Kantor pusat Bursa Efek Indonesia (BEI) di kawasan Senayan, Jakarta.
Ekbis

IHSG Masuki September 2026, Peluang Tembus 6.822 Terbuka, Waspadai The Fed

  • Saham AADI, ITMG dan TKIM Masuk Radar
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki September 2026 dengan momentum penguatan setelah mencatat kenaikan 4,52 persen sepanjang Agustus. Namun, investor perlu mewaspadai potensi peningkatan volatilitas yang dipicu kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta rebalancing indeks global.

IHSG mengakhiri perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026 di level 6.518. Posisi tersebut melanjutkan fase pemulihan setelah indeks sempat terkoreksi hingga level 5.317 pada Juni 2026.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah menilai penguatan IHSG selama dua bulan berturut-turut menunjukkan kembali terbentuknya buying bias sekaligus memperkuat momentum pemulihan pasar saham.

Memasuki September, Indo Premier memperkirakan prospek IHSG masih relatif konstruktif. Dukungan berasal dari pemulihan ekonomi domestik, stabilitas kebijakan moneter, proses suksesi Gubernur Bank Indonesia serta fundamental sejumlah emiten yang dinilai masih resilien.

IHSG Bidik 6.822

Dari sisi teknikal, IHSG telah menembus resistance 6.454 yang kini berpotensi berubah menjadi support jangka pendek. Resistance selanjutnya berada pada level 6.537, bertepatan dengan area Fibonacci retracement 0,5.

Apabila indeks mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang kenaikan menuju 6.822 semakin terbuka. Level tersebut merupakan area Fibonacci retracement 0,618.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support 6.454 dapat membawa IHSG kembali menguji level 6.243 yang menjadi area EMA50 sekaligus support berikutnya.

Secara keseluruhan, Indo Premier memberikan outlook neutral to bullish terhadap IHSG selama support 6.454 masih bertahan.

BACA JUGA:

‎IHSG Pekan Ini Diprediksi Menguat, Berpeluang Tembus 6.600 - ibukotakini.com

“Strategi yang dapat dipertimbangkan adalah akumulasi bertahap pada saham-saham dengan fundamental dan earnings growth yang solid, sembari menunggu konfirmasi breakout IHSG di atas area 6.537–6.551. Jika breakout tersebut terkonfirmasi, peluang melanjutkan recovery menuju 6.822 akan semakin terbuka,” kata Hari.

The Fed Jadi Risiko Pasar September

Meski tren IHSG membaik, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, menjadi salah satu risiko utama yang perlu dicermati investor.

Pasar global akan memperhatikan serangkaian indikator ekonomi AS, mulai dari PMI manufaktur, ADP Nonfarm Employment Change, JOLTS Job Openings, Initial Jobless Claims, PMI jasa, Average Hourly Earnings, Nonfarm Payrolls hingga tingkat pengangguran.

Data tersebut akan menjadi petunjuk bagi investor dalam membaca kekuatan ekonomi AS sekaligus memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed pada September.

Tekanan inflasi juga masih menjadi perhatian. Berdasarkan paparan Indo Premier, inflasi PCE berada di level 3,7 persen secara tahunan, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.

BACA JUGA:

BEI Tetapkan 3 Emiten sebagai Saham Hijau Perdana, Ada HGII, KEEN, dan TOBA - ibukotakini.com

Kondisi tersebut membuka kemungkinan kebijakan moneter ketat dipertahankan lebih lama apabila inflasi tidak menunjukkan perlambatan berarti.

Kebijakan yang lebih ketat berpotensi menopang dolar AS dan yield obligasi sekaligus memberikan tekanan terhadap aliran modal menuju pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Rebalancing MSCI dan FTSE Bisa Picu Volatilitas

Selain The Fed, investor juga perlu mengantisipasi arus dana asing yang berkaitan dengan perubahan komposisi indeks global.

Rebalancing MSCI mulai efektif pada 1 September 2026, sedangkan semi-annual review FTSE Russell dijadwalkan pada 21 September.

Menurut Indo Premier, sebagian ekspektasi perubahan konstituen maupun aliran dana asing memang telah tercermin dalam pergerakan pasar sepanjang Agustus. Namun, implementasi aktual rebalancing masih berpotensi meningkatkan volatilitas di sekitar tanggal efektif.

BACA JUGA:

Laba Bersih ANTAM Tembus Rp6,91 Triliun pada Semester I 2026, Naik 34 Persen - ibukotakini.com

Faktor domestik juga akan menjadi perhatian pelaku pasar. Investor menunggu data inflasi, inflasi inti, ekspor-impor serta neraca perdagangan Indonesia yang dijadwalkan dirilis 4 September.

Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi konsumsi, tekanan harga dan stabilitas sektor eksternal Indonesia sekaligus memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

Saham AADI, ITMG dan TKIM Masuk Radar

Di tengah kondisi tersebut, Indo Premier merekomendasikan strategi selective stock picking, terutama terhadap saham yang masih memiliki tren positif dan mendapatkan akumulasi dana.

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menjadi salah satu yang direkomendasikan. AADI berada pada harga Rp10.225 dengan target Rp10.525 dan stop loss Rp10.050. Indo Premier mencatat saham tersebut masih bergerak uptrend dengan indikasi akumulasi smart money dalam sepekan.

BACA JUGA:

Pos Indonesia Tak Bisa Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp11,65 Miliar karena Likuiditas - ibukotakini.com

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga masuk daftar rekomendasi dengan harga Rp25.650 dan target Rp26.425. Saham perusahaan batu bara tersebut disebut bergerak di atas EMA5 hingga EMA50 dengan indikasi akumulasi yang masih positif.

Sementara PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) direkomendasikan pada harga Rp8.050 dengan target Rp8.300. Saham TKIM dinilai masih berada dalam tren naik dan mulai mencatat akumulasi investor asing dalam sepekan terakhir.

Selain saham, instrumen obligasi PBS038 dengan YTM 7,09 persen dan PBS030 dengan YTM 6,50 persen juga masuk radar Indo Premier. PBS038 dinilai menawarkan imbal hasil kompetitif untuk tenor panjang, sedangkan PBS030 dapat menjadi alternatif bagi investor yang mengutamakan tenor lebih pendek.***