSG mampu menutup perdagangan mingguan di atas level 6.452. Dengan demikian, setiap penguatan sebelum level tersebut tercapai masih dikategorikan sebagai relief rally.
Rekomendasi Saham IPOT: BBRI, TLKM, dan AADI
Merespons kondisi pasar yang masih cenderung wait and see, IPOT yang telah dilengkapi fitur LADI (Live Action Done Indicator) merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk diperdagangkan pekan ini.
Fitur tersebut menyediakan data akumulasi dan distribusi saham secara real time sehingga investor ritel dapat memantau tekanan beli dan jual secara langsung serta membantu mendeteksi pergerakan smart money selama perdagangan berlangsung.
1. BBRI
Entry: 2.830–2.850
Target Price (TP): 3.030
Stop Loss (SL): 2.740
Secara teknikal, pergerakan jangka pendek BBRI menunjukkan struktur yang solid setelah berhasil bertahan tepat di atas area EMA5 dan diperkuat oleh indikator LADI yang mendeteksi adanya akumulasi.
Sentimen positif tersebut semakin diperkuat oleh data broker summary per 26 Juni 2026 yang mencatat aksi akumulasi asing atau foreign net buy sebesar Rp75,1 miliar sehingga berpotensi memicu technical rebound.
2. TLKM
Entry: 2.480
Target Price (TP): 2.760
Stop Loss (SL): 2.340
TLKM menunjukkan sinyal pembalikan arah atau reversal yang cukup kuat setelah candlestick harian terakhir membentuk pola Hammer pada area krusial yang divalidasi oleh munculnya sinyal Bullish Divergence pada indikator MACD.
Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan jual mulai jenuh dan momentum penguatan baru mulai terbentuk.
3. AADI
Entry: 8.050
Target Price (TP): 8.700
Stop Loss (SL): 7.750
Secara teknikal, pergerakan jangka pendek AADI menunjukkan struktur yang menarik setelah berhasil bertahan di atas area EMA5 sehingga membuka peluang besar untuk breakout dari fase konsolidasi.*
Disclamer:
Informasi ini bukan ajakan. Lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi
